| 62 Views

Siapa Sesungguhnya Pemilik Kemerdekaan

Oleh : Rosmi
Aktivis Muslimah              

Setiap tanggal 17 Agustus bangsa Indonesia memperingatinya sebagai hari kemerdekaan Negara Kesatua Republik Indonesia. Baik tingkat daerah sampai pemerintah pusat wajib melaksanakan upacara pengibaran dan penyimpanan bendera. Selain proses upacara, masyarakat di tiap daerah juga menyambut dan merayakan Hari ulang tahun RI ini dengan berbagai perlombaan.         

Keseruan dan kegembiraan yang ditunjukkan warga dalam menyambut hari kemerdekaan dapat disaksikan dengan beragamnya mata lomba yang diselenggarakan. Peserta yang mengikuti lomba pun bervariasi mulai dari anak hingga orang dewasa, semua turut memeriahkan HUT RI yang ke-80 tahun.            

Hari Ulang Tahun Republik Indonesia yang ke-80 dengan mengusung tema”Rakyat Sejahtera Indonesia Maju”. Yang mencerminkan semangat kebersatuan, kemandirian bangsa, kesejahteraan rakyat serta visi kemajuan Indonesia di tengah tantangan global, itu kata pemerintah dan penguasa.

Bagaimana mungkin kesejahteraan rakyat tercapai, jika lapangan kerja sulit, PHK dimana-mana, kenaikan pajak gila-gilaan, korupsi terjadi hampir seluruh lembaga pemerintah dan BUMN, pendidikan dan kesehatan mahal dan masih banyak derita rakyat. Jika keadaan rakyat seperti ini, lalu bagaimana mungkin negara ini bisa maju? atau justru ucapan salah satu capres bahwa Indonesia bubar tahun 2030 akan terjadi.

Kata “Merdeka” yang sering terdengar menjelang perayaan hari lahirnya bangsa Indonesia memiliki beragam makna. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Merdeka artinya bebas (dari penghambaan, penjajahan), berdiri sendiri, tidak tertekan atau lepas dari tuntutan dan tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu. Merujuk arti dari kata merdeka yang tertuang dalam KBBI, muncullah pertanyaan baru bagi anak bangsa yang berfikir kritis benarkah bangsa Ini sudah merdeka ?

Kemerdekaan yang diploklamirkan pada tanggal 17 Agustus 80 tahun silam, menandakan bangsa ini telah bebas dari penjajahan secara fisik oleh kolonial Belanda. Secara DEVACTO seluruh wilayah nusantara terlepas dari penjajahan bangsa manapun di dunia ini secara fisik. Hanya secara fisik karena pada faktanya dalam segala hal kita masih terjajah hingga kini. Dan lebih miris lagi terjajah oleh bangsa sendiri oleh para penguasa zalim.

Cita–cita mulia lahir dari pemikiran anak Bangsa yang mencintai Tanah Air Indonesia dengan ikhlas tulus tanpa rekayasa apalagi pencitraan tertuang pada UUD 1945 alenia ke- 4 “ melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpa darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia”. Benarkah keinginan para leluhur pendiri NKRI ini akan terwujud? Atau malah dikhianati dengan pengkhianatan para pemimpin rakus dan jahil.

Negeri yang dianugerahi sumber daya alam melimpah ruah dikeruk habis oleh para pejabat korup dengan perijinan yang hanya menguntungkan golongan mereka bahkan merugikan negara. Panorama alam yang begitu eksotik dijual kepada para pemodal untuk di kelolah, sementara warga lokal atau masyarakat adat justru terusir dan disengsarakan. Inikah merdeka yang sering kalian teriakan dengan lantang? Apa ini hakikat kemerdekaan yang diperjuangkan sang jenderal Sudirman dan pahlawan lainnya? terbebas dari penjajahan fisik negara penjajah tapi dijajah oleh saudara sendiri yang kebetulan sedang berkuasa. 

Arti merdeka dalam Islam

Merdeka dalam pandangan Islam adalah bukan saja terbebas dari penjajahan fisik, tetapi kebebasan yang meliputi jiwa, pemikiran yang tidak terbelenggu dan bebas dari penghambaan terhadap makhluk ciptaan Allah Swt. Karena penghambaan sesungguhnya hanyalah kepada Allah Swt.      

Muslim yang mulia adalah hamba yang mampu mengendalikan atau menundukkan hawa nafsu sehingga jiwa dan pemikirannya terjaga dengan syariat Islam dan bebas dari pengaruh mabda selain Islam sehingga terhindar dari perbuatan yang dilarang oleh syariat. Seorang Muslim tidak akan dikatakan merdeka kecuali hanya beribadah kepada Allah Swt. dan menjauhkan diri dari kesyirikan. Karena percaya selain kepada Allah swt. adalah bentuk perbudakan kepada makhluk. Karena merdeka sejatinya adalah menjadi seorang hamba.        

Nabi Muhammad saw diutus Allah Swt. ditengah-tengah masyarakat arab jahiliyah dengan membawa misi penyembahan hakiki hanya kepada Allah Swt. sebagaimana firman Allah dalam Al-quran yang artinya “dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya wahai anakku janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah itu benar-benar kezaliman yang besar”, (QS. Lukman:13).         

Peringatan dan ancaman Allah Swt bagi orang-orang yang zalim, berkata kasar, tamak dan kikir.  Allah berfirman yang artinya “Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya. Dia (manusia) mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya, sekali-kali tidak. Pasti dia akan dilemparkan ke dalam neraka”, (QS. Al Humazah:1-4).
        
Pada masa kepemimpinan Umar bin Khatab, saat menyelesaikan perkara antara rakyat biasa dan pejabat. Anak pejabat yang tidak terima karena dikalahkan oleh orang biasa dalam sebuah perlombaan. Setelah memberika cemeti kepada anak rakyat biasa untuk membalas perbuatan anak sang gubernur Arm bin Ash, sang Khalifah berkata “mengapa kalian memperbudak manusia, padahal sungguh ibu mereka melahirkan mereka dalam keadaan merdeka”
          
Inilah hakikat kemerdekaan dalam Islam, bukan saja terbebas dari penjajahan fisik, tetapi seorang muslim sejati adalah hamba yang hanya tunduk pada peritah sang pencipta, tidak menyekutukan Allah dengan makhlukNya, apalagi ingin menjajah sesama hamba karena jabatan dan kesombongan. Jika menjadi pemimpin, maka Muslim sejati akan menegakkan syariat sesuai dengan perintah Allah Swt, tidak menerapkan selain aturan Al khalik Al mudabir. 
 
Wallahu’alam bish shawab


Share this article via

62 Shares

0 Comment