| 69 Views

ISPA dan Perlunya Pengurusan Kesehatan Terintegrasi dalam Sistem Islam

Ilustrasi anak terserang infeksi saluran pernapasan atas (ISPA)(Freepik)

Oleh : Siti Nurhasna Fauziah, S.Ag

Aktivis Muslimah dan Pemerhati Generasi

Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kota Bogor terus meningkat tajam. Berdasarkan pengamatan dari aplikasi Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR) Kota Bogor, tercatat sebanyak 195.203 kasus ISPA sejak awal Minggu ke-1 hingga Minggu ke-41. Angka ini menunjukkan bahwa ISPA telah menjadi persoalan serius yang membutuhkan perhatian dan penanganan komprehensif, bukan sekadar tindakan medis biasa. Pada berita berita dibawah ini dapat kita lihat bahwasanya.

Sehubungan dengan maraknya berita cuaca panas ekstrim dan peningkatan kasus ISPA di beberapa wilayah di Indonesia, dengan ini Dinas Kesehatan Bogor menyampaikan hal-hal sebagai berikut:

Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah infeksi yang menyerang saluran pernapasan bagian atas maupun bawah, seperti hidung, tenggorokan, dan paru-paru.

Penyakit ini berlangsung cepat (akut), biasanya kurang dari 14 hari, dan dapat menimbulkan berbagai gejala mulai dari ringan hingga berat.

ISPA disebabkan oleh virus atau bakteri. Penyebabnya antara lain:

• Virus: influenza, parainfluenza, rhinovirus, adenovirus, RSV (Respiratory Syncytial Virus), dan coronavirus.

• Bakteri: Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae, Mycoplasma pneumoniae, dan Bordetella pertussis.

Faktor lingkungan seperti polusi udara, asap rokok, debu, cuaca dingin, dan kepadatan hunian juga.(megapolitan.antarnews.com)

Sebagai respon atas terjadinya peningkatan kasus ISPA, Dinas Kesehatan Kota Bogor menghimbau puskesmas dan rumah sakit se-kota Bogor untuk meningkatkan sistem kewaspadaan dini dengan cara memantau tren ISPA di wilayah dan pelaksanaan promosi kesehatan tentang Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

Dinas Kesehatan Kota Bogor juga menghimbau kepada masyarakat untuk menerapkan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dengan cara menjaga kebersihan lingkungan dan ventilasi rumah, menghindari asap rokok dan polusi udara, serta memperkuat daya tahan tubuh dengan makan bergizi, cukup istirahat, menggunakan masker saat sakit, mencuci tangan pakai sabun secara rutin, serta menghindari kontak dekat dengan orang yang sedang sakit. Dan yang terakhir yaitu mendatangi fasilitas kesehatan terdekat jika mengalami gejala ISPA untuk segera diberikan tatalaksana pengobatan. (megapolitan.antarnews.com)

Upaya ini penting, namun disisi lain harus diakui bahwa himbauan tidak cukup untuk mengatasi akar masalah yang sebenarnya sifatnya struktural. Terkait masalah kesehatan masyarakat, termasuk ISPA, tidak hanya diselesaikan dengan PHBS saja, melaikan membutuhkan pengurusan yang terintegrasi dari berbagai aspek.

Seperti pengelolaan kebersihan dan sampah yang memang harus dilakukan oleh pemeritah secara menyeluruh, seperti tata ruang kota harus juga diatur agar tidak daling berdempetan serta sirkulasi udara yang baik. Dan jaminan kesehatan harus diberikan tanpa biaya agar semua warga bisa mendapatkan perawatan yang layak. Semua ini memerlukan sistem pemerintahan yang benar-benar mengabdi kepada rakyat, bukan sistem yang menjadikan pelayanan publik sebagai beban atau ladang bisnis.

Dalam sistem kapitalis yang berlaku saat ini, urusan seperti kebersihan, tata ruang, dan layanan kesehatan lebih banyak diserahkan kepada masyarakat atau pihak swasta. Pemerintah hanya berperan sebagai regulator, bukan pelayan. Kalaupun pemerintah turun tangan, sering kali rakyat diminta membayar kompensasi dalam bentuk pajak, iuran BPJS, atau biaya layanan. Prinsip “tidak ada yang gratis” menjadi bukti bahwa negara dalam sistem kapitalis tidak sungguh-sungguh mengurus rakyat, melainkan menjadikan rakyat sebagai sumber pemasukan negara.

Jika dalam Islam, yang dibawah naungan instansi daulah islam yaitu Khilafah, di mana penguasa diangkat untuk mengurusi urusan rakyat dengan ikhlas karena Allah. Negara Khilafah menjamin kebutuhan pokok rakyat, termasuk kesehatan, tanpa memungut bayaran. Sumber dana negara Khilafah berasal dari Baitul Mal, yang dibiayai melalui berbagai pos: harta milik umum (seperti tambang, minyak, dan gas), harta milik negara (fa’i, kharaj, jizyah), serta zakat yang dikelola secara syar’i. Dana inilah yang digunakan untuk membiayai pelayanan publik, termasuk pembangunan rumah sakit, pengelolaan lingkungan, dan penanganan wabah penyakit seperti ISPA. Dengan sistem ini, kesehatan bukan hanya urusan individu, tetapi menjadi tanggung jawab negara sepenuhnya sebagai bentuk pengabdian kepada Allah dan pelayanan kepada manusia.

Wallahu’alam bii sawwab


Share this article via

64 Shares

0 Comment