| 23 Views

Hardiknas, Cita-Cita Pendidikan Masih Jauh dari Harapan

Oleh: Finis 

Polisi akhirnya menetapkan enam tersangka dalam penganiayaan yang berujung tewasnya seorang siswa pelajar SMA Negeri 5 Bandung bernama Muhammad Fahdly Arjasubrata (17) di kawasan Cihampelas, Kota Bandung, Jawa Barat, pada 13 Maret 2026. Enam tersangka juga berstatus dari SMA berbeda dengan korban. Korban diduga dikeroyok para tersangka saat pulang dari kegiatan buka puasa bersama teman sekolahnya di Jalan Cihampelas pukul 23.30 WIB (kompas.id, 21/4/2026). 

Hardiknas yang diperingati setiap tahunnya menyisahkan tanda tanya besar. Sudahkah dunia pendidikan saat ini berjalan sesuai harapan? Adakah perubahan ke arah yang lebih baik dilihat dari capaian- capaiannya? Ataukah hanya sekadar formalitas belaka tanpa makna? 

Dalam hal ini penting bagi semua pihak untuk berpikir kritis, mulai dari keluarga, masyarakat, terutama negara yang memiliki wewenang dalam pelaksanaan pendidikan rakyatnya. Peta jalan pendidikan yang telah digariskan pemerintah selama ini jauh dari harapan. Generasi yang diharapkan mampu membangun peradaban, ternyata sangat memprihatinkan.

Krisis moral terjadi di mana-mana. Kepribadian generasi dibentuk menjadi liberal, sekuler, dan materialisme. Mereka menjadi pribadi yang mengagungkan kebebasan dan jauh dari aturan agama. Segala sesuatu diukur dari capaian materi. Tanpa landasan hidup yang kuat, kepribadian generasi sangat rapuh. 

Generasi hari ini mudah putus asa dan kehilangan arah tujuan hidup. Mereka lebih mengutamakan emosi tanpa berpikir mendalam. Penerapan sistem kapitalisme-sekuler menghasilkan generasi yang suka berpikir instan, ingin sukses secara materi tanpa mau bekerja keras. Karena tolak ukur kehidupan berasaskan materi, jalan apa pun mereka tempuh, tanpa peduli halal-haram. Yang penting mendapatkan materi sebanyak-banyaknya. 

Sementara sanksi hukum oleh negara sangat longgar bagi pelajar yang melakukan tindak kejahatan. Negara menganggap kejahatan yang dilakukan oleh pelajar hanya kenakalan remaja semata sehingga kasus kenakalan remaja terus berulang, bahkan makin meningkat. 

Sistem pendidikan sekuler menjadikan pelajar makin jauh dari pemahaman Islam yang benar. Hidup mereka makin liberal (bebas) tanpa aturan agama. Kepribadian dan moral mereka rapuh. Alhasil, lahirlah generasi lemah yang mudah terbawa arus kemaksiatan dan tindak kejahatan yang makin marak di kalangan pelajar dan generasi. 

Di dalam sistem pemerintahan Islam (khilafah), pemenuhan kebutuhan pendidikan wajib dilakukan oleh negara. Dengan landasan akidah Islam, negara mampu mencetak generasi yang berkepribadian Islam yang memiliki pola pikir dan pola sikap Islami. Mereka ditempa menjadi generasi yang cerdas dan bertakwa sehingga tidak akan melakukan kecurangan dan kejahatan dalam meraih kesuksesan. 

Di dalam kitab Nizamul Islam karya Syekh Taqiyuddin an-Nabhani pada Pasal 172 disebutkan, "Tujuan pendidikan adalah membentuk kepribadian Islam serta membekalinya dengan berbagai ilmu dan pengetahuan yang berhubungan dengan kehidupan. Metode penyampaian pelajaran dirancang untuk menunjang tercapainya tujuan tersebut. Setiap metodologi yang tidak berorientasi pada tujuan tersebut dilarang." 

Selain itu, negara memiliki sistem sanksi yang tegas terhadap pelaku kejahatan, termasuk para pelajar. Sistem sanksi dalam Islam bersifat zawajir (pencegah) dan jawabir (penebus). Penerapan sanksi yang tegas mampu meminimalisasi orang-orang untuk melakukan kejahatan karena negara khilafah yang berlandaskan akidah Islam selalu menciptakan suasana keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT di tengah-tengah masyarakat. Dengan mekanisme ini terwujudlah individu yang bertakwa dan masyarakat yang senantiasa beramar makruf nahi mungkar. 

Dengan penerapan syariat Islam secara kafah oleh negara, maka individu, masyarakat, dan negara akan bersama saling mendukung dalam mencapai tujuan pendidikan yang sesuai  dengan harapan, menciptakan generasi yang mampu menorehkan tinta emas peradaban. Sejarah telah mencatat kegemilangan generasi Islam dalam naungan khilafah yang berhasil menjadi mercusuar peradaban dunia selama 13 abad. Generasi seperti inilah yang seharusnya kita wujudkan.

Wallahu a'lam.


Share this article via

28 Shares

0 Comment