| 157 Views

Harga-Harga Melangit, Emak-Emak Menjerit!

Oleh: Erna Ummu Azizah

Lagi dan lagi. Kenaikan harga pangan masih terus terjadi. Mulai dari beras, daging ayam, telur, gula, bawang merah, bawang putih, dan lain-lain. Sebagaimana dikutip dari laman berita online, "Daftar harga bahan pokok (Bapok) di tingkat nasional mengalami kenaikan." (Kompas, 26/1/2024).

Sudah bisa dibayangkan, bagaimana respon para ibu alias emak-emak yang kian menjerit karena harus menelan pil pahit harga-harga yang terus melangit. Sudahlah biaya pendidikan, kesehatan, air, listrik, pulsa, transport dan kini beban mereka bertambah dengan naiknya harga bahan pokok.

Dan mirisnya, biaya hidup yang bertambah tidak sejalan dengan jumlah pemasukan. Ibarat lebih besar pasak daripada tiang. Akibatnya, para ibulah yang akhirnya menjadi korban. Pusing bukan kepalang, memikirkan bagaimana caranya agar dapur tetap ngebul. Sehingga tak sedikit yang akhirnya merelakan diri ikut banting tulang peras keringat. Membantu para suami mengais rezeki.

Kapitalisme, Sistem Zalim Menyengsarakan Rakyat

Beginilah kenyataan pahit hidup dalam sistem kapitalisme. Semua hal diukur dengan materi. Parahnya lagi, asasnya adalah sekulerisme, yaitu memisahkan agama dari kehidupan. Maka tak heran jika segala cara dihalalkan demi meraih apa yang diinginkan. Bagi yang lemah iman, kondisi seperti ini memicu stres dan depresi. Bahkan putus asa hingga berani melabrak rambu-rambu agama, hingga akhirnya maraklah kejahatan. Pencurian, perampokan, begal, prostitusi, peredaran narkoba, dan lain sebagainya.

Tentu hal ini tidak bisa kita biarkan. Karena sebagai masyarakat, penting sekali terpenuhinya kebutuhan sandang, pangan dan papan. Dan negara seharusnya menjadi pihak terdepan dalam mengupayakan. Tidak seperti dalam sistem kapitalisme, dimana negara hanya berfungsi sebagai regulator atau pembuat aturan saja, sedangkan pemenuhan kebutuhan pangan diambil alih oleh pihak swasta, begitupun masalah distribusi dan konsumsi.

Hal ini mengakibatkan harga pangan berada di bawah kendali korporasi (perusahaan besar), dimana mereka mencari keuntungan yang sebesar-besarnya. Sebagaimana dikutip dari www.greenpeace.org, "Perusahaan-perusahaan itu memiliki kendali yang semakin kuat atas sistem pangan global dan berhasil meraih keuntungan fantastis, terlihat dari total dividen mereka pada 2020 dan 2021 senilai US$53,5 miliar".

Maka tak heran jika kestabilan harga pangan sulit terwujud, karena kendali ada di tangan korporasi. Sedangkan rakyat hanya bisa dibuat dilema, jika punya uang silahkan membeli, jika tidak, maka bersiaplah gigit jari. Dari sini nampak jelas bahwa sistem kapitalisme sangat zalim, dan negara yang seharusnya bertanggung jawab justru berlepas tangan.

Jaminan Pemenuhan Pangan Dalam Sistem Islam

Berbanding terbalik dengan sistem Islam, dimana negara berperan penting dalam menjamin terpenuhinya kebutuhan pangan dengan jumlah yang memadai, berkualitas dan tentunya dengan harga yang terjangkau. Karena negara dalam sistem Islam berfungsi sebagai raa'in atau pengurus umat. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, "Imam (khalifah) adalah raa'in (pengurus rakyat), dan ia bertanggung jawab terhadap rakyatnya" (HR. Ahmad, Bukhari).

Adapun untuk mewujudkan terpenuhinya kebutuhan pangan, negara dalam sistem Islam akan menerapkan beberapa kebijakan, seperti menjaga ketersediaan stok pangan, misalnya dengan menjamin produksi pertanian dalam negeri agar berjalan maksimal. Jika stok belum memenuhi juga, maka barulah mengambil kebijakan impor.

Kebijakan berikutnya, yaitu negara akan menjaga perdagangan dan mencegah terjadinya penimbunan, praktik tengkulak, kartel dan riba. Negara akan menegakkan sistem sanksi yang tegas dan berefek jera. Bahkan menjaga agar pangan yang beredar adalah yang halal dan thayyib (baik). Tentunya hal ini tak lepas dari kebijakan negara yang senantiasa menjaga ketakwaan masyarakatnya, juga edukasi tentang syariat bermuamalah.

Sungguh kondisi seperti ini hanya akan terwujud jika sistem Islam diterapkan dalam kehidupan. Sehingga masyarakat pun mampu memenuhi kebutuhan pangan dan gizinya, tentunya dengan harga yang terjangkau hingga tak ada lagi cerita emak-emak menjerit akibat harga-harga melangit. Wallahu a'lam bish-shawab.


Share this article via

146 Shares

0 Comment