| 41 Views
Pelajar Menjadi Pengedar Narkoba, Potret Buram Dunia Pendidikan Dalam Sistem Kapitalis
Oleh: Ummu Nayra
Aktivis Dakwah
Telah ditangkap polisi dua pengedar narkoba berinisial SH(26) dan KF. Keduanya warga Desa Kangga, Kecamatan Langgudu, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB). Penangkapan dilakukan pada Rabu (1/4) sekitar pukul 22:00 WITA di kediaman SH, Desa Kangga, Kecamatan Langgudu.
Diketahui terduga pengedar SH tidak bekerja, sedangkan KF masih berstatus pelajar. Saat ditangkap keduanya tidak melakukan perlawanan, sementara bandar alias pemasok barang haram tersebut masih diburu.
Dari tangan keduanya, petugas mengamankan sejumlah barang bukti berupa satu tas hitam berisi sabu dengan berat bruto 3,07 gram, satu handphone, alat isap (bong), plastik klip kosong, serta uang tunai sebesar Rp 1,5 juta.
"Barang bukti sabu disembunyikan di dalam tanah di samping rumah SH," kata Jahyadi.
Saat di interogasi, SH dan KF mengakui bahwa barang tersebut memang milik mereka yang mereka dapat dari seseorang berinisial MH, warga Desa Mangge, Kecamatan Lambu, Kabupaten Bima. (detikbali)
Sungguh memprihatinkan, remaja yang seharusnya menjadi calon pemimpin masa depan kini malah menjadi pelaku tindakan kejahatan, bukan hanya membahayakan diri sendiri melainkan juga orang lain.
Penerapan sistem kapitalis sekuler yang diterapkan di negeri ini telah berhasil menjadikan generasi remaja hidup didalam kebebasan mengikuti kata hati, sehingga apapun perbuatan yang bisa membuat mereka bahagia akan mereka lakukan tanpa lagi berpikir panjang akan akibatnya. Karena pandangan mereka didunia adalah untuk menikmati hidup.
Rusaknya Pola Pikir Remaja
Tentu saja faktor utamanya dikarenakan kurangnya pemahaman agama yang diberikan baik dari negara, masyarakat, maupun keluarga. Begitu pula dalam sistem pendidikan yang tidak berbasiskan islami, yang menyajikan segala ilmu pengetahuan hanya untuk kepentingan duniawi saja, sedangkan ilmu untuk menuju akhirat malah di kesampingkan dan ditinggalkan.
Ditambah lagi tidak sedikit dari remaja yang harus menyaksikan minimnya pendapatan perekonomian keluarga dikarenakan sistem kapitalis yang menjadikan sulitnya mencari pekerjaan, sehingga banyak orang tua yang menganggur, padahal kebutuhan harus terus terpenuhi ditengah harga yang semua serba mahal.
Lain lagi media sosial yang nyatanya membawa pengaruh buruk bagi para remaja, sehingga berbagai trend yang berasal dari barat banyak disajikan di media sosial seperti berbelanja, gaya hidup yang foya-foya, ruang lingkup pergaulan bebas, yang menjadikan minimnya moral remaja dan dapat mendorong mereka untuk melakukan perbuatan yang kebablasan dan tidak mau ketinggalan zaman.
Alhasil, rusaklah generasi akibat dari sistem yang rusak, ditambah lagi dengan kurangnya kontrol masyarakat yang dianggap salah satu pemicu untuk remaja bebas melakukan hal apapun. Bila sudah demikian siapa yang harus disalahkan, padahal remaja adalah pemimpin masa depan, ditangan mereka lah sesungguhnya masa depan negara diletakkan.
Islam dalam pendidikan remaja
Sebagai agama yang paripurna, Islam sangat menjunjung tinggi nilai moral dan akhlak khususnya bagi para remaja yang merupakan cikal bakal pemimpin masa depan. Akan dilakukan sistem pendidikan yang berbasis islami, sehingga tidak akan ada ilmu yang berasal dari barat dan bersifat merusak dalam dunia pendidikan Islam. Kalaupun ada pengetahuan umum, tentu saja bebas daripada pengaruh barat.
Begitu pula ruang lingkup keluarga yang mendidik anak mereka sesuai dengan arahan agama, karena pemimpin dalam Islam sangat menghimbau seluruh umat untuk taat kepada Allah dan Rasul-nya, dan menjadikan hukum-hukum Islam sebagai hukum dalam bernegara. Sehingga tidak sulit bagi orang tua untuk menafkahi anak-anak mereka, karena pemerintah sudah menjamin segala kebutuhan dan lapangan pekerjaan untuk umat.
Media sosial adalah sarana untuk mengembangkan pemikiran karena menyajikan berbagai ilmu syari'at dan bersifat mendidik. Selain itu pemerintah dalam Islam juga bertanggung jawab atas peribadahan yang dilakukan umatnya, sehingga akan diadakan patroli polisi keliling untuk memastikan umatnya dalam melaksanakan shalat 5 waktu.
Begitu pula peran masyarakat dalam menjalankan amar makruf nahi munkar demi menciptakan suasana yang kondusif, serta menjaga perkembangan generasi dan pergaulan serta menjadi teladan yang baik untuk remaja.
Masyaallah, begitu indahnya hidup dalam naungan Islam. Memiliki pemimpin yang bertanggung jawab penuh terhadap umat, dan menjadikan umat sebagai prioritas utama dalam hal kemaslahatan, serta menjadikan hukum-hukum Allah sebagai undang-undang dalam bernegara.
Wallahu a'lam bishawwab