| 330 Views

Teknologi Digital, Bisakah Menyejahterakan Petani?

Oleh : Ummu Fauzi
Pegiat Literasi

Pemerintah Daerah  Kabupaten Bandung mengenalkan sistem pertanian berbasis teknologi kepada para petani di Desa Ciparay,  yaitu  pemupukan padi dengan menggunakan drone. Drone ini dilengkapi dengan wadah penampungan pupuk cair.  Yang digunakan adalah pupuk cair NPK Phonska Alam. Drone tersebut diuji coba di atas lahan pertanian, terbang di berbagai area yang diinginkan untuk pemupukan melalui jalur udara.

Ridwan Senjaya  seorang petani  mengatakan, adanya teknologi tersebut membantu para petani, terutama untuk regenerasi petani seiring perkembangan. Dengan adanya drone tersebut bisa memudahkan dalam masa tanam, bisa mengurangi ongkos atau biaya tani karena sekarang sudah sulit mencari petani baru. Namun petani tidak bisa membeli alat tersebut karena mahal dan hanya mampu menyewa. (detikjabar,21/06/2024)

Teknologi, khususnya dalam bidang pertanian sangat membantu para petani  untuk memudahkan dan mempercepat serta menghemat waktu dalam mengolah lahannya. Mengingat  pertanian adalah  sektor yang sangat penting dalam menghasilkan bahan pangan yang merupakan kebutuhan pokok bagi masyarakat. Selain alat tersebut masih banyak alat-alat pertanian yang berbasis teknologi seperti:  Indo Combine Harvester  adalah mesin panen modern yang menggunakan berbagai fitur canggih untuk meningkatkan efesiensi  dan produktivitas dalam proses panen. Transplanter, mesin  penanaman. Alat ini tentunya tidak hanya meningkatkan kecepatan penanaman, tetapi juga memberikan kemudahan dalam menajemen penanaman. See and Spray merupakan perpaduan antara kecerdasan buatan (AI) dengan pengendalian gulma  dan pupuk. Robat Le Chevre, alat ini merupakan salah satu contoh inovasi teknologi pertanian yang menggunakan robot dalam pemeliharaan tanaman. Traktor Otonom, kehadiran mesin ini sangat berguna dalam meminimalkan ketergantungan pada tenaga kerja  manusia  karena dapat mengolah tanah secara otomatis, dan lain lainnya. 

Semua peralatan canggih tersebut bisa dimanfaatkan petani untuk meningkatkan hasil produksinya. Untuk bisa memanfaatkan alat tersebut tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Tanggung  jawab negaralah dalam menyediakannya.

Pemanfaatan teknologi  modern  pertanian memang banyak gunanya, bisa  meningkatkan produktivitas tenaga kerja,  lahan dan menurunkan ongkos produksi. Bahkan teknologi ini  jika digunakan secara bijak akan membantu dalam hal ketahanan pangan dalam negeri bahkan bisa diekspor keluar  dan bisa membuat petani sejahtera. Namun kecanggihan teknologi tidak cukup tanpa  peran negara untuk mewujudkannya. Karena semua ini adalah tanggung jawab dan kewajiban negara untuk menyediakannya. Jangan sampai petani hanya dibebani dengan program-program tanpa disertai  dengan pendanaan dan fasilitas.

Jadi untuk menjadikan teknologi itu bermanfaat bagi petani dan kedaulatan negara dari aspek pangan,  maka negara harus turun tangan langsung  dalam proses produksi di lahan para petani.  Dan juga yang tidak kalah penting adalah pengendalian dan penanggulangan hama dan penyakit tanaman. Pemerintah harus memantau langsung dalam setiap fase pertumbuhan tanaman sehingga diketahui kebutuhan pupuknya dan juga dilakukan antisipasi dini jika ada serangan hama dan penyakit. Kemudian pemerintah juga memperhatikan penanganan pasca panen, infrastruktur, sarana dan prasarana pertanian. Selain itu penyuluhan dan edukasi dilakukan kepada para petani  dalam pengoperasian alat-alat canggih tersebut.
Sumber daya alam yang sangat melimpah di negara ini sangat cukup untuk membiayai dan menyediakan alat dan mesin industri agar kebutuhan pangan dalam negeri terpenuhi bahkan mampu swasembada pangan.  Kekayaan alam seperti barang tambang berupa gas alam, minyak bumi, batu bara, emas, hutan, serta laut  seharusnya dikelola oleh negara agar menjadi sumber keuangan utama  dalam memenuhi hajat publik.

Upaya-upaya di atas akan terwujud nyata apabila negara tidak berlandaskan kapitalisme dalam berbagai kebijakannya  baik ekonomi, politik, sosial, industri, kesehatan, keamanan dan lainnya.  Karena kapitalisme  membuat peran negara yang seharusnya  mengurusi rakyat hanya sebatas regulator. Kebijakan yang dibuat justru hanya menguntungkan kaum kapital. Banyak  perusahaan swasta yang justru menguasai  industri pangan, seperti  beras, minyak sawit dan kebutuhan pokok lainnya. 

Dalam Islam, teknologi berfungsi sebagai alat untuk memudahkan dan membantu  aktivitas manusia yang bermanfaat; sebagai alat untuk mengekplorasi  kemajuan dakwah  Islam; serta sarana untuk mengenal Allah.  Akidah Islam harus dijadikan basis segala konsep dan aplikasi Iptek. Islam tidak pernah mengekang umatnya untuk maju dan modern. Iptek tidak boleh dipandang sebagai  sesuatu yang bertentangan dengan agama sebaliknya Iptek harus digunakan untuk mengembangkan kehidupan secara harmonis dengan agama dan nilai moral.

Teknologi dalam Islam justru akan membantu dan mempermudah negara dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat khususnya petani. Petani adalah profesi yang sangat mulia dan diapresiasi keberadaannya  oleh Islam. Rasulullah saw bersabda: “Tidaklah seorang muslim yang menanam tanaman atau bertani kemudian burung, manusia ataupun binatang ternak memakan hasilnya, kecuali semua itu  merupakan  sedekah baginya.” (HR. Bukhari)

Sumber pendaanan dalam Islam diperoleh dari harta milik negara dan milik umum yang berupa kekayaan  sumber daya alam  yang melimpah yang dikelola oleh negara.  Hasil dari pengelolaan tersebut dipergunakan untuk memenuhi kesejahteraan rakyatnya.

Maka hanya dalam sistem Islam teknologi dan tanggung jawab negara bisa menyejahterakan masyarakat termasuk para petani. Islam memandang sektor pangan adalah sebagai sektor yang sangat urgen, mengingat  pangan adalah salah satu kebutuhan mendasar manusia.

Wallahu a’lam bishawwab.


Share this article via

109 Shares

0 Comment