| 241 Views
#KabuAjaDulu, Antara Kekecewaan Generasi Dan Kesenjangan Ekonomi Dunia
Oleh : Ummu Alvin
Aktivis Muslimah
CNN Indonesia--Belakangan ini, warganet berbondong-bondong menyerukan tagar #KaburAjaDulu di sejumlah media sosial, termasuk X (Twitter). Bahkan sempat menjadi topik tren unggahan di Indonesia dalam media sosial X. Jika Anda mencari kata kunci tagar tersebut di fitur pencari X, Anda akan menemukan beragam unggahan tentang ajakan pindah ke negara lain. Entah dalam bentuk beasiswa pendidikan, lowongan pekerjaan, dan hal lainnya.Beberapa cuitan di X bahkan mengaitkan tagar #KaburAjaDulu dengan tagar viral lainnya seperti #PeringatanDarurat. Tak hanya itu, cuitan tagar ini juga disertai dengan keluhan netizen mengenai berbagai permasalahan di Indonesia.
Meski terlihat sederhana, menguatnya tagar ini menjadi indikasi bahwa kenyataannya banyak masyarakat Indonesia yang sungguh-sungguh berniat meninggalkan negara kelahirannya untuk mendapatkan kesejahteraan hidup yang lebih baik. Dalam tren #KaburAjaDulu ini, banyak warganet merekomendasikan sejumlah negara seperti Jerman, Jepang, Amerika, hingga Australia sebagai negara yang tepat untuk pindah.
Masifnya penggunaan tren #KaburAjaDulu juga menjadi sinyal kekecewaan masyarakat yang begitu besar terhadap pemerintah Indonesia. Hal-hal seperti pendidikan yang layak, lapangan pekerjaan, dan jaminan kualitas hidup dipandang netizen X sebagai sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh pemerintah Indonesia dibandingkan di negara lainnya.Tren #KaburAjaDulu dimaknai sebagai ungkapan kekecewaan sekaligus upaya masyarakat, terutama anak muda untuk mendapatkan kesejahteraan hidup lebih layak dengan mencari peruntungan di negara lain.
Fenomena ini bermula ketika orang-orang Indonesia yang bekerja di luar negeri membagikan informasi tentang kehidupan, lowongan pekerjaan, dan pengalamannya di media sosial. Namun, baru-baru ini tagar tersebut digunakan dengan ungkapan rasa kekecewaan dan kecemasan generasi muda terhadap isu sosial hingga politik yang terjadi di Indonesia.
Kemunculan tagar #KaburAjaDulu menjadi berkaitan dengan fenomena brain drain yang telah lama terjadi di Indonesia dan negara-negara berkembang sejak lama. Brain drain atau human capital flight adalah fenomena ketika orang pintar dan berbakat memilih untuk bekerja di luar negeri. Brain drain seringkali terjadi di negara-negara berkembang. Banyak orang dengan profesi seperti dokter, ilmuwan, hingga insinyur yang memilih untuk berkarir di luar negeri. Hal tersebut terjadi untuk mencari keuntungan yang lebih tinggi di negara lain, standar dan kehidupan yang lebih baik karena belum bisa didapatkan di negaranya sendiri. Selain itu, alasan lainnya misalnya karena ketidakstabilan politik hingga penyimpangan norma dan agama.
Kekecewaan, ketidakadilan, bahkan kesulitan dalam mencari pekerjaan yang dialami oleh warga hingga viral nya fenomena #kabur aja dulu, telah membuktikan kegagalan negara dalam meriayah dan mengurusi urusan umatnya, hilangnya fungsi dan peran negara sebagai pelindung menjadikan rakyatnya hilang arah bahkan ingin meninggalkan kampung halamannya, hal ini semua membuktikan kegagalan kebijakan politik ekonomi dalam negeri, adapun yang menjadi akar permasalahan kondisi ini adalah diambilnya sistem kapitalis sebagai asas negeri ini.
Kesenjangan ekonomi tidak saja terjadi di dalam negeri namun juga di tingkat dunia antara negara berkembang dan negara maju,kesenjangan yang terjadi menciptakan ketidakadilan dalam akses terhadap sumber daya dan kesempatan. Liberalisasi ekonomi yang semakin menguat mengakibatkan sumber daya alam dikuasai oleh segelintir orang, akhirnya kebutuhan hak asasi setiap warga tidak lagi mampu dipenuhi oleh negara, karena negara kehilangan sumber pemasukannya yang utama.
Dalam Islam negara wajib untuk membangun kesejahteraan bagi rakyatnya dan wajib pula bagi negara untuk memenuhi kebutuhan hak asasi setiap warganya individu per individu.Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, bersabda, “Seorang Imam adalah pemelihara dan pengatur urusan (rakyat). Ia akan diminta pertanggungjawabannya atas urusan rakyatnya.” (HR Bukhari dan Muslim).
Ada banyak mekanisme yang harus dilakukan negara termasuk dalam menyediakan lapangan pekerjaan bagi setiap laki-laki baligh, baik di sektor pertanian, perdagangan, industri dan jasa dengan pengelolaan SDA yang Allah limpahkan kepada kaum muslim.
Salah satunya yang dicontohkan oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz, pada masa kepemimpinannya, gaji para pegawai negara hingga ada yang mencapai 300 Dinar (1.275 gram emas) atau setara Rp. 114 750.000, sungguh luar biasa suatu nominal yang pantastis dan kehidupan rakyat pada masa itu sangat sejahtera dan berkah karena negara bertanggung jawab menciptakan lapangan pekerjaan untuk setiap individu masyarakat yang berada dalam naungannya.
Selain itu, strategi pendidikan Khilafah mampu menyiapkan SDM yang beriman dan siap membangun negara, dan negara juga peduli dan menjamin kehidupan mereka sebagai warga negara, sehingga tidak akan terlintas sedikitpun di benak mereka untuk meninggalkan negerinya. Tegaknya Khilafah akan menjadi rahmat bagi seluruh alam dan mewujudkan dunia yang adil dan sejahtera.
Wallahu a'lam bishowab.