| 244 Views

Fenomena Fatherless Lahir Dari Sistem Kehidupan Kapitalisme Sekuler

Oleh : Yeni Ummu Alvin
Aktivis Muslimah

Fenomena fatherless tengah merebak secara luas dan masif di Indonesia.Fatherless adalah ketiadaan peran ayah dalam pengasuhan baik secara fisik maupun secara emosional, namun dari kasus fatherless di Indonesia yang terjadi menunjukkan bahwa sosok ayah hadir secara fisik namun absen secara emosional dan dalam peran pengasuhan anak.

Menurut data yang dipublikasikan Kompas 8 Oktober 2025, menunjukkan bahwa sekitar seperlima anak Indonesia atau 20,1% (15,9 juta anak), tumbuh tanpa pengasuhan ayah atau mengalami kondisi yang dikenal sebagai fatherless, dari survei juga diketahui banyak ayah bekerja lebih dari 60 jam per pekan sehingga tidak memiliki waktu untuk berinteraksi dengan anak, di sisi lain terdapat juga anak-anak yang benar-benar kehilangan ayah karena perceraian atau kematian.

Dampak Fatherless.
Dari hasil survei kualitatif pada 16 psikolog klinis di 16 kota di Indonesia, 9 diantaranya menyatakan bahwa dampak fatherless yang terjadi terhadap anak adalah rasa minder dan emosi/mental yang labil. Adapun 7 psikolog lainnya menyatakan fatherless berdampak pada kenakalan remaja. 5 psikolog menyebut sulit berinteraksi sosial dan 4 menjawab motivasi akademik rendah sebagai dampak berikutnya. Psikolog di Toraja, Sulawesi Selatan lindarda S Panggalo menyebutkan, anak yang tumbuh tanpa figur ayah bisa bertumbuh menjadi anak yang tidak percaya diri dan kadang-kadang banyak menjadi korban kekerasan.

Generasi fatherless tidak lahir dari ruang hampa, tapi buah sistem kapitalisme sekuler. Ayah disibukkan dengan urusan mencari nafkah, sehingga waktu untuk membersamai anak minim. Hal ini akan berpengaruh pada ikatan dan kedekatan ayah dan anak serta akan memunculkan jarak diantara keduanya.

Penerapan sistem ekonomi kapitalis yang hanya berpihak pada segelintir elite menjadikan posisi ayah semakin sulit, seorang ayah harus rela menghabiskan seluruh waktunya untuk bekerja demi mencukupi kebutuhan keluarganya hingga terpaksa mengabaikan untuk mendampingi  pengasuhan buah hatinya. Selain itu tingginya angka perceraian juga mempengaruhi merebaknya fenomena fatherless di Indonesia, adapun yang menjadi penyebab tingginya perceraian ini adalah faktor ekonomi, sulitnya lapangan pekerjaan dan sebagainya yang tidak berpihak pada keseimbangan hidup keluarga.

Faktor kemajuan teknologi digital juga mempengaruhi hubungan ayah dan anak, sebelumnya kita ketahui ada fenomena lonely in the crowd, yang juga disebabkan oleh media sosial, seseorang yang menjadi terasing di tengah keramaian, menghabiskan waktu berjam-jam di media sosial tapi tidak mampu membangun komunikasi yang baik dengan keluarganya sendiri termasuklah apa yang dialami oleh ayah dan anak hingga memunculkan fenomena fatherless, hubungan ayah dan anak menjadi buruk bahkan terasa jauh karena masing-masing sibuk dengan gadgetnya. Hal ini pulalah yang menghilangkan fungsi qawwam dalam diri para ayah, baik sebagai pemberi nafkah dan juga sebagai pemberi rasa aman bagi anak-anaknya. Pemisahan agama dari kehidupan menyebabkan orang tua tidak tahu peran pentingnya dalam pola pengasuhan anak, begitu pula pada diri anak yang kurang mendapatkan pendidikan agama dari orang tuanya.

Berbeda dengan Islam di mana setiap orang tua memiliki fungsi yang sama-sama penting, fungsi seorang ayah sebagai pemberi nafkah dan juga memberikan teladan dalam pendidikan. Sebagaimana firman Allah dalam QS  Luqman ayat 17 yang artinya,  "Wahai anakku! Dirikanlah salat, suruhlah manusia berbuat yang ma'ruf dan cegahlah dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting".

Seorang ibu juga punya peran penting dalam hal mengasuh, menyusui, mendidik dan mengatur rumah tangga. Ayah bertanggung jawab terhadap keluarganya termasuk dalam urusan pendidikan anaknya terutama dalam menanamkan tauhid dan menjadi teladan dalam keluarganya. 

Dalam Islam seorang ayah wajib untuk bekerja agar dapat menafkahi keluarganya, namun dengan adanya sistem Islam secara Kaffah dalam setiap aspek kehidupannya menjadikan orang ayah mampu menunaikan kewajibannya tanpa meninggalkan kewajibannya dalam membentuk karakter dan kepercayaan diri anak.

Negara yang menerapkan Islam secara Kaffah juga akan mensupport peran ayah dengan membuka lapangan kerja dengan upah yang layak serta memberikan jaminan kehidupan sehingga ayah bisa memiliki waktu yang cukup bersama anak. Dengan menerapkan pendidikan yang berbasiskan aqidah Islam, maka setiap keluarga muslim akan memahami tujuan hidupnya serta paham akan perannya masing-masing di dalam keluarga, oleh karena itu solusi tuntas untuk fenomena fatherless ini adalah dengan mengembalikan peran ayah dalam pendidikan tentunya dengan penerapan Islam secara kaffah di bawah naungan Daulah Khilafah.

Wallahu a'lam bishowab.


Share this article via

59 Shares

0 Comment