| 268 Views

Sekularisme Menghancurkan Generasi

Oleh : Santika
Pemerhati Remaja

Maraknya kriminalitas di kalangan pelajar termasuk tawuran kian meresahkan masyarakat. Baru-baru ini beredar video yang diduga tawuran yang dilakukan oleh dua kelompok geng motor. Dengan perlengkapan senjata tajam dan cerulit panjang (klewang). Senjata yang mereka bawa sengaja diayunkan guna menakut-nakuti geng motor dari kelompok lain. Dalam keterangan video, peristiwa tersebut terjadi di Boyolali. Disebutkan kejadian terjadi di jalan Boyolali-Semarang tepatnya di depan SPBU Sunggingan, Boyolali.  (Meyrotvnews.com, 20 September 2024).

Kasus tawuran ini bukan hanya sekali terjadi, tapi merupakan sebuah fenomena dikalangan pemuda bahkan di kalangan  pelajar yang seolah menjadi tren yang terus berulang. Belum lagi tawuran telah banyak memakan korban, seperti yang terjadi di wilayah Cibinong Bogor, seorang pelajar SMK meninggal dunia diduga akibat menjadi korban tawuran pelajar. Tawuran pelajar itu terjadi pada Senin, 9 September 2024 sekitar pukul 17.00 WIB, di Jalan SKB Kandang Roda, Kelurahan Karadenan, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor. (radarbogor.jawapost.com). Dan masih banyak kasus tawuran lainnya.

Setelah ditelusuri para pelaku tawuran melakukan aksinya karena ditantang oleh kelompok gengster lainnya di media sosial. Mereka akan memenuhi semua tantangan itu demi eksistensi kelompok dan gensi semata. Sehingga jika kelompoknya menang menjadi kelompok gengster yang akan ditakuti dan akan merajai. Demi sebuah kemenangan mereka melakukan berbagai cara dan senjata. Belum lagi aksinya di cekoki dengan minuman keras untuk menambah keberanian pada para anggotanya.

Banyak faktor yang menjadi penyebab sering terjadinya tawuran antar pemuda di Indonesia. Pemahaman yang keliru dalam diri para pemuda, menjadikan tawuran sebagai tradisi yang tak gerus dimakan zaman.

Belum lagi para gen Z memiliki kelemahan dalam kontrol diri dan krisis identitas yang diakibatkan sistem sekuler, sehingga para pemuda ini jauh dari pemahaman Islam. Pola pikir pemuda saat ini telah menjauhkan agama dari kehidupannya. Belum lagi pola sikap liberal yang bercokol dalam dirinya sehingga semua sendi kehidupannya bebas tanpa batas, yang menjadi tolok ukur dalam dirinya adalah materi dan kesenangan yang bersifat duniawi. Hidupnya tanpa tujuan dan arah yang jelas sehingga dengan mudahnya tersulut emosi dan menyalurkannya dengan tawuran yang dijadikan tradisi. Para pemuda menjadi hilang kendali dan jauh dari pemuda yang produktif justru menjadi pemuda toxic bagi masyarkat di sekitarnya.

Faktor keluarga pun tak kalah penting bagi pengaruh para anggota gengster. Biasanya mereka muncul dari keluarga yang broken home akibat kedua orang tua yang bercerai, juga berasal dari orang tua yang abai terhadap anak anaknya diakibatkan dari disfungsi peran ibu dan bapak. Misalnya saja seorang ibu yang seharusnya ibu itu sebaggi ummu madrastun ula dan ummu warabatun bait malah terpaksa menjadi pekerja akibat kemiskinan yang melanda. Belum lagi gempuran media sosial yang saat ini tanpa kendali, karena yang dicari hanya banyaknya materi tanpa memikirkan rusaknya generasi. Para pemuda kian dijejali oleh tontonan tanpa edukasi, dan parahnya para pemuda dengan mudah mengakses seuatu yang negatif, berbau kekerasan sehingga mudah tersulut emosi. Ditambah abainya negara terhadap pembentukan kepribadian mulia para pemudanya. Negara justru menambah kekacauan arah pandang para pemuda dengan sistem pendidikan yang sekuler yang akhirnya justru merusak generasi.

Sistem Islam Hasilkan Generasi Gemilang

Jelas berbeda dengan sistem Islam. Dalam sistem Islam para pemuda adalah aset bagi negara yang mana pembentukannya dan kepribadiannya haruslah diarahkan menuju kepribadian Islam yang gemilang. Sehingga terbentuklah para pemuda yang takut akan Rabb-Nya. Para pemuda yang tahu arah kehidupan sehingga para pemuda akan senantiasa produktif dalam kesehariannya. Maka muncullah para pemuda pembangun peradaban yang tanggung dan kokoh atas peran negara yang bertanggung jawab akan pendidikannya. Juga peran keluarga yang senantiasa membersamai tumbuh dan berkembangnya para pemuda. Keluarga menjadi garda terdepan dalam pembentukan para pemuda sesuai dengan perannya masing-masing. Sehingga menjadi pengontrol diri para pemuda dalam kehidupannya ditambah lagi sistem pendidikan yang saling berkesinambungan. Karena tujuan hasil pendidikan bukan hanya sebatas materi, tapi menghasilkan generasi Rabbani yang akan menjadi pembangun peradaban umat. Para pemuda yang Faqih Fiddin sehingga mampu menggali ilmu Allah dan mendakwahkannya.

Wallahualam bissawab


Share this article via

223 Shares

0 Comment