| 105 Views
Gencatan Senjata Hanya Tipu Daya
Oleh : Tsari
Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok
Gencatan senjata antara Zionis Yahudi dan Hamas yang baru-baru ini disepakati disambut dengan euforia oleh umat Islam di berbagai belahan dunia. Kesepakatan tersebut memberikan jeda bagi masyarakat Palestina dari serangan-serangan yang telah berlangsung lama.
Secara nyata, gencatan senjata memberi kesempatan bagi Muslim Palestina untuk sementara waktu terbebas dari kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh Zionis dan negara-negara pendukungnya, termasuk Amerika Serikat.
Meskipun membawa kelegaan sesaat, umat Islam perlu disadarkan bahwa gencatan senjata bukan solusi final untuk mengakhiri penjajahan dan genosida di Palestina. Konflik ini tidak akan benar-benar terselesaikan tanpa adanya perlawanan yang lebih mendasar.
Bukan Yahudi namanya jika tidak lekat dengan tipu daya. Selama operasi militer berlangsung, suara tembakan dan dengungan konstan dari drone terus terdengar di atas kamp-kamp pengungsi. Jalanan kota pun tampak sepi, hanya sedikit aktivitas warga yang berani terlihat. Ini sama saja dengan memindahkan lokasi sasaran tembak militer terhadap warga sipil. Saat Gaza mengalami gencatan senjata, di Tepi Barat serangan terhadap warga Palestina terus berlangsung.
Taktik ini memperlihatkan bagaimana strategi penjajah terus berjalan dengan berbagai cara. Meskipun ada kesepakatan gencatan senjata, namun pelanggaran hak asasi manusia terhadap rakyat Palestina tetap terjadi. Serangan dan pengusiran di Tepi Barat adalah bukti bahwa konflik ini belum berakhir.
Oleh karena itu, umat Islam harus tetap waspada dan terus memperjuangkan kebebasan Palestina dengan kesadaran penuh bahwa gencatan senjata hanyalah jeda sementara. Perjuangan yang lebih besar masih harus dilakukan demi keadilan dan kemerdekaan Palestina yang sesungguhnya.
Bulan Rajab dan peringatan Isra Mi’raj dipandang sebagai momentum penting bagi umat Islam untuk lebih memahami akar permasalahan penjajahan di Palestina. Selain itu, bulan ini juga menjadi pengingat akan kemuliaan tanah Palestina dalam sejarah Islam. Dalam rangka meningkatkan kesadaran akan pentingnya perjuangan membela Palestina, umat Islam di Indonesia memanfaatkan momen ini dengan menggelar aksi bela Palestina pada 26 Januari 2025. Aksi tersebut didorong oleh keimanan serta kepedulian terhadap penderitaan saudara-saudara Muslim di Palestina.
Jika kesadaran umat terhadap masalah Gaza semakin kuat, maka mereka akan semakin terdorong untuk turut berjuang dalam mewujudkan kebangkitan Islam. Kesadaran kolektif ini diharapkan dapat membawa umat Islam pada langkah konkrit dalam memperjuangkan solusi yang lebih fundamental. Untuk mencapai tujuan tersebut, umat membutuhkan kepemimpinan yang kuat dan jamaah dakwah ideologis yang mampu membimbing mereka menuju perubahan yang lebih besar.
Dengan adanya kesadaran dan kepemimpinan yang kokoh, perjuangan umat Islam dalam membela Palestina dan menegakkan keadilan dapat semakin terorganisir. Gencatan senjata ini bisa menjadi awal dari pergerakan yang lebih besar dalam memperjuangkan hak-hak Palestina dan menegakkan keadilan global.
Oleh karena itu, umat Islam perlu menyadari bahwa perjuangan membela Palestina bukan hanya sekadar solidaritas kemanusiaan, tetapi bagian dari kewajiban agama yang lebih besar. Dengan menghidupkan kembali semangat jihad dan menegakkan sistem Khilafah, umat Islam dapat memastikan bahwa keadilan, kedamaian, dan kebebasan benar-benar dapat terwujud di Palestina dan seluruh dunia Islam.