| 30 Views

Ironi Daycare, Potret Buram Sistem Kapitalisme Sekuler

Oleh: Dwi 

Aktivis Dakwah

Beberapa waktu lalu publik dibuat geram dengan kasus dugaan penganiayaan di sebuah tempat layanan pengasuhan anak (daycare). Kasus tersebut terungkap setelah Daycare Little Aresha Yogyakarta digerebek pada Jumat (24/04/2026) sore. Polisi menemukan perlakuan tidak manusiawi terhadap anak, termasuk pengikatan tangan dan kaki. Sebanyak 103 anak tercatat sebagai korban, dengan lebih dari 50 mengalami kekerasan fisik (video.kompas.com, 26/04/2026). Saat diwawancarai, salah satu orang tua korban mengungkap telah memercayakan kedua anaknya selama hampir empat tahun kepada pihak daycare karena suami dan istri sama-sama bekerja dengan jadwal yang tidak menentu. 

Sistem kapitalisme telah meletakkan beban yang tak seharusnya dipikul oleh perempuan. Kondisi ekonomi yang menghimpit menjadikan kaum perempuan turut andil dalam menopang kehidupan keluarga. Walau dengan berat hati, para working mom harus rela meninggalkan putra putrinya dalam pengasuhan orang lain demi memenuhi kebutuhan finansial keluarga. 

Di lain sisi, sekularisme yang melahirkan ide feminisme telah menikung peran laki-laki. Kesetaraan gender dijadikan dalih untuk memberikan paradigma yang keliru terkait bekerja bagi perempuan. Jika laki-laki bisa bekerja, maka perempuan pun harus bisa. Tidak boleh ada larangan bagi perempuan untuk bekerja meski hanya demi mengejar sebuah prestige. Mereka menganggap sistem patriarki telah membatasi ruang gerak kaum perempuan. Eksisnya perempuan di ranah publik untuk menunjukkan bahwa perempuan bisa setara (dalam semua hal) dengan laki-laki. 

Kondisi ini dimanfaatkan oleh sistem kapitalisme hari ini untuk mendapatkan tenaga kerja yang mudah dikendalikan. Maka tak heran jika banyak perusahaan yang lebih memilik merekrut pekerja perempuan daripada laki-laki. Tak sedikit di antara pekerja itu adalah seorang ibu yang terpaksa menitipkan anaknya, salah satunya di daycare. Mereka berharap buah hatinya bisa mendapatkan pengasuhan yang baik dan terjamin keamanannya. Namun ironisnya, di tempat tersebut, justru terjadi penelantaran, bahkan tindak kekerasan fisik. Inilah salah satu potret buram hidup di sistem kapitalisme sekuler. 

Islam tak melarang perempuan untuk berkiprah di ranah publik. Lain halnya dengan laki-laki, bekerja bagi seorang perempuan hukum asalnya adalah mubah (boleh) bukan wajib. Islam memuliakan perempuan bukan dengan menjadikannya sama seperti laki-laki. Islam justru memberikan keistimewaan bagi perempuan, salah satunya terkait nafkah. Kewajiban mencari nafkah bukanlah di pundak kaum perempuan, melainkan laki-laki. Sebagai seorang anak, dia mendapatkan nafkah dari ayahnya. Apabila ayahnya telah wafat, maka dia menjadi tanggungan saudara laki-lakinya. Jika dia anak tunggal, maka kewajiban itu dialihkan ke saudara laki-laki dari ayahnya. Ketika dia berstatus sebagai istri, maka dia berhak mendapakan nafkah dari suaminya. Bahkan, jika statusnya janda tak lantas menjadikannya memiliki kewajiban mencari nafkah untuk dirinya ataupun anaknya. Kewajiban itu akan diambil alih oleh negara. Negaralah yang akan mencukupi kebutuhannya melalui mekanisme Baitul Mal. Pengaturan Islam terhadap perempuan ini membuat perannya dalam ranah domestik sebagai ummu warabbatul bait (ibu dan pengatur rumah tangga) dan dalam ranah umum sebagai ummu ajyal (pencetak generasi) akan terjaga. 

Islam menjaga fitrah perempuan sebagai pencetak generasi emas. Negara Islam berperan besar dalam mewujudkannya. Lahirlah darinya generasi pemimpin peradaban yang berkiprah besar dalam memberikan sumbangsih bagi dunia. Ibnu Khaldun, Al-Farabi, Ibnu Sina, Al-Haytam, Imam Syafi'i, adalah sebagian kecil dari potret generasi emas tersebut. Inilah mekanisme Islam menjaga fitrah ibu dan mewujudkan generasi mulia pemimpin peradaban.


Share this article via

53 Shares

0 Comment