| 37 Views

Di Tanah Emas, Anak Papua Mati Demi Biaya Kuliah

Lima jenazah ditandu hingga di halaman depan pos Brimob Tembagapura, salah satunya Nalince Wamang yang tewas di kamp pendulangan emas, Kamis (7/5/2026) malam. (Ist)

Oleh: Welly Okta M.

Nalince baru 17 tahun. Baru lulus sekolah di Mimika. Saat banyak remaja seusianya sibuk menentukan kampus impian, Nalince justru sibuk mencari cara agar bisa membayar pendidikan yang seharusnya menjadi haknya.

Ia pergi ke Mile 69, Tembagapura. Bukan untuk wisata, bukan untuk mencari sensasi, tetapi untuk mendulang sisa serpihan emas di tengah limbah tambang demi uang pendaftaran kuliah.

Lalu terdengar tembakan.

Nalince tewas.

Ironi Indonesia kembali dipertontonkan dengan telanjang: seorang anak perempuan Papua, lahir di tanah yang menyimpan emas bernilai triliunan, justru harus mempertaruhkan nyawanya demi bisa duduk di bangku pendidikan.

Kita terlalu sering membanggakan kekayaan alam Papua, tetapi gagal memastikan rakyat di atas tanah itu hidup dengan layak. Gunung emas dikeruk bertahun-tahun, investasi terus dibicarakan, tetapi akses pendidikan bagi anak-anak setempat masih terasa mahal dan jauh.

Pertanyaan yang muncul sederhana namun menyakitkan: sejak kapan anak 17 tahun yang membawa nampan dulang dianggap ancaman lebih besar daripada kemiskinan dan ketidakadilan itu sendiri?

Tragedi Nalince bukan sekadar berita duka. Ini tamparan keras bagi negara, bagi industri, dan bagi semua pihak yang selama ini sibuk bicara pembangunan sambil membiarkan anak-anak di wilayah terkaya negeri ini berjuang sendirian untuk masa depan mereka.

Sebab bangsa yang benar-benar maju bukan diukur dari banyaknya emas yang diangkat dari perut bumi, melainkan dari seberapa aman anak-anaknya bermimpi tanpa harus kehilangan nyawa terlebih dahulu.

Fokus utama dalam pendidikan Islam adalah aspek keimanan dan ketakwaan. Dengan demikian, anak didik dan masyarakat akan selalu mengaitkan setiap peristiwa dalam kehidupan mereka dengan iman dan takwa. Tujuan pendidikan dalam Islam adalah membentuk individu yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, memiliki karakter kuat, serta menguasai ilmu pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan dalam kehidupan.

Sudah saatnya kita kembali menengok kejayaan Islam dan masa kegemilangan dunia pendidikan di bawah kekhilafahan selama kurang lebih 14 abad. Pada masa Khalifah Harun Al-Rasyid, dunia Islam melahirkan banyak ilmuwan besar dalam berbagai bidang:

Filsafat: Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Bajah, Ibnu Tufail, Ibnu Sina, Al-Ghazali, Ibnu Rusyd.

Kedokteran: Jabir Ibnu Hayyan, Hunain bin Ishaq, Tabib bin Qurra, Ar-Razi.

Matematika: Al-Khawarizmi.

Astronomi: Al-Fazari, Al-Battani.

Menjadikan Islam sebagai Dasar Kehidupan

Islam menjadikan akidah sebagai asas kehidupan dalam segala aspek, termasuk dalam membina generasi. Pendidikan Islam membangun ketakwaan individu sehingga mereka senantiasa taat terhadap aturan Allah.

Sudah cukup kita menyaksikan dampak buruk sistem kapitalisme. Saatnya kembali kepada Islam sebagai satu-satunya solusi hakiki bagi pendidikan dan kehidupan umat manusia.


Share this article via

38 Shares

0 Comment