| 401 Views

Harga Gula Melejit,Islam Solusi Konferhensif

Oleh : Teh Eros

Relaksasi HAP (Harga Acuan Pemerintah) telah diperpanjang oleh Badan Pangan Nasional, hingga waktu yang tidak ditentukan. Relaksasi HAP pembelian gula konsumsi ini akan berlangsung tiga bulan, semenjak pertama kali diberlakukan yaitu pada 5 April 2024 yang lalu. Dengan relaksasi tersebut harga gula naik dari Rp 16.000 menjadi Rp 17.500 per kg dan Rp 18.500 per kg di bagian timur Indonesia. Hal itu disampaikan oleh Kepala Bapanas Arief Prasetyo Adi ke wartawan, Jumat (28/06/2024). Dilansir dari katadata.co.id.

Gula merupakan salah satu kebutuhan yang dibutuhkan oleh manusia. Sayangnya, harga gula kian hari makin melejit. Akibat kurangnya ketersedian barang yang mengakibatkan tinggi nya harga gula. Hal ini dikarenakan tata kelola perniagaan yang buruk.

Mengapa hal ini terjadi? Hal ini akibat dari adanya praktik permainan harga oleh penimbunan, ritel, hingga monopoli. Namun, praktik di atas merupakan hal yang biasa terjadi dalam sistem kapitalisme yang sedang bercokol saat ini. Sebab, sistem kapitalisme menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya.

Memang seperti inilah kondisi ketika negara menerapkan sistem kapitalisme hanya berperan sebagai regulator. Sebaliknya pihak yang lebih di untungkan oleh adanya regulasi adalah para kapitalis oligarki yang menguasai bahan pokok untuk mendapatkan keuntungan yang besar dengan kenaikan harga bahan pokok.

Tidak hanya mendapatkan keuntungan yang besar, para oligarki ini bahkan bisa mengatur di pasar karena mereka melakukan praktek oligopoli, sedangkan rakyat hanya bisa pasrah dengan kenaikan harga bahan pokok. Alhasil, rakyat dipaksa memeras otak dan membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya. 

Sungguh berbeda dengan sistem Islam, dalam sistem Islam negara berfungsi sebagai pengurus rakyat. Sebagaimana Rasulullah saw bersabda :
“Imam/khalifah itu laksana penggembala dan hanya dialah yang bertanggung jawab terhadap gembalaannya.”
(HR Bukhari dan Muslim).

Untuk mengatasi kurangnya ketersediaan barang, maka negara dalam Islam berkewajiban mendorong kemandirian produksi gula tanpa harus membuka keran impor. Pemanfaatan lahan kosong, mensubsidi pupuk, serta pemanfaatan teknologi merupakan upaya yang dilakukan negara agar hasil produksi tetap melimpah. 

Sementara itu, dalam sistem Islam, harga barang ditentukan berdasarkan mekanisme pasar. Hal ini terkait dengan distribusi, biaya pengadaan, dan lain hal sebagainya. Oleh karena itu, sudah saatnya kita menerapkan Islam secara menyeluruh dan meninggalkan sistem kapitalisme yang ada agar kurangnya ketersediaan gula bisa diatasi dan harga gula tidak akan melejit.

Wallahu'alam bishshwwab.


Share this article via

188 Shares

0 Comment