| 123 Views

Penemuan Tulang Belulang Didalam Pohon Aren Jadi Misteri, Islam Solusinya

Oleh: Sri Runingsih
Aktivitas Dakwah

Baru-baru ini warga dihebohkan dengan penemuan tulang belulang yang diduga kerangka manusia yang ditemukan didalam puhon aren, tepatnya di Desa Pematang Ganjang Dusun 1, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara.

Saat ditemukan warga, pohon aren tersebut sudah tumbang dan jatuh ketanah akibat adanya angin puting beliung beberapa hari yang lalu, dan mengakibatkan kondisi pohon terbelah dua, hingga terlihatlah adanya tulang belulang didalam pohon aren tersebut.

"AKP Ahmad Albar" selaku Kapolsek Firdaus menyatakan bahwa diperkirakan tulang belulang dari kerangka manusia yang ditemukan itu sudah berkisar sekitar 2 tahun lamanya, namun ia belum dapat memastikan dengan pasti, sebab perlu adanya penyelidikan lebih lanjut lagi.

Ahmad juga menuturkan bahwa tulang belulang tersebut akan dibawa ke Rumah Sakit di Tebing Tinggi untuk dilakukan autopsi. (detikNews)

Selain itu, Ahmad juga mengatakan bersamaan dengan kejadian ini adanya pengakuan dari seorang warga yang mengaku telah kehilangan anak laki-laki mereka yang berumur 20-an tahun yang sudah menghilang kurang lebih selama 2tahun.

Hal ini karena orang tersebut merasa kenal dengan pakaian yang diduga milik korban yang juga ditemukan di tempat kejadian tersebut. Hingga ia pun curiga jangan-jangan tulang belulang tersebut adalah kerangka dari anak mereka. (detikSumut 10/9/2025)

Miris memang melihat kejadian ini, berbagai asumsi dan dugaan-dugaan mungkin telah mengelabuhi pikiran warga saat ini terkait motif dibalik penemuan tulang belulang tersebut. Adanya pengakuan dari warga yang mengaku telah kehilangan anak mereka juga dianggap sebagai suatu hal yang tidak normal, pasalnya hilangnya anak mereka sudah terhitung 2 tahunan. Kenapa bisa sesantai itu mereka dalam mencari anak mereka yang hilang? atau mungkin kurangnya interaksi sosial sehingga tidak banyak orang yang tau akan hilangnya anak tersebut.

Padahal di Negara ini ada pihak kepolisian yang seharusnya bisa membantu mereka kalau saja ada aduan kepada pihak berwajib terhitung dari awal hilangnya anak tersebut. Namun dalam pandangan saat ini seolah pihak keluarga tidak banyak melakukan upaya dalam melakukan pencarian anak mereka yang hilang.

Selain itu, kurangnya perhatian serta minimnya penerapan agama dari keluarga mungkin menjadi faktor utamanya, sehingga kejadian ini berlangsung sudah sekian lama dan masih belum bisa dipastikan apakah murni kecelakaan alam ataukah ada unsur kriminal didalamnya. Wallahu'alam, karena ditengah penerapan sistem kapitalis sekuler saat ini orang-orang sudah tidak takut lagi untuk melakukan dosa, sehingga tidak menutup kemungkinan adanya hal-hal lain dibalik motif tulang belulang tersebut.

Islam sebagai agama Rahmatan Lil Alamiin telah memposisikan anak sebagai titipan dari sang khalik, sehingga orang tua akan dimintai pertanggung jawaban dihadapan Allah mengenai anak tersebut terkait akidah, ibadah, serta hak-hak yang seharusnya didapatkan oleh anak dari mulai ia lahir hingga baligh.

Itulah pentingnya mengajarkan serta menerapkan pendidikan agama kepada anak sedari dini, sehingga dapat membentuk akhlak serta kepribadian yang baik terhadap si anak, selain itu hubungan antara orang tua dan anak juga dapat terjalin dengan harmonis yang sesuai dengan apa-apa diterapkan dalam syari'at.

Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam bersabda:

مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلاَّ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

"Tiada seorangpun dari anak yang dilahirkan selain dalam keadaan fitrah (suci). Orangtuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi." (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dari potongan hadist diatas jelaslah bahwa peran orang tua mutlak kepada anak dari mulai anak itu lahir, apalagi bila dikembalikan kepada tujuan utamanya bahwa manusia didunia ini hanyalah untuk beribadah kepada Allah saja, sehingga penerapan yang sesuai Islam seharusnya dijadikan patokan dan segala hal yang ada didunia ini juga seharusnya dijadikan media untuk beribadah kepada Allah SWT.

Namun hal ini sangatlah sulit dilakukan mengingat sistem kapitalis yang diterapkan di Negeri ini, yang menjadikan manusianya lupa beribadah kepada Allah dan menjadikan materi sebagai tujuan utamanya suatu perbuatan. Sehingga memang sangat sulit membangun kepribadian yang Islami kepada anak di Era saat ini.

Menjalin komunikasi yang baik kepada anak merupakan hal yang sangat penting. Apalagi anak sudah beranjak dewasa, jangan sampai dia menyampaikan perasaannya kepada orang lain atau bahkan melampiaskannya kepada hal-hal yang bertentangan dengan Islam, karena bisa saja itu akan semakin merusak dan membahayakan dirinya sendiri.

Dalam hal ini, jelaslah bahwa penerapan Islam adalah satu-satunya solusi. Karena bila Islam diterapkan dalam kehidupan sehari-hari tentunya tidak akan ada kedzoliman dan ketidak nyamanan yang dirasakan dari setiap orang.

Tentunya akan lebih mudah bila syari'at dilakukan atas dasar kepemimpinan bernegara, artinya pemimpinlah yang menerapkan aturan Allah ditengah kehidupan rakyatnya dan menjadikan segala hukum Allah sebagai hukum dalam bernegara. 

Wallahu'alam bishawab.


Share this article via

61 Shares

0 Comment