| 254 Views

Gen Z: Waktunya Melepas Belenggu Demokrasi dan Menyongsong Keadilan Islam

Oleh : Widya Rahayu 
Lingkar Studi Muslimah Bali

Menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2024, fenomena partisipasi pemilih pemula atau Gen Z (Generasi Z) menjadi sorotan utama. Berbagai upaya dilakukan oleh calon kepala daerah untuk menarik perhatian dan meraih dukungan mereka. 

Dari kampanye melalui media sosial hingga janji-janji untuk meningkatkan kesejahteraan Gen Z, semua dilakukan dengan harapan memenangkan hati generasi yang kini tengah memasuki usia dewasa dan menjadi bagian penting dari pemilih. Namun, di balik berbagai tawaran manis yang disampaikan, ada sebuah kenyataan pahit yang perlu disadari oleh Gen Z: dalam sistem demokrasi yang berlaku hari ini, mereka hanya dipandang sebagai alat untuk meraih kemenangan politik, tanpa jaminan perubahan yang signifikan dalam kehidupan mereka.

Dikutip Jakarta (ANTARA) - Partisipasi pemilih muda atau Generasi Z menjadi sorotan di momentum pesta demokrasi lantaran potensi mereka dalam membentuk dan memandang masa depan politik.
Komposisi pemilih terbanyak pada Pemilu 2024 Februari lalu di Indonesia yakni Gen Z dan Milenial. Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah menetapkan Daftar Pemilih Tetap (DPT) Pemilu 2024 sebanyak 204.807.222 pemilih.

Politik Demokrasi dan Gen Z: Sebuah Pemanfaatan

Kampanye yang menyasar Gen Z dalam Pilkada 2024 menggambarkan betapa pentingnya suara mereka dalam sistem demokrasi saat ini. Namun, setelah pemilu selesai dan para pemimpin terpilih, janji-janji manis yang diberikan kepada mereka seringkali berakhir dengan kekecewaan. Banyak yang menyadari bahwa dalam sistem demokrasi, pemilih terutama Gen Z, lebih sering dijadikan sebagai 'alat' untuk meraih kekuasaan dan keuntungan politik, bukannya sebagai elemen yang benar-benar dipertimbangkan dalam kebijakan yang ditetapkan. 

Seperti yang diungkapkan dalam berita, berbagai calon kepala daerah berlomba-lomba menarik perhatian Gen Z dengan menawarkan berbagai janji untuk kemajuan mereka, padahal setelah terpilih, perhatian terhadap nasib mereka seringkali terbengkalai. Bahkan, di banyak kasus, perubahan yang dijanjikan tidak pernah terwujud.

Fenomena ini mengungkapkan ketidakadilan struktural dalam sistem demokrasi yang sekuler, di mana rakyat, termasuk Gen Z, hanya dihargai saat dibutuhkan suara mereka, setelah itu nasib mereka kembali terlupakan. Dalam sistem yang berlandaskan pada demokrasi sekuler ini, politik lebih banyak berfokus pada kepentingan ekonomi dan kekuasaan, tanpa mempertimbangkan kesejahteraan rakyat secara menyeluruh.

Sekulerisme dalam Demokrasi dan Gen Z

Gen Z harus menyadari bahwa sistem demokrasi sekuler, meskipun menjanjikan kebebasan dan hak asasi manusia, sebenarnya memperlakukan mereka sebagai komoditas dalam persaingan politik. Dalam sistem ini, yang lebih diperhatikan adalah kepentingan ekonomi dan politik penguasa, bukan kesejahteraan dan kehidupan sosial yang adil bagi rakyat. Sebagai contoh, banyak pemimpin yang lebih mementingkan kebijakan yang mendukung industri dan sektor yang memberikan keuntungan ekonomi bagi mereka, sementara kebutuhan rakyat, termasuk Gen Z, seringkali diabaikan.

Selain itu, dalam sistem demokrasi sekuler, pemilihan umum sering kali hanya menjadi ajang untuk merebut kekuasaan antar partai politik, tanpa mengutamakan kepentingan umat secara menyeluruh. Hal ini terbukti dengan banyaknya janji yang tidak terealisasi, bahkan setelah masa jabatan selesai. Salah satu berita terkait Pilkada 2024 menyebutkan bahwa Gen Z memang dilibatkan dalam pemilu dengan berbagai ajakan untuk memilih, namun setelah itu, tidak ada jaminan bahwa nasib mereka akan berubah secara signifikan. Mereka hanya dipandang sebagai suara yang bisa memberikan keuntungan politik bagi calon pemimpin.

Kebutuhan untuk Menyadari Sistem Islam sebagai Solusi
Lantas, apa yang harus dilakukan oleh Gen Z agar tidak terjebak dalam pusaran politik demokrasi yang hanya menjadikan mereka alat kekuasaan? Jawabannya adalah dengan menyadari bahwa sistem yang diterapkan saat ini bukanlah sistem yang mampu membawa kesejahteraan secara menyeluruh. Gen Z perlu melek politik Islam dan memahami bahwa sistem pemerintahan yang berdasarkan pada aqidah Islam adalah satu-satunya jalan untuk mencapai kehidupan yang adil dan sejahtera.

Dalam sistem Islam, negara tidak hanya berfungsi sebagai alat untuk merebut kekuasaan, melainkan sebagai lembaga yang bertugas untuk menegakkan keadilan, menjaga kesejahteraan rakyat, dan memastikan bahwa setiap individu memiliki hak untuk hidup dengan sejahtera, tanpa memandang kelas sosial, latar belakang, atau jenis kelamin. Sistem Islam mengutamakan prinsip keadilan sosial yang tidak hanya melindungi hak-hak individu, tetapi juga memastikan bahwa kepentingan umat terjaga.

Sebagai contoh, dalam sistem pemerintahan Islam yang diterapkan dalam negara Khilafah, kesejahteraan rakyat dijamin melalui kebijakan yang berpihak pada kepentingan umat. Negara berfungsi sebagai pelindung bagi setiap warga negara, dengan memastikan bahwa setiap kebutuhan dasar masyarakat, seperti pangan, pendidikan, kesehatan, dan keamanan, dapat terpenuhi tanpa terkecuali. Tidak ada lagi ketimpangan sosial yang mencolok antara penguasa dan rakyat, dan tidak ada lagi kebijakan yang hanya menguntungkan segelintir orang atau kelompok tertentu. Negara Khilafah akan mengatur perekonomian berdasarkan prinsip keadilan, dengan meletakkan Islam sebagai dasar dari setiap kebijakan yang diambil.

Perjuangan Gen Z untuk Menegakkan Islam Kaffah
Sudah saatnya Gen Z tidak hanya menjadi penonton dalam kancah politik, tetapi juga aktif dalam memperjuangkan tegaknya sistem yang lebih baik, yaitu Islam Kaffah. Dalam perspektif Islam, politik tidak hanya berbicara tentang kekuasaan atau jabatan, tetapi tentang bagaimana umat manusia dapat hidup dalam keadaan yang adil, sejahtera, dan diridhai Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan lidahnya, dan jika tidak mampu maka dengan hatinya." (HR. Muslim). Hadis ini menunjukkan pentingnya peran umat, terutama generasi muda, dalam perubahan yang membawa kepada kebaikan. Gen Z memiliki potensi besar untuk menjadi agen perubahan yang membawa umat kepada kehidupan yang lebih baik dengan memahami dan memperjuangkan sistem Islam sebagai solusi.

Gen Z harus menyadari bahwa dalam sistem demokrasi yang diterapkan saat ini, mereka hanya menjadi alat dalam permainan kekuasaan yang tidak memberikan dampak nyata bagi kehidupan mereka. Untuk itu, sudah saatnya mereka memahami bahwa solusi sejati untuk kesejahteraan umat dan generasi mendatang adalah dengan menerapkan politik Islam dalam sistem pemerintahan. Politik Islam menawarkan sebuah model pemerintahan yang adil dan sejahtera bagi seluruh umat, yang berlandaskan pada prinsip-prinsip Islam yang universal dan tidak terbatas pada kepentingan segelintir orang atau kelompok tertentu. Saatnya Gen Z bergabung dalam perjuangan untuk menegakkan Islam Kaffah dan memastikan masa depan yang lebih baik bagi umat.


Share this article via

124 Shares

0 Comment