| 24 Views
Pemimpin adalah Pelindung Rakyat, Bukan Penonton Krisis
Oleh: Dwi FM
Melemahnya nilai rupiah terhadap dolar bukan sekadar angka di pasar keuangan. Dampaknya nyata dirasakan masyarakat: harga bahan baku naik, biaya energi meningkat, usaha kecil semakin tertekan, dan kebutuhan hidup makin sulit dijangkau. Dalam kondisi ekonomi yang berat, sebagian orang akhirnya mencari jalan pintas: angka pencurian meningkat, masyarakat terjebak pinjol, dan tekanan hidup semakin besar.
Konflik politik dan perang seperti ketegangan Iran-AS turut memengaruhi pasar global. Ketidakstabilan dunia membuat dolar menguat dan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, ikut melemah. Namun, yang menjadi pertanyaan, mengapa kondisi ini masih dianggap “aman”, sementara rakyat semakin kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari?
Dalam pandangan Islam, pemimpin bukan hanya menjaga stabilitas politik, tetapi juga menjadi ra’in (pengurus) dan junnah (pelindung) bagi rakyat dari kesengsaraan hidup. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Islam memiliki sistem ekonomi yang lebih stabil karena bertumpu pada nilai riil seperti emas dan perak, bukan uang berbasis utang dan spekulasi yang mudah terguncang krisis global. Dalam syariat, negara juga wajib menjaga stabilitas harga melalui mekanisme yang jelas: melarang riba, menjamin distribusi kebutuhan pokok, mengatur kepemilikan agar kekayaan tidak berputar di kalangan tertentu saja, serta memastikan kebutuhan dasar rakyat terpenuhi.
Karena itu, ketika rakyat semakin terhimpit sementara negara kurang hadir memberi perlindungan nyata, maka beban hidup akhirnya dipikul sendiri oleh masyarakat. Islam memandang kesejahteraan rakyat bukan sekadar target ekonomi, tetapi amanah besar yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.