| 25 Views

Urbanisasi untuk Merubah Nasib di Kota, Solusikah?

Foto: Antara/ Vitalis Yogi

Oleh: Lilik Setiawati

Muslimah Peduli Generasi

Arus balik Lebaran 2026 diprediksi lebih besar daripada tahun lalu. Tradisi mudik dengan arus balik yang semakin ramai dari tahun ke tahun membuat para pemudik membawa serta keluarganya untuk ikut ke kota demi mencari pekerjaan yang layak. Sebagian besar mereka berpikir di desa pekerjaan sulit didapat dan gaji kecil. Mereka berbondong-bondong pergi dari desa, bahkan dengan modal nekat.

Sulitnya perekonomian saat ini begitu besar dirasakan hampir di semua kalangan, terutama masyarakat menengah ke bawah. Sekarang hidup semakin susah; biaya hidup mahal, mulai dari harga sembako, biaya pendidikan, kesehatan, dan lain-lain. Semua ini menyebabkan penduduk desa banyak yang berpindah ke kota, dari yang tidak lulus SD sampai yang bergelar sarjana. Mereka rela meninggalkan kampung halaman dan keluarga hanya untuk mencari pekerjaan yang layak, guna memenuhi kebutuhan hidup.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada tahun 2025, migrasi risen neto tercatat sekitar 1,2 juta jiwa, menandakan arus masuk ke kota lebih besar daripada arus keluar. BPS juga mencatat penduduk Indonesia yang mencapai 287,6 juta jiwa; sekitar 54,8% tinggal di kota dan sisanya tinggal di pedesaan (MetroTV.com, 27/3/2026).

Seharusnya, di zaman canggih sekarang ini, di seluruh pelosok Indonesia, dengan gelar sarjana yang disandang generasi muda, mereka bisa berkarya di desa masing-masing. Para bapak yang masih produktif bisa mengelola hasil bumi untuk swasembada pangan dan memenuhi kebutuhan hidup. Namun, sangat ironis desa yang begitu subur tidak bisa memberikan kehidupan yang layak untuk penduduknya. Gelar sarjana seharusnya bisa membangun desanya tanpa harus pergi ke kota. Namun, apa daya, semua ini terjadi karena sistem kapitalis yang diterapkan saat ini.

Banyaknya anak muda yang pergi ke kota membuat desa kehilangan sumber daya manusia muda. Pedesaan menjadi sepi, sepi pembangunan, dan banyak lahan kosong terbengkalai. Hal ini bertolak belakang dengan kota Jakarta yang semakin gemerlap, dengan banyak gedung pencakar langit yang menjulang tinggi. Yang paling fenomenal, semakin padatnya penduduk membuat kemacetan yang susah diatasi, ditambah pencemaran udara akibat banyaknya pabrik industri.

Kapitalisme membuat kesenjangan tampak mencolok antara kota dan desa. Ibu kota yang gemerlap dan desa yang masih sama dari masa ke masa; banyak juga daerah yang terpelosok ditinggalkan penduduknya karena memang tidak ada kehidupan di sana. Miris, negara yang kekayaan alamnya tersohor hingga mancanegara, tetapi rakyatnya masih hidup dalam kemiskinan.

Sekuler kapitalisme yang diterapkan saat inilah biang semua permasalahan, karena sistem ini jauh dari syariat Allah Azza wa Jalla. Bukan hanya masalah ekonomi yang sulit, tetapi pendidikan, kesehatan, dan semua aspek kehidupan tidak ada yang mudah. Masyarakat menengah ke bawah kini semakin menderita; banyak keluarga terjebak riba karena bersangkutan dengan bank konvensional, yang menyebabkan utang tak kunjung lunas.

Masalah ini akan bertambah parah. Anggaran negara untuk pembangunan Jakarta, yang dikenal dengan Jakarta sentris dan kota sentris, terlalu banyak dana yang dikeluarkan. Padahal, setiap daerah, termasuk pedesaan di seluruh pelosok negeri ini, juga membutuhkan dana untuk memajukan daerahnya masing-masing. Namun, semua ini justru terabaikan.

Sebenarnya, ada program ekonomi untuk desa seperti Badan Usaha Milik Desa. Sayangnya, pengelolaannya tidak efektif, dikarenakan program yang dijalankan hanya menjadi pencitraan aparat desa yang tidak bertanggung jawab. Yang terjadi, bukannya desa yang penduduknya maju, tetapi malah membuat usaha tidak berkembang. Banyak dana yang masuk ke kantong segelintir pihak.

Hal yang tidak baik saat ini adalah akibat dari penerapan sistem sekuler kapitalis, sistem yang memaksa manusia untuk tunduk pada hawa nafsu, yang menyebabkan kerusakan, kejahatan, dan ketidakadilan semakin merajalela. Sistem ini melahirkan kebebasan bagi masyarakat hingga melupakan aturan agama, halal dan haram.

Berbeda dengan sistem Islam, yang segala aspek kehidupan diatur oleh aturan Islam, perekonomian, pendidikan, kesehatan, dan politik untuk mewujudkan kehidupan yang adil dan sejahtera bagi seluruh individu, bahkan yang bukan muslim sekalipun, hingga ke seluruh pelosok negeri. Islam akan memberikan jaminan pemenuhan kebutuhan bagi seluruh rakyatnya. Semua bidang akan ditangani oleh orang yang amanah sesuai keahliannya.

Sektor pertanian dan sumber daya alam dikelola dengan baik untuk kemaslahatan umat. Kondisi ini akan memberikan peluang lapangan pekerjaan di pedesaan agar urbanisasi tidak terjadi. Semua ini akan terwujud jika kita kembali menerapkan sistem Islam secara kaffah. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Surah Al-Baqarah ayat 208:

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan (kaffah) dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu.”

Kembali kepada penerapan syariat Islam secara kaffah yang mampu memberikan solusi untuk persoalan kehidupan.

Wallahu a’lam bishawab.


Share this article via

4 Shares

0 Comment