| 22 Views

Kecelakaan dan Kemacetan Parah saat Mudik Namun Hanya Sedikit Upaya yang Diberikan Pemerintah

Oleh: Jeenayra

Mudik merupakan kegiatan yang rutin dilakukan oleh masyarakat setiap tahunnya dalam rangka mengunjungi keluarga dan kembali ke kampung halaman. Biasanya, kegiatan ini mulai berlangsung menjelang Lebaran Idulfitri. Mudik dapat memberikan dampak baik dan buruk bagi masyarakat. Dampak baiknya adalah memberikan suasana kebersamaan dengan keluarga besar, khususnya bagi masyarakat yang berada di perkotaan. Adapun dampak buruknya yaitu dapat mengakibatkan kemacetan di jalan raya dan jalan tol. Kemacetan pada arus mudik ini juga menyebabkan banyaknya kecelakaan yang memakan korban jiwa.

Pada faktanya, kecelakaan dan kemacetan parah saat mudik selalu berulang setiap tahun. Namun, tidak ada upaya perbaikan yang dilakukan secara serius oleh pemerintah sehingga hal ini terus terjadi pada arus mudik dan arus balik, yang mengakibatkan banyaknya korban jiwa. Data menunjukkan bahwa kecelakaan saat mudik pada tahun 2026 mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2025, meskipun jumlah korban jiwa menurun. Data tersebut dihimpun dari 13 Maret 2026 hingga 19 Maret 2026 oleh Paninbinmas Subdit Dangkar Dirgakkum Korlantas Polri, Ipda Hanny Neno. Selisih antara tahun 2025 dan 2026 meningkat sebesar 1,99%. Walaupun jumlah korban jiwa mengalami penurunan, korban luka akibat kecelakaan pada arus mudik dan balik justru meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Data kecelakaan tahun 2026 menunjukkan bahwa korban meninggal dunia menurun sebesar 13,50%, sedangkan korban luka berat meningkat 9,42% dan luka ringan meningkat 19,63%. Kecelakaan ini banyak terjadi di tol Jawa Barat.

Kecelakaan yang memakan korban dalam jumlah tidak sedikit ini telah berulang kali terjadi, namun belum ada upaya serius dari pemerintah dalam mengatasi masalah kecelakaan dan kemacetan setiap musim mudik. Upaya yang dilakukan selama ini dinilai tidak memuaskan. Permasalahan mudik ini sangat berkaitan dengan minimnya pelayanan transportasi massal yang nyaman dan terjangkau. Akibatnya, jumlah kendaraan pribadi yang memenuhi jalan semakin meningkat. Selain itu, banyak jalan yang mengalami kerusakan sehingga meningkatkan risiko terjadinya kecelakaan. Kondisi ini sangat memprihatinkan, karena dalam sistem kapitalis, negara dinilai belum mampu mewujudkan fungsi pemimpin (presiden) yang seharusnya mengurus rakyat dan menjamin keselamatan mereka.

Dalam sistem kepemimpinan Islam, khilafah akan mewujudkan fungsi raa’in (khalifah) yang mengurus rakyatnya dengan baik serta menjamin keamanan dan keselamatan mereka, sekaligus mampu menyelesaikan berbagai permasalahan yang dihadapi. Negara juga akan menyediakan layanan transportasi massal yang aman, nyaman, murah, dan memuaskan bagi masyarakat. Selain itu, negara akan memfasilitasi perjalanan serta memperbaiki jalan-jalan yang rusak agar aman dilalui oleh para pengguna jalan.

Sebagaimana pada masa kekhalifahan yang dipimpin oleh Umar, beliau sangat mementingkan keselamatan rakyatnya. Tidak hanya manusia, hewan dan seluruh makhluk hidup pun diperhatikan. Dikisahkan bahwa suatu ketika ada seekor keledai yang terpeleset dan terjatuh akibat jalan yang rusak. Saat Umar mengetahui hal tersebut, ia menangis karena merasa bersalah dan takut berdosa. Ia kemudian segera memerintahkan perbaikan jalan tersebut agar tidak menimbulkan korban lagi. Berbeda dengan kondisi saat ini dalam sistem kapitalis, pemerintah dinilai seolah kurang peduli terhadap rakyat dan hanya melakukan upaya kecil tanpa mempertimbangkan sebab dan akibatnya. Semoga masa kekhalifahan dapat kembali terwujud sehingga masyarakat dapat hidup dengan aman dan nyaman dalam negara yang berlandaskan ajaran Islam.


Share this article via

51 Shares

0 Comment