| 89 Views

Kapitalisme Melanggengkan Utang, Islam Menawarkan Solusi Tuntas

Oleh: Asih Lestiani

Kenya merupakan negara di Afrika Timur yang dahulu dijuluki sebagai pusat pertumbuhan regional. Namun, saat ini tenggelam dalam krisis ekonomi yang makin parah: inflasi tinggi, pengangguran, korupsi merajalela, dan melonjaknya pajak membuat jutaan warga hidup dalam keputusasaan. Sekitar 40% penduduk Kenya kini hidup di bawah garis kemiskinan, kini penderitaan itu terasa nyata (CNBC Indonesia, 14/6/2025).

Kondisi ekonomi tragis yang dialami oleh Kenya, dimana utang negara telah melilit begitu dalam hingga rakyatnya tak lagi memiliki cukup uang untuk memenuhi kebutuhan dasar, merupakan potret nyata kegagalan sistem ekonomi kapitalisme global. Negara yang seharusnya menjadi pelindung dan penjamin kesejahteraan rakyat justru berubah menjadi agen penarik utang demi menutup lubang defisit dan menstabilkan ekonomi buatan.

Dalam sistem kapitalisme, pertumbuhan ekonomi lebih dikaitkan dengan investasi asing, bantuan luar negeri, dan pinjaman dari lembaga keuangan internasional seperti IMF atau Bank Dunia. Padahal, setiap utang yang diterima tidak pernah gratis. Ada bunga (riba), ada persyaratan kebijakan, dan seringkali ada tekanan untuk membuka pasar dalam negeri bagi kepentingan asing. Inilah bentuk penjajahan modern yang membelenggu negara-negara berkembang.

Ketika negara menjadikan utang sebagai solusi sistemik, maka jebakan demi jebakan pun terjadi. Rakyat dipaksa menanggung beban fiskal seperti kenaikan pajak, penghapusan subsidi, dan pemotongan anggaran publik. Inilah realitas pahit dari penerapan ekonomi kapitalisme yakni kekayaan hanya berputar di tangan segelintir elit dan korporasi, sementara mayoritas rakyat dibiarkan bertahan hidup dalam kemiskinan struktural.

Islam: Sistem Ekonomi Alternatif yang Adil dan Mandiri

Berbeda dengan kapitalisme, Islam memiliki sistem ekonomi yang bersumber dari wahyu Ilahi. Dalam Islam, negara tidak dibenarkan menggantungkan keberlangsungan ekonominya pada utang berbunga (riba), karena riba adalah haram dan merupakan bentuk kedzaliman.

Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengharamkan riba, hal ini sebagaimana dalam firman-Nya yaitu:

ٱلَّذِينَ يَأْكُلُونَ ٱلرِّبَوٰا۟ لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ ٱلَّذِى يَتَخَبَّطُهُ ٱلشَّيْطَٰنُ مِنَ ٱلْمَسِّ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوٓا۟ إِنَّمَا ٱلْبَيْعُ مِثْلُ ٱلرِّبَوٰا۟ ۗ وَأَحَلَّ ٱللَّهُ ٱلْبَيْعَ وَحَرَّمَ ٱلرِّبَوٰا۟ ۚ

Artinya: "Orang-orang yang makan atau mengambil riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al-Baqarah Ayat 275)

Negara dalam sistem Islam membangun ekonominya di atas asas kemandirian dan pengelolaan sumber daya alam secara langsung demi kemaslahatan dan kesejahteraan rakyatnya. Karena pemimpin di dalam sistem Islam sadar akan tanggung jawabnya sebagai pengurus urusan rakyatnya, dan ia akan diminta pertanggungjawaban kelak di akhirat atas apa yang dikerjakannya.

Islam mengatur kepemilikan menjadi tiga jenis yaitu milik individu, milik umum (rakyat), dan milik negara. Kekayaan milik umum seperti tambang, air, energi, dan hutan tidak boleh diprivatisasi, apalagi diserahkan kepada asing. Dalam hal ini negara wajib mengelola dan mendistribusikannya agar kebutuhan dasar masyarakat dapat terpenuhi tanpa harus berutang ataupun mengandalkan pihak luar atau asing.

Negara dalam sistem Islam juga tidak mengenal pajak sebagai sumber utama keuangan. Islam memiliki mekanisme keuangan yang adil seperti zakat, kharaj, jizyah, dan pengelolaan Baitul Mal yang kokoh. Dengan sistem ini, negara akan mampu membiayai berbagai kebutuhan publik tanpa harus menjerumuskan diri dalam jebakan utang luar negeri.

Islam Solusi Hakiki, Bukan Solusi Tambal Sulam

Krisis utang yang menimpa banyak negara, termasuk Kenya, bukanlah sekadar masalah teknis ekonomi, tapi merupakan buah dari diterapkannya sistem kapitalisme yang rusak secara mendasar. Selama sistem ini masih dijadikan landasan dalam pengelolaan negara, maka utang, kemiskinan, dan penderitaan rakyat hanya akan menjadi kisah yang terus menerus terulang.

Satu-satunya solusi hakiki adalah meninggalkan sistem kapitalisme dan kembali pada sistem ekonomi Islam yang adil, mandiri, dan menjamin kesejahteraan seluruh umat manusia. Sudah saatnya umat Islam bersatu menegakkan kembali sistem Islam kaffah yang pernah membawa dunia pada masa keemasan, di mana utang bukan budaya, dan kesejahteraan bukanlah mimpi.

Wallahu a'lam bishawab.


Share this article via

91 Shares

0 Comment