| 51 Views
Sekat Nasionalisme Menghalangi Perjuangan Membebaskan Palestina
Oleh: Siti Rofiqoh
Hari ini umat mulai menunjukkan rasa muak setelah melihat kekejaman dan kebiadaban dari Zionis Israel yang tak pernah padam. Zionis Israel yang selalu Memulai aksi genosida yang tidak manusiawi, kini semakin menunjukkan wajah asli mereka. Mereka mulai memblokade bantuan kemanusiaan yang akan dikirimkan ke Gaza.
Kebiadaban yang terus berlangsung hingga saat ini, membuat umat merasakan hilang kesabaran hingga baru-baru ini dunia di kejutkan dengan aksi yang dilakukan oleh lebih dari 50 negara. Aksi ini dinamakan dengan gerakan Global March to Gaza (GMG).
Gerakan Global March to Gaza ini merupakan gerakan yang dilakukan sebagai ungkapan kemarahan umat terhadap Zionis Israel yang sudah melampaui batas. Bahkan Indonesia sendiri pun ikut meramaikan Aksi ini.
Sejumlah peserta aksi mengikuti aksi dukungan gerakan Global March to Gaza di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, jalan MH Thamrin, Jakarta, Minggu (15/6/2025).
Global March to Gaza merupakan aksi jalan kaki internasional sejauh kurang lebih 50 kilometer (km). Peserta aksi akan berjalanan kaki dari Kairo. Mesir menuju Gerbang Rafah. Aksi tersebut dikabarkan akan diikuti 10.000 orang, yang berasal dari lebih 50 negara. Minggu 15 Juni 2025 akan menjadi puncak gerakan Global March to Gaza ketika seluruh peserta tiba di Gerbang Rafah untuk menyerukan dibukanya akses kemanusiaan ke Gaza. Sebelumnya, pada Kamis (12/6/2025). Liputan6.com (15/06/2025)
Adapun tujuan dari Aksi Global March to Gaza (GMG) yang dilakukan atas inisiatif Internasional hari ini.
Pertama, GMG ini dilakukan untuk menuntut agar diakhirinya blokade ilegal yang dilakukan oleh Yahudi Israel atas jalur Gaza.
Kedua,gerakan Global March to Gaza (GMG) ini dilakukan untuk menegaskan dukungan atas hak-hak kemanusiaan rakyat Palestina. Baik itu hak untuk hidup,dalam artian kata hidup dalam keadaan tenang tanpa ada genosida-genosida seperti yang selalu dilakukan oleh Israel.
Global March to Gaza ini juga menuntut hak kebebasan bergerak terhadap warga Palestina. Termasuk Palestina juga harus mendapatkan haknya untuk mendapatkan bantuan, baik itu merupakan bantuan kemanusiaan dan lain sebagainya.
Seperti yang dilakukan oleh aktivis-aktivis kemanusiaan yang membawa kapal Madleen. Kapal Madleen ini merupakan kapal kecil yang membawa 12 orang aktivis internasional yang membawa bantuan untuk Gaza dan menantang blokade yang dilakukan oleh Israel.
Kapal Madleen adalah kapal milik (FFC) atau dikenal juga sebagai koalisi Armada kebebasan internasional yang mengkoordinasi aktivisme global dalam bentuk mendukung kebebasan Palestina. (Sindonews.com)
Berawal dari kapal Madleen yang berusaha menantang blokade hingga berakhir dengan di deportasiny para aktivis oleh Israel. Maka muncul lah aksi Global March to Gaza. Mereka melakukan konvoi baik dari jalur darat maupun dari jalur laut.
Pemerintah Mesir dilaporkan mendeportasi puluhan aktivis yang berencana mengikuti konvoi kemanusiaan dengan tujuan melawan blokade Israel di Jalur Gaza. Aksi Global March to Gaza yang sedianya dimulai pada Minggu (15/6/2025) besok bertujuan untuk menekan pihak-pihak terkait agar membuka blokade Gaza yang digempur Israel sejak Oktober 2023. Kompas.tv.com (12/06/2025)
Blokade dari aksi Global March to Gaza yang dilakukan oleh Mesir,ini membuat para aktivis mengecam dan merasakan sangat kecewa kepada Mesir terlebih oleh umat Islam. Mesir yang notabenenya bisa membuka jalur untuk menembus ke Gaza justru malah melakukan deportasi para aktivis GMG.
Jika kita lihat dengan sudut pandang yang berbeda, blokade yang di lakukan oleh Mesir dan mendeportasi para aktivis GMG juga punya alasan.
Pertama, sebagai bentuk kepatuhan terhadap tekanan politik dan keamanan Israel dan Amerika Serikat. Dalam hal ini berkaitan juga dengan Perjanjian Camp David (1978) Dimana Mesir wajib menjaga perbatasan agar tidak digunakan untuk ancaman terhadap Israel, termasuk menutup jalur masuk senjata ke Gaza.
Kedua, Blokade GMG yang dilakukan oleh Mesir dikarenakan untuk menjaga stabilitas dalam negeri Mesir. Di mana pemerintah Mesir merasa takut bahwa pergerakan solidaritas Palestina dapat membangkitkan semangat perlawanan dalam negeri terhadap rezim otoriter yang dekat dengan Barat. Termasuk kedalamnya alasan demi Keamanan bagi Mesir itu sendiri.
Lantas bolehkah kita merasakan kecewa terhadap Mesir? Pantaskah mereka disebut sebagai penguasa penghianat atas kaum muslim?
Kita umat Islam yang di persatuan dengan Akidah Islamiyyah. Ikatan yang sangat erat dan kuat,sehingga Rasulullah Saw menggambarkan bahwa umat Islam itu ibarat satu tubuh yang jika satu merasakan sakit maka yang lain juga akan merasakan sakit.
Inilah yang seharusnya kita lakukan hari ini, ketika melihat saudara seiman kita disakiti. Maka yang harus kita lakukan seharusnya adalah membela dengan bersatu seluruh kaum muslimin yang ada di dunia, bukan lagi bersatu dengan asas nasionalisme yang membuat kita tak bisa bergerak untuk membela saudara kita.
Hari ini kita membutuhkan satu kepemimpinan umum bagi kaum muslimin di seluruh dunia yakni (khilafah). Dengan adanya khilafah inilah yang akan menyerukan jihad dan menyatukan kekuatan seluruh militer-militer di negeri-negeri kaum muslimin untuk membela saudara kita yang ada di Palestina secara tuntas.
Terlihat pada hari ini tanpa adanya khilafah tak ada satupun negeri kaum muslimin yang berani mengirim militernya untuk membela saudara seiman yang ada di Palestina.
Aksi Global March to Gaza yang dilakukan pada hari ini merupakan gerakan yang sangat besar dalam menunjukkan keberpihakan dan kepedulian kita kepada Saudara kita yang ada di Palestina. Gerakan yang membuka mata dunia terhadap kondisi Palestina yang di jajah oleh Israel.
Namun satu hal yang harus kita pahami, Tanpa adanya perubahan yang sistematik terutama terhadap kepemimpinan politik dan militer,maka Gaza masih akan tetap Ter blokade.
Jadi tidak cukup hanya dengan rasa kemanusiaan dan simpati. Tapi juga dengan aksi Militer dari seluruh negeri kaum muslimin yang dipersatukan dalam satu bingkai yakni khilafah Islamiyyah.
Wallahu'alam