| 42 Views
Tahun Baru Islam: Momentum Mengembalikan Kemuliaan Umat
Oleh : Lia Julianti
Aktivis Dakwah Tamansari
Tahun Baru Islam kembali hadir. Namun, alih-alih menjadi momen penuh harapan dan optimisme, tahun baru kali ini disambut dalam suasana duka dan keterpurukan yang mendalam di tengah umat Islam. Genosida di Palestina belum juga berhenti. Rezim penjajah Zionis terus membantai warga sipil, bahkan anak-anak dan perempuan, tanpa rasa takut sedikit pun terhadap kecaman dunia. Ironisnya, sebagian besar penguasa negeri-negeri Muslim justru abai, bahkan berkhianat kepada saudaranya sendiri, lebih memilih bersekutu dengan musuh-musuh Islam demi kepentingan politik sempit dan penjagaan tahta kekuasaan.
Tahun Baru Islam sejatinya adalah momen yang sangat penting dalam sejarah Islam. Ia mengingatkan kita pada peristiwa hijrah Rasulullah saw. dan para sahabat dari Mekkah ke Madinah, yang menjadi titik awal terbentuknya masyarakat Islam yang mulia di bawah naungan Daulah Islam. Dalam institusi inilah, Islam ditegakkan secara kaffah, menyatukan suku, bangsa, dan wilayah dalam satu kepemimpinan yang menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai sumber hukum.
Dari situlah kemuliaan umat terbangun. Umat Islam pernah memimpin dunia, menghadirkan keadilan, kesejahteraan, dan rahmat ke seluruh penjuru bumi. Peradaban Islam menjadi cahaya dalam kegelapan zaman, bahkan ketika Eropa masih terjerembab dalam abad kegelapan.
Namun hari ini, realitas itu seolah hanya tinggal sejarah. Predikat sebagai khayru ummah (umat terbaik) tak tampak nyata dalam kehidupan umat. Justru sebaliknya, umat Islam menjadi korban penindasan, konflik internal, kemiskinan, dan keterbelakangan.
Allah Swt. telah memberikan peringatan yang sangat jelas dalam Al-Qur’an:
“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit...”
(QS Thaha: 124)
Ketika umat Islam meninggalkan syariat Allah, hidup tanpa naungan sistem Islam, dan menjadikan ideologi sekuler-kapitalis sebagai dasar kehidupan berbangsa dan bernegara, maka kehinaan adalah konsekuensi yang pasti. Sistem kapitalisme telah menciptakan penguasa yang oportunis, sistem hukum yang diskriminatif, ekonomi yang eksploitatif, dan masyarakat yang jauh dari nilai-nilai Islam.
Satu-satunya jalan untuk mengembalikan kemuliaan umat Islam adalah dengan kembali kepada aturan Allah secara menyeluruh (kaffah). Ini tidak cukup hanya dengan ritual-ritual keagamaan semata, tapi harus diwujudkan dalam bentuk sistem kehidupan yang mengatur seluruh aspek kehidupan dari politik, ekonomi, pendidikan, hingga sosial, sesuai dengan syariat Islam.
Di sinilah urgensinya keberadaan Khilafah Islam sebagai institusi yang akan menerapkan syariat Islam secara kaffah dan menjadi junnah (perisai) bagi umat. Khilafah bukan sekadar impian utopis, melainkan kewajiban syar’i dan kebutuhan riil umat hari ini. Di bawah Khilafah, umat akan kembali bersatu, bebas dari penjajahan, dan mampu menghadirkan keadilan sejati bagi manusia, tanpa membedakan ras, suku, atau agama.
Namun, jalan menuju kebangkitan dan kemuliaan itu memerlukan perjuangan. Umat harus disadarkan akan hakikatnya sebagai Muslim, bahwa hidupnya hanya akan mulia jika tunduk pada aturan Allah. Kesadaran ini tidak akan tumbuh dengan sendirinya, melainkan harus ditumbuhkan melalui dakwah yang benar dan istiqamah.
Diperlukan keberadaan jamaah dakwah yang tulus, ikhlas, dan konsisten memperjuangkan tegaknya kembali syariah dan Khilafah. Jamaah ini menjadi pelopor dalam membimbing umat, menyampaikan kebenaran, melawan kezaliman, dan membangun kesadaran politik umat berdasarkan Islam.
Tahun Baru Islam bukan sekadar penanggalan baru. Ia adalah momen reflektif, yang seharusnya menggugah hati dan akal umat Islam untuk bangkit dari keterpurukan. Hijrah bukan hanya sejarah, tapi juga inspirasi dan pedoman menuju perubahan hakiki. Mari menjadikan tahun baru ini sebagai awal dari perjuangan untuk mengembalikan kemuliaan umat dengan kembali kepada Islam secara kaffah.
Sebagaimana Rasulullah saw. dan para sahabat menjadikan hijrah sebagai langkah menuju tegaknya peradaban Islam, demikian pula umat hari ini harus menempuh jalan yang sama: hijrah dari sistem jahiliah modern menuju tegaknya sistem Islam dalam bingkai Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah. Hanya dengan itulah, umat ini akan kembali menjadi rahmat bagi seluruh alam.
“Dan kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS Ali Imran: 110)