| 30 Views

Profile : Jimmy Candra: Dari “Alumni Cinta Quran Center” ke Digital Adspreneur yang Mengikhlaskan Ilmu Iklan untuk Saling Memberdayakan

Ada orang yang belajar iklan demi angka. Ada juga yang belajar iklan demi arah. Bagi Jimmy Candra, digital advertising bukan sekadar tombol “boost”, bukan pula sekadar teknik menaikkan traffic. Ia melihat iklan sebagai alat perjuangan: cara modern untuk menyampaikan pesan, menguatkan bisnis, dan membantu produk-produk yang membawa visi Islami agar sampai ke lebih banyak orang.

Di Instagram, ia dikenal lewat akun @jimcand (terverifikasi) dengan identitas: Jimmy Candra, CDMS. | Digital Adspreneur. Namun di balik nama itu, ada perjalanan yang cukup humanis: dari lingkungan pembinaan yang dekat dengan Al-Qur’an, sampai berada di lapangan sebagai advertiser—mendampingi brand, termasuk di sektor properti, yang ingin bertumbuh dengan nilai.

Berangkat dari Lingkungan Al-Qur’an

Jimmy adalah alumni Cinta Quran Center yang didirikan oleh Ustadz Fatih Karim dan Tim Cinta Qur'an Foundation — sebuah latar pendidikan yang juga membentuk cara pandangnya. Bukan cuma soal skill, tetapi soal niat dan tujuan hidup “untuk apa” sebuah keahlian digunakan.

Di era ketika banyak orang menguasai teknologi untuk sekadar viral, Jimmy memilih jalur yang berbeda: menguasai iklan untuk membantu lahirnya dampak, membantu usaha yang baik mendapatkan panggung yang pantas, dan ikut menguatkan ekosistem bisnis yang sejalan dengan nilai-nilai Islam.

Advertiser Properti dan Produk Bervisi Islami

Awalnya ia belajar dari banyak guru tentang digital marketing, dan sudah setahun ini sejak Februari 2025, ia terus mengasah diri bersama tim Asosiasi Marketer Real Estate Indonesia (AMREI) yang diasuh oleh Coach Risky Irawan.

Hari ini, Jimmy aktif sebagai advertiser yang menangani produk properti dan berbagai produk yang membawa visi Islami. Ia bukan tipe yang berhenti di “klik, pasang budget, jalan”. Ia memahami bahwa iklan adalah bagian dari strategi: bagaimana pesan dibangun, bagaimana trust dibentuk, bagaimana orang merasa aman sebelum memutuskan membeli.

Itulah mengapa ia dikenal sebagai praktisi yang juga gemar mengedukasi: karena ia tahu, banyak bisnis bagus gagal bukan karena produknya jelek, tetapi karena tidak tahu cara menyampaikan nilai dan diferensiasinya dengan benar. 

Misi Besar: Membantu 10.000++ Orang “Jago Ngiklan”

Di bio akun @jimcand, Jimmy menuliskan target yang terdengar berani: mau bantu 10.000++ orang jago ngiklan.

Kalimat itu bukan sekadar angka. Ia seperti kompas. Jimmy ingin skill iklan tidak hanya dikuasai segelintir orang, tapi bisa jadi senjata ekonomi untuk banyak orang—terutama mereka yang baru memulai, yang selama ini takut boncos, takut salah langkah, takut “kalah modal”.

Ia bahkan menegaskan: “Belajar dari Nol di sini!”—seakan ingin berkata: kalau kamu pemula, kamu tetap boleh mulai.

Mengajar dengan Bahasa Gen-Z

Yang membuat Jimmy dekat dengan audiensnya adalah gayanya: tidak menggurui, tidak rumit, tidak penuh istilah yang membuat orang pusing. Kontennya cenderung edukatif dan praktis—step by step, bisa langsung dicoba.

Ia memahami bahwa banyak pebisnis kecil, marketer pemula, dan pelaku UMKM tidak butuh teori panjang. Mereka butuh arah yang jelas: apa yang harus dikerjakan hari ini agar besok ada hasil.

Membangun Ekosistem

Di profilnya, Jimmy juga menuliskan keterlibatan membangun beberapa brand/komunitas, termasuk @halalestate.id dan @jago_dm. Ini memperkuat posisinya sebagai seseorang yang tidak hanya “ngonten”, tapi juga membangun ekosistem kerja yang nyata.

Selain itu, ia mencantumkan kredensial sebagai Certified BNSP Digital Marketing Specialist, menandakan kompetensi yang tidak hanya diakui melalui praktik, tetapi juga melalui sertifikasi profesional.

“Iklan Itu Alat, Nilai Itu Arah”

Dalam perjalanan Jimmy, ada satu pesan yang terasa jelas: teknologi boleh canggih, tapi arah harus tetap lurus. Iklan boleh jadi alat jualan, tapi tidak boleh mengorbankan nilai.

Dan mungkin itulah yang membuat profilnya menarik secara human interest: ia membawa dua dunia sekaligus—dunia ketekunan nilai dari lingkungan Al-Qur’an, dan dunia realitas pasar yang keras di digital.

Di titik itu, Jimmy Candra bukan hanya seorang advertiser. Ia adalah contoh bahwa keahlian modern bisa menjadi bagian dari misi yang lebih besar: membantu bisnis bertumbuh, menguatkan produk bervisi Islami, dan memudahkan banyak orang belajar iklan tanpa harus jatuh-bangun sendirian.


Share this article via

1 Shares

0 Comment