| 149 Views
Kota Bogor Dikepung Banjir, Tanda Kita Lengah?
Oleh: Puspa Ratnaningsih
Bogor
Hujan deras yang mengguyur Kota Bogor pada Sabtu malam, 5 Juli 2025, kembali menyisakan cerita duka bagi warga. Banjir, longsor, dan pohon tumbang terjadi serentak di delapan titik, memicu kepanikan dan kerugian materil. Ironisnya, kejadian semacam ini bukan yang pertama, bahkan sudah seperti bencana “tahunan” yang menanti waktu.
Warga bertanya, kenapa setiap kali hujan deras turun, bencana pun seolah wajib menyusul? Bukankah ini isyarat bahwa ada yang salah dalam sistem tata kota kita?
Memang, curah hujan tinggi adalah ketetapan dari Allah ﷻ. Namun, dampaknya tidak harus selalu buruk jika manusia mau berbenah. Jika mitigasi bencana dilakukan secara serius, sistematis, dan tidak terabaikan, maka hujan bisa jadi sumber keberkahan bukan bencana.
Sayangnya, di sistem kapitalis hari ini, prioritas pembangunan lebih banyak mengarah ke sektor ekonomi. Perizinan bangunan vila, restoran, hotel, perumahan, bahkan tempat wisata seringkali tak mempertimbangkan dampak lingkungan secara menyeluruh. Alhasil, ruang resapan air kian menyempit, dan Kota Bogor yang dulunya sejuk kini rawan tergenang air.
Kondisi seperti ini sejatinya tidak akan terjadi jika negara mengutamakan pengurusan rakyat di atas segalanya. Dalam sistem Islam, misalnya, negara wajib menjamin keamanan dan keselamatan warganya. Tata kelola wilayah dilakukan berdasarkan syariat Islam yang menyeluruh (kaffah), sehingga kebijakan pembangunan tidak semata berdasar profit, tapi maslahat bagi ummat.
Sudah saatnya kita merenung. Apakah pembangunan yang kita banggakan benar-benar untuk rakyat, atau hanya mengundang bencana demi keuntungan?