| 27 Views

Sekularisasi Pendidikan: Mencetak Budak Korporat, Bukan Intelektual Berkualitas

Oleh: Najma Alhumaira

Aktivis Muslimah

Beberapa waktu lalu, Pemerintah Indonesia melontarkan wacana penghapusan jurusan perkuliahan yang dianggap tidak relevan demi tembus target pertumbuhan ekonomi. Sekretaris Jenderal Kemdiktisaintek, Badri Munir Sukoco, Dosen Unair, menegaskan bahwa keberadaan jurusan perkuliahan sebaiknya perlu menyesuaikan dengan kebutuhan dunia di masa depan, yaitu kebutuhan industri.

Hal ini menimbulkan beragam tanggapan dari berbagai kampus. Kampus UMM dan UNISMA menyatakan menolak penutupan prodi yang tidak sesuai pasar karena kampus bukan pabrik pekerja. Adapun kampus UMY lebih memilih melakukan penyesuaian kurikulum dibanding menutup prodi. Sedangkan kampus UGM telah rutin mengevaluasi prodi dan terbuka untuk menutup, membuka, atau merger prodi. UIN Malang juga ikut menyoroti wacana kebijakan ini dengan statement bahwa penutupan prodi bukan solusi, melainkan perlu adanya pembaruan kurikulum agar sesuai dengan kebutuhan masa kini. Selain itu, perlu adanya reposisi dan transformasi program studi, terutama bagi prodi yang mengalami penurunan minat.

Orientasi Pendidikan Berbasis Sekuler

Berdasarkan fakta di atas, terlihat sangat jelas bahwa dunia pendidikan yang mengadopsi pemahaman liberalisme sekuler menyebabkan perguruan tinggi harus menyesuaikan dengan tuntutan dunia industri. Dengan adanya pemisahan agama dari kehidupan, dunia kampus tidak lagi berfokus untuk menghasilkan para ilmuwan hebat, tetapi justru menjadi tempat pencetak pekerja yang sesuai dengan minat industri kapitalis.

Dalam sistem kapitalisme hari ini, negara tidak merasa memiliki tanggung jawab besar serta memilih untuk lepas tangan terhadap kebutuhan SDM dalam melayani urusan rakyat. Negara hanya menjadi wadah regulasi untuk kepentingan industri yang dimiliki segelintir orang yang memiliki modal. Sehingga, kebijakan yang diambil merupakan reaksi dan respons terhadap berbagai macam kepentingan yang saling bersaing.

Pendidikan yang seharusnya mencetak pelajar yang memiliki karakter syakhsiyyah Islamiyah justru menjauhkan para pelajar dari ideologi Islam. Pelajar yang berada di tengah-tengah masyarakat seharusnya menjadi mutiara dan harapan bangkitnya peradaban di hadapan umat. Tetapi, karakter ini justru dibuat mati dan dibelokkan oleh sistem kapitalisme hari ini.

Komoditas pasar menjadi tolok ukur dunia pendidikan, sehingga kurikulum pendidikan akan senantiasa berubah menyesuaikan permintaan dari industri. Akibatnya, mahasiswa menjadi budak korporat yang semakin jauh dari Islam serta semakin jauh dari harapan umat agar menjadi pelaku kebangkitan peradaban Islam.

Islam Mencetak Generasi Emas Peradaban

Dalam Islam, negaralah yang membutuhkan untuk mencetak para ilmuwan dan cendekiawan yang ahli di setiap bidangnya, sesuai kebutuhan SDM dalam melayani urusan rakyatnya. Sebab, tugas pokok negara dalam Islam adalah melayani rakyatnya dan memberikan kesejahteraan kepada seluruh masyarakat.

Dunia pendidikan, termasuk pendidikan tinggi, menjadi tanggung jawab langsung negara untuk diurus berdasarkan kurikulum pendidikan Islam. Negara yang menentukan mulai dari visi-misi pendidikan, kurikulum, pembiayaan untuk SDM pendidikan, hingga sarana dan prasarananya.

Dalam Islam, pendidikan harus dibangun di atas pondasi akidah Islam. Tujuan dari pendidikan yaitu untuk mendidik generasi yang cerdas serta memiliki ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Bukan seperti hari ini, di mana perguruan tinggi menghasilkan generasi korporat yang sibuk dengan urusan duniawi dan tidak peduli terhadap kondisi umat.

Negara wajib berperan aktif untuk menjaga akidah umat serta menjadikan syariat Islam sebagai standar kurikulum yang dijalankan di dunia pendidikan. Penerapan sistem Islam menjadikan negara mandiri dalam mengelola pendidikan tinggi, tidak bergantung pada tekanan, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, karena bersandar kepada syariat.

Fasilitas pendidikan akan sangat diperhatikan oleh negara, sehingga perguruan tinggi dapat melahirkan cendekiawan dan ilmuwan yang dapat berkontribusi untuk peradaban Islam, bukan budak korporat seperti yang terjadi hari ini.

Penerapan sistem Islam dalam institusi negara telah terbukti mencetak generasi emas yang menghasilkan peradaban Islam yang gemilang selama 13 abad. Secara historis, banyak cendekiawan muslim yang lahir dari pendidikan berbasis syariat Islam dan menjadi tonggak peradaban Islam yang gemilang, seperti Al-Khawarizmi, Ibnu Sina, Jabir Ibnu Hayyan, Fatimah Al-Fihri, serta banyak ilmuwan muslim lainnya yang berkontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan sekaligus menjadi para ulama yang mampu mendakwahkan Islam ke penjuru dunia.

Sehingga, dalam Islam, keberadaan negara dalam memenuhi kebutuhan umat akan pendidikan adalah sebuah urgensitas yang penting. Negara tidak boleh lalai dan membiarkan umat sibuk dengan urusan dunia serta hidup dalam kemaksiatan. Karena tugas seorang pemimpin adalah mengurus rakyatnya, dan akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.

Wallahu a’lam bishshawab.


Share this article via

76 Shares

0 Comment