| 29 Views

Generasi Muda dalam Bahaya Algoritma Kapitalisme

Ilustrasi media sosial. (Unsplash/Shutter Speed)

Oleh: Ummi Balqis

Aktivis Dakwah

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, generasi muda menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Ruang digital yang seharusnya memberi manfaat justru menghadirkan berbagai risiko, terutama bagi anak muda yang hidup dengan keterbatasan ekonomi. Mereka kerap menjadi sasaran iklan judi online (judol) dan pinjaman online (pinjol). Fenomena ini tidak terjadi secara kebetulan, melainkan merupakan hasil dari cara kerja algoritma platform digital yang membaca kebiasaan pengguna dan menampilkan konten yang paling menguntungkan secara ekonomi.

Sejumlah kajian yang dilansir Kompas.id menunjukkan bahwa kaum muda dengan sumber daya finansial terbatas, terutama laki-laki, lebih sering terpapar iklan berisiko, seperti pinjaman cepat, investasi kripto, hingga judi daring di platform media sosial seperti TikTok dan Instagram. Algoritma mampu mengenali kondisi sosial ekonomi pengguna melalui jejak digital mereka, lalu menyesuaikan iklan berdasarkan kerentanan tersebut. Keinginan anak muda untuk memperbaiki kondisi hidup membuat mereka lebih mudah tertarik pada tawaran penghasilan cepat, meskipun berisiko tinggi (5/12/2025).

Data juga menunjukkan bahwa 58% Gen Z menggunakan pinjaman online untuk kebutuhan gaya hidup dan hiburan. Pada saat yang sama, jumlah rekening pinjaman usia muda terus meningkat, sebagaimana dicatat oleh OJK. Fakta ini mengindikasikan adanya persoalan yang lebih luas dan bersifat sistemik, bukan semata-mata persoalan pilihan individu.

Kapitalisme Digital Menjadikan Generasi sebagai Pasar

Tekanan ekonomi dalam sistem kapitalisme yang berjalan saat ini turut memengaruhi kondisi tersebut. Ketika lapangan kerja terbatas, upah tidak sebanding dengan kebutuhan hidup, dan biaya hidup terus meningkat, sebagian anak muda melihat judol dan pinjol sebagai jalan keluar yang tampak mudah. Namun, kenyataannya, jalan ini sering kali justru membawa mereka pada masalah yang lebih besar, seperti lilitan utang, kecanduan, tekanan psikologis, bahkan tidak jarang berujung pada kondisi yang fatal.

Di sisi lain, ruang digital beroperasi dengan logika keuntungan. Platform digital lebih fokus pada mempertahankan perhatian pengguna demi kepentingan ekonomi, dibandingkan memastikan keamanan dan keselamatan mereka. Akibatnya, konten yang mengandung unsur judi, utang, dan gaya hidup konsumtif menjadi semakin mudah diakses dan perlahan dinormalisasi.

Saat ini, judi online dan pinjaman online sejatinya merupakan buah dari sistem yang diterapkan. Keduanya adalah produk yang lahir secara sah dari logika kapitalisme digital itu sendiri, yakni menempatkan keuntungan di atas segalanya. Selama suatu aktivitas mampu menghasilkan keuntungan dan menggerakkan roda ekonomi, maka aktivitas tersebut akan terus diberi ruang. Karena itu, selama sistem kapitalisme masih diterapkan, judol dan pinjol tidak akan pernah benar-benar diberantas, melainkan hanya diatur atau dibatasi sejauh tidak mengganggu stabilitas ekonomi.

Dalam situasi ini, peran negara sebagai pelindung generasi terasa belum optimal. Sistem pendidikan yang lebih menekankan aspek material belaka membuat generasi makin jauh dari pemahaman nilai yang kokoh tentang halal dan haram. Lingkungan masyarakat pun cenderung permisif terhadap praktik berisiko selama dianggap menguntungkan secara materi, sehingga generasi tumbuh tanpa pegangan moral yang kuat.

Dalam sistem kapitalisme liberal, keselamatan generasi bukanlah prioritas utama. Fokus sistem ini adalah menjaga pertumbuhan ekonomi dan keuntungan yang sebanyak-banyaknya. Selama suatu aktivitas dinilai berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi, dampak jangka panjang terhadap mental, moral, dan masa depan generasi sering kali terabaikan. Akibatnya, generasi muda dipaksa menyesuaikan diri dengan sistem, alih-alih sistem yang hadir untuk melindungi mereka.

Ketika tekanan hidup bertemu dengan kebebasan yang tidak diiringi arah yang jelas, sebagian anak muda akhirnya memilih jalan pintas yang keliru. Hal ini tidak terlepas dari pandangan hidup yang memisahkan agama dari kehidupan sehari-hari, di mana agama sering kali dipahami sebatas ritual, bukan sebagai pedoman dalam bersikap dan mengambil keputusan.

Islam Menjadi Pelindung dan Penuntun Generasi

Kondisi ini mengajak kita untuk merenung dan mencari solusi yang lebih mendasar, yakni mencabut kapitalisme dari akarnya dan menggantinya dengan Islam yang berasal dari Sang Maha Pencipta, Allah SWT. Tak hanya sebagai agama semata, Islam hadir sebagai sistem terbaik dan sempurna dalam mengatur seluruh aspek kehidupan manusia.

Sistem ekonomi Islam menawarkan jaminan kesejahteraan bagi seluruh rakyat, termasuk generasi muda, secara individu. Negara memiliki tanggung jawab untuk memastikan kebutuhan dasar terpenuhi sehingga generasi tidak terdorong mencari solusi instan yang berisiko. Ekonomi dibangun dengan berlandaskan ajaran Islam, sehingga keselamatan generasi tidak dikorbankan demi meraih keuntungan semata.

Pendidikan Islam pun berperan penting dalam membentuk kepribadian generasi. Generasi dibentuk dengan senantiasa menanamkan kesadaran bahwa setiap tindakan terikat pada halal dan haram, bukan semata-mata mengejar keuntungan materi. Pendidikan Islam tidak hanya berfokus pada capaian akademik, tetapi juga membentuk pola pikir dan pola sikap Islami sehingga terwujud generasi berkepribadian Islam yang memiliki kompas moral yang jelas dalam menghadapi tantangan zaman. Dengan demikian, generasi tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga baik dalam akhlak.

Selain itu, pengelolaan infrastruktur digital dalam negara yang menerapkan sistem Islam (Khilafah) didasarkan pada paradigma Islam. Negara mengatur ruang digital agar terhindar dari konten yang merusak, normalisasi maksiat, dan tindak kriminal. Teknologi diarahkan untuk kemaslahatan umat dan sebagai sarana dakwah, bukan semata alat pencarian keuntungan.

Oleh karena itu, generasi Muslim perlu memahami jati dirinya. Mereka bukan sekadar pengguna teknologi, tetapi juga calon pembangun peradaban. Melalui pembinaan Islam dan aktivitas dakwah bersama kelompok dakwah Islam ideologis, generasi dapat dibimbing untuk keluar dari berbagai jebakan sistem yang merugikan dan kembali mengambil peran positif di tengah masyarakat.

Semua ini dapat terwujud ketika agama tidak hanya hadir sebagai simbol, tetapi benar-benar menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, generasi yang kuat tidak lahir dari kebebasan tanpa arah, melainkan dari nilai yang jelas, lingkungan yang sehat, dan petunjuk Allah yang dijadikan pegangan.

Melihat realitas hari ini, sudah saatnya umat kembali kepada Islam secara kaffah, yaitu menjalankannya secara menyeluruh. Dengan kembali kepada aturan Allah secara utuh, generasi diharapkan mampu terlindungi dari berbagai dampak negatif kapitalisme digital dan tumbuh menjadi pribadi yang beriman, berakhlak, dan berdaya. Islam tidak hanya sebagai agama, tetapi juga solusi yang menyeluruh bagi individu, masyarakat, dan negara.

Islam akan memberikan kemaslahatan ketika diterapkan dalam tiga ranah kehidupan: individu yang bertakwa, masyarakat yang saling menguatkan dalam kebaikan, dan negara yang menjadikan syariat sebagai dasar pengaturan urusan publik. Dengan keterikatan ini, kehidupan akan berjalan lebih harmonis dan generasi terlindungi dari kerusakan moral.

Inilah saatnya untuk kembali kepada Islam secara kaffah dan menjadikannya pedoman dalam seluruh aspek kehidupan, demi menyelamatkan generasi dan membangun peradaban yang gemilang.

Wallahu a‘lam bish-shawab.


Share this article via

88 Shares

0 Comment