| 8 Views

Catatan 10 Hari di Akhir Ramadan: Fokus pada Allah Saja—Jangan Fokus pada Hal yang Membuat Kita Lemah

Oleh : R. Irawan Chandra

Ramadan itu bulan yang unik. Di satu sisi, tubuh kita diuji: lapar, haus, jam tidur berubah, energi naik turun. Tapi di sisi lain, justru di bulan inilah Allah membuka pintu kekuatan yang paling dalam: kekuatan hati.

Masalahnya, banyak orang menjalani Ramadan dengan fokus yang salah.

Bukan fokus pada Allah, tapi fokus pada hal-hal yang membuat mereka lemah:

fokus pada capeknya, fokus pada laparnya, fokus pada drama orang lain, fokus pada notifikasi yang tidak habis-habis, fokus pada perbandingan hidup, fokus pada hal-hal yang menguras jiwa.

Padahal Ramadan bukan sekadar menahan makan dan minum. Ramadan adalah latihan besar untuk satu hal: mengatur fokus.

Fokus itu menentukan kualitas Ramadan

Hidup kita sering tidak hancur karena kurang kemampuan. Kita hancur karena fokus kita bocor ke mana-mana.

Kita fokus pada omongan orang, lalu lelah.

Kita fokus pada kekurangan diri, lalu putus asa.

Kita fokus pada dosa masa lalu, lalu merasa tidak pantas berbenah.

Kita fokus pada hal yang tidak bisa kita kontrol, lalu cemas.

Sementara Allah sudah mengajarkan: yang perlu kita fokuskan adalah jalan pulang.

“Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya).”
(QS. At-Talaq: 3)

Kecukupan itu sering tidak datang ketika kita sibuk memikirkan segalanya. Ia datang ketika kita kembali ke satu pusat: Allah.

Hal-hal yang membuat kita lemah (dan sering jadi “jebakan Ramadan”)

1) Fokus pada “perasaan lemah”

“Kayaknya aku nggak kuat puasa…”

“Kayaknya aku nggak sanggup tarawih…”

“Kayaknya aku nggak bisa konsisten…”

Kalimat-kalimat itu terlihat wajar, tapi jika terus dipelihara, ia berubah menjadi doa yang negatif. Kita jadi menjalani Ramadan dengan standar rendah sebelum berjuang.

Padahal Allah tidak menilai hasil saja, Allah menilai usaha dan kejujuran hati.

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya.”
(QS. Al-Baqarah: 286)

Yang perlu kita lakukan bukan menatap kelemahan terus-menerus, tapi memperbaiki ritme dan mulai dari yang mampu.

2) Fokus pada dunia, lalu lupa makna

Ramadan bisa berubah menjadi bulan “paling sibuk” tapi paling kosong:

sibuk belanja, sibuk menu, sibuk konten, sibuk bukber, sibuk debat…

tapi lupa memperbaiki hubungan dengan Allah.

Bukan berarti dunia haram. Tapi jika dunia menjadi pusat, kita akan lelah bahkan sebelum maghrib.

Ramadan itu bukan bulan untuk menghibur ego. Ramadan adalah bulan untuk melunakkan hati.

3) Fokus pada luka dan kecewa yang lama

Ada orang yang masuk Ramadan dengan beban emosi: kecewa pada orang, sakit hati, dendam, rasa gagal, rasa tertinggal.

Kalau itu terus dipeluk, Ramadan terasa berat. Karena hati yang penuh sesak sulit untuk khusyuk.

Ramadan mengajarkan kita satu hal: ringankan beban, supaya doa kita terangkat.

Memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan orang. Memaafkan adalah cara agar hati kita tidak dijadikan penjara.

4) Fokus pada dosa sampai lupa rahmat Allah

Ini salah satu jebakan paling halus: merasa tidak layak mendekat kepada Allah karena dosa.

Padahal justru Ramadan datang untuk orang-orang yang ingin pulang.

“Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah.”
(QS. Az-Zumar: 53)

Jangan fokus pada dosa sampai lupa bahwa Allah Maha Pengampun. Fokuslah pada pintu taubat, bukan pada rasa malu yang menahan langkah.

Lalu, bagaimana cara “fokus pada Allah” di Ramadan?

1) Mulai hari dengan niat yang jelas

Sebelum memulai aktivitas, ucapkan dalam hati:

“Ya Allah, Ramadan ini aku mau dekat dengan-Mu.”

Niat yang jelas itu seperti kompas. Tanpa kompas, kita sibuk tapi nyasar.

2) Jadikan Islam sebagai pusat

Kalau kita ingin fokus pada Allah, dekatlah dengan perintahnya-Nya. Pelajari terus Islam, sampai kita betul-betul menemukan kedamaian, dan kerinduan Allah dengan Ridlo-Nya pada kita.

3) Saring hal-hal yang menguras iman

Ramadan itu waktu “diet”, bukan hanya diet makanan, tapi juga diet informasi dan emosi.

Kurangi:

  • debat yang tidak perlu

  • konten yang membuat hati gelap dan sedih

  • pergaulan yang mengganggu ibadah

  • aktivitas yang membuat lupa waktu

Kita tidak harus tahu semua hal. Kita hanya harus memastikan hati kita tetap hidup.

4) Fokus pada kualitas, bukan pamer kuantitas

Ramadan bukan kompetisi siapa paling banyak, tapi siapa paling jujur di hadapan Allah.

Tarawih dua rakaat tapi khusyuk lebih baik daripada banyak rakaat tapi hati tidak hadir.

Sedekah kecil tapi ikhlas lebih baik daripada besar tapi ingin dipuji.

5) Latih tawakal saat lemah

Ketika capek, jangan menyerah. Kembalikan ke Allah.

Ucapkan:

“Ya Allah, aku lemah. Tapi aku datang.”

Kadang justru doa paling kuat lahir dari orang yang merasa paling lemah.


Dan ... Ramadan itu latihan untuk kembali “pada pusat”

Fokus pada Allah tidak membuat hidup tanpa masalah.

Tapi fokus pada Allah membuat kita tidak tenggelam di tengah masalah.

Jangan fokus pada hal yang membuat kita lemah:

jangan fokus pada capeknya, jangan fokus pada dramanya, jangan fokus pada ketakutan-ketakutan.

Fokuslah pada Allah—karena di situlah kekuatan sejati berada.

Ramadan bukan bulan untuk membuktikan kita hebat.

Ramadan adalah bulan untuk membuktikan: kita butuh Allah Swt. Sangat butuh melebihi apapun.


Share this article via

0 Shares

0 Comment