| 179 Views

Gaza Dibungkam, Dunia Mengecam, Umat Menanti Tentara Islam

Oleh: Almaidj

Sejak 18 September 2025, Gaza kembali gelap gulita. Bukan hanya listrik yang padam, tetapi internet dan telekomunikasi juga diputus total. Ribuan tank Israel dikerahkan untuk mengepung warga sipil, sementara jalur evakuasi Salah al-Din dibuka dengan dalih “mengamankan” penduduk—padahal hakikatnya adalah strategi pengosongan Gaza.

Kondisi ini bukan sekadar operasi militer biasa, tetapi pemutusan total akses hidup: koordinasi, kedaruratan, bahkan berita. Gaza seperti ditelan bumi, tanpa suara, tanpa saksi.

Meski dunia internasional ramai-ramai mengecam, Israel tetap bergeming. Belgia melarang impor dari Israel. Spanyol bahkan mengesahkan undang-undang embargo senjata. Norwegia menarik investasi dari perusahaan-perusahaan Israel. Uni Eropa berencana menjatuhkan sanksi terhadap pejabat sayap kanan Israel. Dari Hollywood, ribuan seniman menyerukan boikot, bahkan dunia olahraga pun ikut mengambil sikap. PBB pun angkat suara, mengingatkan dunia agar tidak tunduk pada intimidasi Israel.

Namun, apakah semua ini mengubah nasib Gaza? Tidak. Israel tetap berjalan sesuai naskah agungnya: membangun “Israel Raya” dengan menjadikan Palestina sebagai pusat kekuasaan.

Membungkam Gaza, Membungkam Dunia
Dengan memutus komunikasi, Israel tidak hanya membungkam Gaza, tapi juga berusaha memutus simpati dunia. Tanpa akses, tragedi kemanusiaan bisa terjadi tanpa saksi, tanpa narasi, tanpa bukti.

Strategi Migrasi Paksa
Jalur evakuasi yang dibuka hanyalah bentuk baru pengusiran massal, strategi lama untuk mengosongkan Gaza. Bagi Israel, Gaza harus dibersihkan agar proyek Israel Raya berjalan mulus.

Internasional Mengecam, Israel Tak Peduli
Boikot internasional, meski deras, tetap hanya terasa seperti lipstik politik. Di balik meja diplomasi, kerja sama ekonomi, militer, dan politik dengan Israel terus berlanjut selama masih menguntungkan.

Dukungan Amerika dan Kapitalisme Global
Israel bukan berdiri sendiri. Di belakangnya ada Amerika Serikat, motor kapitalisme global yang menjadi rumah para kapitalis terafiliasi Zionis. Inilah sebabnya sanksi internasional hanyalah angin lalu bagi Israel.

Pertanyaannya, sampai kapan dunia hanya bisa mengecam? Sampai kapan boikot yang rapuh jadi “senjata utama”?

Sejarah membuktikan, penjajahan dan kezaliman hanya bisa dihentikan dengan kekuatan politik dan militer yang nyata. Islam telah mengajarkan bagaimana sebuah negara seharusnya berdiri di atas syariat: bukan sekadar mengecam, tapi melindungi umat, menggerakkan tentara, dan menyatukan kekuatan kaum Muslim di bawah satu komando.

Rasulullah ﷺ telah mencontohkan kepemimpinan yang mengurus rakyat, menolak dominasi asing, dan melindungi kehormatan kaum Muslim. Para khalifah setelah beliau meneruskan risalah ini dengan kekuatan politik dan militer yang disegani dunia.

Hari ini, solusi yang sama tetap relevan. Gaza tidak butuh sekadar kecaman, tapi pertolongan nyata dari kekuatan yang berlandaskan syariat Islam. Dunia Islam butuh kembali pada satu kepemimpinan yang mengikat, bukan tercerai-berai dalam batas nasionalisme.

Hanya dengan menegakkan syariat Islam dalam sistem bernegara, umat ini mampu menghadirkan solusi tuntas: menghapus penjajahan, melindungi Palestina, dan menghadirkan keadilan bagi seluruh dunia.

Wallahu a’lam bish Showab.


Share this article via

262 Shares

0 Comment