| 153 Views
Derita Gaza Memuncak : Urgensi Kesadaran Umat akan Solusi Hakiki
REUTERS/Mahmoud Issa
Oleh : Nina Nurhasanah
Aktivis Dakwah Masyarakat
Intensitas kejahatan Zion*s Yahudi meningkat, ditandai dengan perintah evakuasi warga Palestina ke selatan dan peringatan militer bahwa operasi akan berlangsung di seluruh Kota Gaza. Setelah Netanyahu memerintahkan perebutan kota, serangan dilancarkan selama berminggu-minggu di pinggiran hingga mendekati pusat kota. Ratusan ribu warga yang sebelumnya berlindung kini kembali terusir. Militer mengeklaim menguasai 75% wilayah Kota Gaza, meski ada penolakan internal dari pimpinan militer. Puluhan ribu tentara dikerahkan, didorong oleh tekanan dari kelompok sayap kanan.
Secara diplomatik, Israel makin terisolasi, bahkan dikritik oleh sekutu-sekutu terdekatnya akibat kehancuran besar di Gaza. Kenaikan seruan di dalam negeri menuntut penghentian perang — dipimpin keluarga sandera dan pendukungnya — menuntut pembebasan 48 sandera tersisa; diperkirakan masih ada 20 pejabat Israel yang hidup. Kesepakatan “all or nothing” dari Netanyahu menuntut seluruh sandera dibebaskan dan Hamas menyerah. Militer Israel mengeklaim telah menewaskan pemimpin kunci Hamas dan ribuan pejuangnya. Hamas sempat menawarkan pembebasan sebagian sandera sebagai imbalan gencatan senjata (pembahasan bahkan berlangsung pada Juli dengan mediasi AS dan Negara-negara Arab), namun negosiasi gagal. Hamas menyatakan akan membebaskan semua sandera jika Israel segera mengakhiri perang dan menarik pasukannya dari Gaza. Kegagalan mediasi memicu saling tuduh soal itikad buruk.
Menteri Pertahanan Israel, Yoav Gallant, menyatakan akan mengintensifkan serangan sampai Hamas membebaskan sandera, melucuti senjata, dan mengakhiri perang — jika tidak, ia mengancam kehancuran kelompok itu. (Republika.co.id, 5/9/2025)
Gaza, wilayah kecil yang terus-menerus dilanda penderitaan, menyaksikan anak-anak tertimpa reruntuhan rumah, jeritan ibu kehilangan anak, dan puing-puing rumah sakit serta sekolah yang hancur. Meski tragedi ini nyata, Dunia memilih bungkam. Namun, akan sebaliknya jika ini terjadi di daerah Eropa atau Negara-negara Barat lainnya, Dunia bereaksi berbeda, suara mereka lantang meneriakkan kecaman. Berbeda jika tragedi serupa terjadi di Eropa atau Negara-negara Barat, respons Dunia begitu cepat—media gencar meliput, bantuan mengalir deras, dan suara kecaman menggema. Namun, saat ribuan anak dan perempuan Palestina terbunuh, Dunia seolah menutup mata, lebih memilih diam demi menjaga kepentingan ekonomi dan kontrak politik. Beginilah wajah Kapitalisme—mementingkan materi ketimbang nilai kemanusiaan. Resolusi-resolusi PBB atas kejahatan Zion*s Yahudi hanya jadi tontonan diplomatik tanpa sanksi nyata, karena veto Negara kuat seperti AS melindungi pelanggaran demi pelanggaran hukum Internasional oleh Zion*s Yahudi.
Akibat blokade Israel, Gaza terisolasi dan mengalami kelaparan sistematis. Sebagai respons, muncul gerakan Global Sumud Flotilla (GSF)—"Sumud" berarti keteguhan dalam bahasa Arab. Gerakan ini terdiri dari 50 kapal dan ratusan relawan dari 44 Negara, berasal dari berbagai latar belakang seperti aktivis, jurnalis, tenaga medis, hingga figur publik. GSF bukan sekadar konvoi bantuan, melainkan simbol perlawanan damai dan seruan moral global untuk menantang blokade yang telah mengekang Gaza hampir dua dekade. GSF menilai pemerintah Dunia terlalu lambat merespons krisis kemanusiaan yang melanda Gaza, baik kelaparan, penyakit, maupun penderitaan akibat perang. (RRI.co.id)
Apakah gerakan kemanusiaan Global Sumud ini cukup bisa menghentikan derita rakyat Gaza??
Dan apa akar masalah dan solusi hakiki atas Palestina?
Paham Nation State yang sudah mengakar di benak kaum Muslim yang akhirnya membius dua miliar umat Islam di Dunia, tidak ada kemampuan untuk menghadapi yang jumlahnya tidak lebih sampai tujuh juta penduduk Zion*s Yahudi. Karena adanya paham ini yang mengakibatkan warga Muslim khususnya para penguasa Negeri-negeri Muslim, tidak merasa bahwa penderitaan rakyat Palestina merupakan penderitaan seluruh kaum Muslim. Konsep ukhuwah islamiah ajaran Islam yang dilupakan, bahwa seluruh umat Islam di mana pun berada, terlebih Palestina yang sedang tertindas, maka wajib dibela. Paham nation state mengakibatkan umat kehilangan pemahaman bahwa akar masalahnya adanya penjajahan Zion*s Yahudi, dan solusinya harus ada pengusiran penjajah Zion*s dari tanah Palestina. Umat seharusnya tidak sekadar mendesak para pemimpinnya untuk bersuara mengirimkan tentara dan senjata untuk melawan Zion*s.
Solusi hakiki atas Palestina yaitu jihad dan Khilafah belum menjadi opini umum mayoritas umat Islam karena adanya paham nation state. Paham nasionalisme juga yang membuat Organisasi konferensi Islam (OKI), termasuk Liga Arab yang seharusnya menjadi wadah persatuan Negeri-negeri Muslim seolah tidak berdaya. Paham nasionalisme juga yang membuat Gaza berjuang sendiri, bahkan pemberitaan Gaza mulai di bungkam dengan dibunuhnya para jurnalis, ini adalah bukti nyata kegagalan paham nasionalisme.
Sudah waktunya umat merenung bahwa realitas di atas tidak bisa diserahkan kepada para pemimpin umat Islam dan lembaga-lembaga Internasional. Umat butuh pemimpin yang menyatukan, pemimpin global yang akan mengurus, berkhidmat demi kemuliaan Islam dan umatnya, dan menjaga jiwa rakyatnya. Kepemimpinan global ini hanya akan terwujud jika ada Khilafah, warisan Rasulullah dan para Khalifah penerusnya.
Sebagaimana para ahli fiqih menyebutkan bahwa Khilafah sebagai:
رِئَاسَةٌ عَامَةٌ فِي أُمُوْرِ الدِّينِ وَالدُّنْيَا، وَهِيَ رِئَاسَةٌ عَامَّةٌ لِلْمُسْلِمِيْنَ جَمِيْعًا فِي الدُّنْيَا، لِإِقَامَةِ أَحْكَامِ الشَّرْعِ، وَحَمْلِ الدَّعْوَةِ اْلإِسْلَامِيَّةِ إِلَى الْعَالَمِ
”Kepemimpinan umum dalam urusan Agama dan Dunia. Dengan kata lain, yaitu kepemimpinan umum bagi umat Islam secara keseluruhan di Dunia untuk menegakkan hukum-hukum syarak dan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru Dunia.”
Dengan Khilafah, miliaran umat Islam bersatu di berbagai belahan Dunia atas dasar aqidah dan syariat. Batas-batas nation state harus dihapuskan, umat Islam harus paham bahwa tanah Palestina milik umat Muslim. Palestina harus merdeka, seperti pada saat pembebasan oleh pemerintahan Khalifah Umar Bin Khattab r.a pada 15H (638 M). Untuk kedua kalinya dibebaskan kembali oleh Shalahuddin Al Ayyubi, dan sepanjang sejarah dalam naungan Khilafah sampai tetes darah penghabisan pada masa Sultan Abdul Hamid II yang sekuat tenaga melindungi dari kebusukan Zion*s yang berupaya menguasainya. Ketika Khilafah tegak, kemuliaan Palestina akan kembali, pembebasan Palestina akan diupayakan dengan mengerahkan tentara dengan segala kekuatan yang dimiliki.
Sudah saatnya umat Islam seluruh Dunia terus mengobarkan semangat perjuangan untuk Gaza dengan tegaknya Khilafah. Kaum Muslim tidak ada pilihan lain selain menggelorakan pembebasan seutuhnya dari cengkraman Zion*s. Pembelaan terhadap Gaza terus dilakukan di seluruh Dunia sampai membentuk kesadaran umum (wa'yul 'am) dan opini umum (ra'yul 'am). Sebagaimana dalam firman Allah Swt :
وَإِنِ اسْتَنْصَرُوكُمْ فِي الدِّينِ فَعَلَيْكُمُ النَّصْرُ
“Jika mereka meminta pertolongan kepada kalian dalam (urusan pembelaan) agama, maka kalian wajib menolong mereka.” (QS Al-Anfal [8]: 72).
Wallahu a'lam bish shawab