| 441 Views
Merajalelanya Anak Durhaka dalam Asuhan Sekuler Kapitalis
Oleh : Fitria Rahmah, S.Pd.
Pendidik Generasi dan Aktivis Muslimah
Saat ini perilaku brutal di tengah masyarakat kian menjadi. Banyak kejadian di luar nalar terjadi. Kejadian-kejadian mengiris hati mewarnai dunia saat ini. Kasus pembunuhan kini tak lagi terjadi antara orang-orang yang tidak memiliki hubungan darah. Perilaku keji ini menyeruak hingga ke ranah keluarga. Sehingga tidak jarang kita jumpai istri membunuh suami atau sebaliknya, bahkan kini anak pun tega membunuh orang tua.
Orang tua sebagai sosok yang seharusnya kita hormati dan berbakti kepadanya, kini tak lagi dipandang seperti itu. Hal ini terbukti dengan kasus yang menghebohkan dunia jagat maya yaitu adanya penemuan mayat seorang pedagang di sebuah toko perabot di kawasan Duren Sawit, Jakarta Timur. Korban ditusuk pisau, sempat melawan lalu ditusuk lagi sampai akhirnya tewas. Diketahui, ternyata pembunuhnya yaitu dua anak kandungnya sendiri. Kapolres Jakarta Timur Kombes Nicholas Ary Lilipaly mengatakan, dua anak tersebut berinisial K berusia 17 tahun dan P berusia 16 tahun. Kasus ini ditangani oleh Resmob Polda Metro Jaya. Adapun motifnya, tersangka merasa sakit hati karena korban sering memarahi, menuduh mencuri, dan menyebutkannya anak haram. (Liputan6.com, 23-06-2024)
Sebelumnya terjadi kasus serupa di Pekon Padang Rindu, Kecamatan Pesisir Utara, Kabupaten Pesisir Barat, Lampung. Seorang pemuda berinisial S berusia 20 tahun tega menganiaya ayahnya sendiri yang sedang sakit stroke hingga meninggal dunia. Kejadian bermula ketika pelaku S sedang makan lalu ia dimintai tolong oleh sang ayah yang sakit stroke untuk diantar ke kamar mandi.
Namun pelaku menolak dan terjadilah cekcok. Kemudian pelaku memukul ayahnya berulang kali di bagian kepala hingga tak sadarkan diri. Korban sempat mendapatkan perawatan di Puskesmas setempat, namun nyawanya tak tertolong. (News.okezone.com, 14-06-2024)
Perilaku anak terhadap orang tua saat ini sangat jauh dari nilai-nilai agama. Hal ini akibat diterapkannya sistem sekulerisme, yaitu pemisahan agama dari kehidupan. Sekularisme melahirkan manusia-manusia miskin iman yang tidak mampu mengontrol emosinya, rapuh dan kosong jiwanya. Agama hanya dianggap sebagai ritual semata, di mana pelaksanaannya hanya di tempat-tempat ibadah. Sedangkan di ruang publik, agama tidak memiliki peran sama sekali.
Sistem ini pun melahirkan paham kebebasan, sehingga setiap individu bebas melakukan apa pun termasuk dalam berprilaku dan mengekspresikan emosinya, tanpa memandang halal dan haram. Sehingga, tak heran jika sistem ini melahirkan generasi yang rusak. Sistem ini pada akhirnya menjauhkan generasi dari hakikat penciptaannya sebagai hamba yang taat kepada Pencipta, dan lahirlah generasi rusak seperti yang sekarang nampak.
Di sisi lain, sistem sekuler kapitalis telah merusak dan merobohkan pandangan mengenai keluarga. Hubungan yang terjalin dalam sebuah ikatan keluarga hanyalah ikatan atas dasar manfaat, sebab keluarga dipandang sebagai materi. Ikatan kasih sayang akan semakin meningkat jika terdapat manfaat yang besar. Sebaliknya, ikatan kasih sayang akan mudah luntur, bahkan hilang apabila sudah tidak ada lagi manfaat yang dirasakan.
Sehingga, tak sedikit anak tega berkata dan berlaku kasar bahkan sampai membunuh orang tua ketika keinginannya tidak tercapai. Sebaliknya, mereka akan menyanjung orang tua setinggi langit ketika orang tua dapat memenuhi segala keinginannya.
Sistem ini telah mengalihkan kewajiban birrul wallidain atau berbakti kepada orang tua. Sejatinya, kewajiban ini harus terlaksana dalam setiap kondisi. Baik orang tua dapat memenuhi keinginan anaknya atau pun tidak. Sebagaimana firman Allah Swt. Dalam surah Al-Ahqaf ayat 15 : “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan.”
Rusaknya generasi saat ini diperparah dengan abainya masyarakat terhadap kondisi di sekitarnya. Paham kebebasan dari sistem sekuler telah melahirkan masyarakat yang individualis, tidak peduli terhadap lingkungannya. Mereka menganggap apa yang dilakukan oleh setiap individu adalah urusan pribadi orang tersebut. Sehingga, budaya amar makruf nahi mungkar tidak ada lagi di tengah-tengah masyarakat.
Selain itu, sistem pendidikan saat ini ikut berkontribusi dalam menciptakan generasi yang rusak. Sebab, pendidikan dalam sistem ini hanya berfokus untuk mencetak generasi yang mampu bersaing di dunia karier, individu yang mampu mencetak uang sebanyak-banyaknya.
Sistem pendidikan saat ini pun menjauhkan agama dalam proses mendidik anak. Sebab, agama tidak dijadikan landasan dalam sistem pendidikan. Akibatnya, sistem pendidikan yang diterapkan saat ini tidak menyentuh aspek afektif peserta didik. Agama tidak lagi sebagai pengontrol dan tolok ukur tiap individu dalam ucapan dan perbuatan. Sehingga, tak heran banyak ucapan dan perbuatan yang hilang kontrol. Alhasil, saat ini bermunculan peserta didik yang kurang hormat bahkan tidak hormat sama sekali pada guru dan orang tuanya.
Saat ini adalah masa tersuram dalam sebuah peradaban manusia, yaitu hilangnya moral manusia di bawah asuhan sistem sekuler-kapitalis. Penerapan sistem rusak ini telah sampai pada titik nadir keterpurukannya. Sebagai buktinya adalah manusia telah berada di titik keterpurukan terhadap perilaku, moral dan juga adab. Telah lenyap nilai-nilai peradaban mulia yang menyangkut hubungan anak dan orang tua.
Atmosfer yang berbeda seratus delapan puluh derajat akan tercipta manakala sistem sekuler kapitalis yang menjadi biang keladi dari kerusakan ini, tidak lagi diterapkan dalam sebuah negara. Sejatinya sistem ini harus diganti dengan sistem yang dapat menghasilkan kebaikan dikarenakan keberkahan yang terjadi ketika penerapannya. Oleh karena itu, dibutuhkan solusi yang sistemik untuk meyelesaikan polemik ini secara tuntas.
Hanya ada satu sistem yang dapat memberikan keberkahan dalam penerapannya, yaitu sistem Islam. Sistem yang telah terbukti tidak hanya dapat memanusiakan manusia, tetapi juga dapat memuliakan seluruh makhluk hidup yang bernaung di dalamnya. Sistem inilah yang kita kenal dengan sistem Islam. Sistem ini pernah diterapkan oleh Rasulullah Saw. ketika menjadi kepala negara, dan dilanjutkan oleh para khulafaur rasyidin juga oleh para khalifah selanjutnya.
Dalam sistem ini akidah akan menjadi landasan dalam bernegara. Islam memiliki mekanisme yang khas dalam melindungi dan menjaga akidah, kehormatan, keselamatan, dan kesejahteraan setiap rakyatnya.
Negara akan terjun langsung dalam mengurusi urusan rakyat. Pendidikan dalam sistem ini akan menjadikan agama sebagai landasan utama dalam pelaksanaannya. Fokus utama pendidikan dalam sistem Islam yaitu menjadikan setiap individu memiliki pola pikir dan pola sikap Islami, yang akan melahirkan generasi berkarakter Islam.
Dari generasi berkarakter Islam inilah terdapat individu-individu taat syariat, mereka akan menyadari hakikat mereka sebagai hamba yang senantiasa harus terikat dengan hukum syara. Karena setiap perbuatan, baik berupa tindakan maupun ucapan akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak. Sehingga, mereka akan senantiasa berhati-hati dalam berucap atau pun bertindak. Halal dan haram akan menjadi benteng yang senantiasa mereka perhatikan dalam mengambil keputusan.
Hal ini akan berimbas pada pembentukan keluarga. Keluarga yang terbentuk adalah keluarga yang kokoh dan menyadari secara baik kewajiban mereka sebagai anggota keluarga. Ayah sebagai kepala keluarga akan berusaha maksimal untuk memenuhi kebutuhan semua anggota keluarga dengan cara yang halal. Ibu berperan dalam pengasuhan dan juga sebagai sekolah pertama bagi anak-anaknya, akan bekerja sama dengan ayah dalam mendidik anak-anaknya dengan akidah Islam sebagai landasannya.
Anak pun akan menyadari kewajibannya untuk birrul wallidain atau berbakti kepada orang tua sebagai wujud rasa syukur atas pemeliharaan yang dilakukan orang tua. Mereka pun akan senantiasa mencari rida orang tua dengan berlaku dan bertutur kata sopan terhadap orang tua. Sebagaimana sabda Rasulullah saw: "Rida Allah tergantung pada rida orang tua dan murka Allah tergantung pada murka orang tua". (HR At-Tirmidzi, HR. Al-Hakim, Ath-Thabrani).
Hal ini dilakukan, karena kebahagiaan seorang muslim adalah ketika rida Allah ada di setiap aktivitasnya, bukan terletak pada sebesar-besarnya kesenangan duniawi. Begitu banyak firman-firman Allah dan juga hadist-hadist yang menerangkan untuk berlaku baik, hormat kepada orang tua, dan menerangkan akan bahaya durhaka karena merupakan salah satu dosa besar, sebagaimana sabda Raslullah Saw:
Dari Abdullâh bin ‘Amr, ia berkata: Seorang Arab Badui datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, “Wahai Rasûlullâh, apakah dosa-dosa besar itu?” Beliau menjawab, “Isyrak (menyekutukan sesuatu) dengan Allâh”, ia bertanya lagi, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Kemudian durhaka kepada dua orang tua,” ia bertanya lagi, “Kemudian apa?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Sumpah yang menjerumuskan”. Aku bertanya, “Apa sumpah yang menjerumuskan itu?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Sumpah dusta yang menjadikan dia mengambil harta seorang muslim”. (HR al-Bukhâri, no. 6255)
Maka tak heran jika anak-anak dalam sistem ini akan memiliki rasa hormat dan berbakti kepada orang tua, serta mampu untuk mengendalikan emosinya dihadapan orang tua, karena takut jika menyakiti hati orang tuanya.
Masyarakat yang tercipta adalah masyarakat yang senantiasa beramar makruf nahi munkar. Mereka akan selalu peduli terhadap lingkungan sekitar, ketika kemaksiatan terjadi di tengah-tengah masyarakat. Mereka akan cepat untuk bertindak agar kemaksiatan tersebut tidak terus berkembang dan berlanjut.
Jika masih terjadi bentuk kekerasan dari anak terhadap orang tua yang menyebabkan rusak anggota tubuh atau pun hilangnya nyawa. Maka, Islam memiliki sanksi yang mampu memberikan efek jera. Pelaku kejahatan akan berpikir beribu kali ketika tahu sanksi yang diberlakukan begitu berat. Uniknya, sistem sanksi dalam Islam memiliki dua fungsi, yaitu sebagai pencegah dan penebus dosa. Hal yang tidak dimiliki oleh sistem apa pun selain sistem Islam. Sistem Islam yang dibangun atas dasar akidah akan memancarkan solusi di semua problematika yang terjadi.
Dengan mekanisme yang khas inilah akan menjauhkan generasi dari kemaksiatan dan tindak kriminal. Sehingga dapat mencegah semua bentuk kejahatan termasuk kekerasan anak pada orang tua
Wallahu'alam bissawab