| 732 Views

Indonesia Juara Pengangguran, Kok Bisa?

Oleh : Ummu Hadid

Tingginya tingkat pengangguran di Indonesia, yang mencapai 5,2%, menjadi tantangan tersendiri bagi perekonomian negara.Dana Moneter Internasional (IMF) pada World Economic Outlook April 2024 menyatakan posisi ini tak berubah dari tahun lalu, namun angkanya lebih rendah yakni 5,3%. Kemudian Filipina berada di posisi kedua yakni 5,1%, disusul Brunei Darussalam yakni 4,9%, Malaysia 3,52%, Vietnam 2,1%, Singapura 1,9% dan Thailand 1,1%. (Okezone.co. 21/7/24)

Ada banyak penyebab tingginya pengangguran di Indonesia. Yang utama rendahnya minat pengusaha untuk membuka lowongan pekerjaan. Selanjutnya banyaknya syarat yang dikeluhkan misalnya terkait pengalaman kerja. Perusahaan biasanya ingin pelamar memiliki pengalaman kerja paling tidak 1-2 tahun dalam bidang serupa. Namun apabila seluruh perusahaan mewajibkan hal tersebut, maka takkan ada yang mau menerima calon pekerja yang belum punya pengalaman kerja sama sekali sebelumnya. Tingkat pendidikan, berpenampilan menarik  dan batas usia menjadi sorotan masyarakat belakangan ini juga mempengaruhi lowongan kerja,(CNBC Indonesia, 19 /7/ 2024 )

Menanggapi fakta tingginya pengangguran, Puan Maharani selaku ketua DPR RI menawarkan solusunya seperti memperbanyak investasi, medorong masyarakat untuk membuka UMKM. Mendorong sektor agrobisnis dan pertanian modern di pedesaan dapat menciptakan lapangan kerja, mengurangi urbanisasi yang berlebihan.

Namun hal itu berbalik dengan fakta dilapangan, tingginya investasi akan berbanding lurus dengan banyaknya pekerja asing yang datang ke indonesia, sekaligus menjadi saingan berat bagi warga asli indonesia. Sesuai dengan ungkapan Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah yang mengatakan penyebab kenapa RI dibanjiri TKA asal China. karena banyak investasi yang masuk ke Indonesia yang berasal dari China.
Untuk UMKM juga tidak mudah untuk memulainya, diperlukan ide yang inovatif, belum lagi masalah modal dan pendistribusian yang sulit.  Saingan yang berat dengan perusahaan besar yang memiliki modal yang besar dan pendisribusian barang lebih cepat menjadi masalah tersendiri bagi UMKM.

Minat generasi muda untuk terjun ke sektor agrobisnis juga berkurang karena berkurangnya lahan pertanian, mahalnya pupuk, ditambah impor bahan pertanian menjadi saingan berat bagi petani lokal.

Islam sebagai solusi
Dalam islam pemimpin atau negara menempatkan diri sebagai pengurus dan penjaga. Adanya dimensi akhirat pada kepemimpinan Islam membuat seorang penguasa akan takut jika zalim dan tidak adil kepada rakyat. Mereka akan berusaha maksimal mengurus dan menyejahterakan rakyat dengan jalan menerapkan syariat Islam sebagai tuntunan kehidupan. Ada beberapa cara yang mungkin dilakukan oleh pemimpin islam (Khalifah) dalam mengatasi pesoalan pengangguran.

Pertama, mencari nafkah bagi laki laki adalah wajib, maka negara akan membuka akses luas kepada sumber-sumber ekonomi yang halal, dan mencegah penguasaan kekayaan milik umum oleh segelintir orang.

Kedua, Negara pun dimungkinkan untuk memberi bantuan modal dan memberi keahlian kepada rakyat yang membutuhkan. Bahkan, mereka yang lemah atau tidak mampu bekerja akan diberi santunan oleh negara hingga mereka pun bisa tetap meraih kesejahteraan.

Ketiga, Layanan publik dipermudah, bahkan digratiskan sehingga apa pun pekerjaannya tidak menghalangi mereka untuk bisa memenuhi kebutuhan dasar, bahkan hidup secara layak. Dengan begitu, kualitas SDM pun akan meningkat dan siap berkontribusi bagi kebaikan umat.

Keempat, Islam juga melarang investasi bersyarat juga pengelolaan sumberdaya alam oleh asing, karena sejatinya SDA bersifat kepemilikan umum, yang wajib dikelola dengan baik oleh pemerintah. Sehingga akan membuka banyak lapangan pekerjaan dalam pengelolaannya. Karena bersifat kepemilikan umum maka hasil dari SDA akan dikembalikan lagi kepada rakyat berupa pelayanan publik, kesehatan, pendidikan dan lainnya.

Imam Syafii, sebagaimana yang dikutip oleh Imam al-Mawardi,  menyatakan: “Asal barang tambang ada dua. Apa yang zhâhir seperti garam yang dijumpai manusia di pegunungan, tidak boleh diberikan sedikitpun dan manusia berserikat atasnya. Demikian pula dengan sungai, air dan tanaman yang tidak dimiliki seseorang. Abyadh bin Hammal telah meminta kepada Nabi saw. agar diberi tambang garam Ma’rib. Lalu ia diberi. Namun, ketika dikatakan kepada beliau bahwa tambang itu seperti air yang mengalir, maka beliau menjawab, ‘Jika demikian, tidak boleh.’”

Terakhir, pengangguran tidak akan ada dalam islam, karena selain bekerja, ada kewajiban lain yang lebih penting yaitu berdakwah. Berdakwah dalam artian mentasqif atau membina umat untuk mengenal dan selalu terikat dengan hukum syara. Serta berdakwah mengenalkan islam kepenjuru dunia dan berjihad untuk menjadikan islam sebagai rahmat bagi seluruh alam akan menjadikan setiap orang dalam islam selalu aktif dan produktif.

Wallahu'alam


Share this article via

139 Shares

0 Comment