| 44 Views

Banjir Bandang dan Tanah Longsor Terjadi Akibat Ulah Kapital

Bencana banjir bandang dan longsor melanda sebagian wilayah di Sumatera Barat. (Foto/BNPB).

Oleh : Suci 
Aktivis Dakwah Islam

Sepekan belakang ini media memberitakan terjadinya bencana alam di berbagai daerah di Indonesia. Di antaranya tanah longsor di Cilacap dan Banjarnegara, banjir dan sejumlah wilayah di Sulawesi Tengah, Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatra Barat, juga banjir di kepulauan seribu.

Pada bencana tanah longsor di Cilacap, Kepala Pelaksana Bidan Penanggulan Bencana Daerah (BPBD) Cilacap Taryo mengucapkan bahwa tanah longsor terjadi setelah curah hujan ekstrim. Hal yang sama terjadi di Banjarnegara.

Selanjutnya, tiga daerah di provinsi Sulawesi Tengah dikepung banjir dan terjadi angin puting beliung selama dua hari . Di sumber BPBD kabupaten Agam mencatat lima kecamatan di daerah itu dilanda bencana banjir bandang, longsor dan jalan amblas , akibat curah hujan cukup tinggi disertai angin kencang.

Juga terjadi di Sumut, tanah longsor dan banjir melanda enam kabupaten/kota telah menetapkan status siaga darurat bencana alam banjir dan tanah longsor. Yakni Lhoksumawe,gunung meria, Aceh Utara, dan Aceh tenggara. Sayangnya, bencana di sejumlah lokasi seperti di Sumbar ada yg belum tertangani karena petugas masih di lokasi lain. Bahkan Sumut sampai ada yang tewas juga ada yang hilang, Meskipun ada daerah bencana yang tidak terdapat korban jiwa,  tetapi aktivitas warga terganggu, terutama warga yang terisolasi akibat banjir.

Mencermati sejumlah bencana alam yang terjadi bersamaan ini , kita bisa menyimpulkan bahwa sejatinya bencana tersebut bersifat musiman. Untuk banjir, tanah longsor dan sebagian. Tetapi harus kita akui, upaya pemerintah untuk melakukan mitigasi bencana, langkah langkah antisipasi, serta pembiayaan sarana dan prasarana penanganan bencana memang lemah, Juga evaluasi kondisi lahan setempat dalam kaitannya dengan pembuka dan ahli fungsi lahan setempat dalam kaitannya dengan pembuka dan ahli fungsi lahan seolah olah di abaikan begitu saja. Kita bisa melihat bahwa pemerintah lamban dalam penanganan bencana, mitigasi pun dilakukan seadanya.

Selain itu, suatu hal penting yang tidak bisa kita abaikan adalah kerusakan lingkungan, sebagai contoh di Sumut faktor pemicu utama deforestasi di Sumut adalah izin konsesi perkebunan terutama kelapa sawit dan perambahan hutan yang begitu luas,

Memperhatikan, negri kita yang sejatinya gemah rupiah begitu nyata akhirnya masyarakat yang terkena dampak korban.

Sayangnya, solusi yang diambil oleh pemerintah nyatanya hanya bersifat tambal sulam, sikap pemerintah ini tidak terlepas dari penerapan sistem sekuler kapitalis sehingga penguasa lebih fokus pada cuan di bandingkan berupaya serius mengurus rakyatnya. Apalagi di tengah bencana yang terjadi saat ini. Kita juga bisa lihat sejumlah ahli fungsi lahan di kawasan yang saat ini terdampak banjir, seperti perkebunan sawit Ahli fungsi lahan tentu mustahil klu bukan tujuan ekonomi.

Kepemimpinan di dalam sistem Islam akan berbuat berbagai kebijakan seputa penataan lingkungan dan pemetaan lahan, Ada lahan lahan khusus yang di tetapkan sebagai kawasan konservasi sehingga tidak boleh diahlifungsikan menjadi pemukiman, pertanian, infrastruktur apalagi pariwisata. Kawasan konservasi ini berperan sebagai ekosistem. Persoalannya penanganan dan penanggulangan bencana ini diperhatikan oleh sistem Islam. Bahkan di dalam sistem keuangan negara Islam ( khilafah) terdapat pos keuangan khusus untuk rehabilitasi bencana,

Dengan demikian kita harus kembali ke sistem Islam yang memang benar benar bisa memberikan yang terbaik dan memberikan solusi yang hakiki utuk umat manusia, karena Islam lah satu satunya sistem yang bisa mengatur problematik secara kaffah . Sungguh tidak layak lagi mengambil solusi yang tabal sulam saat ini.

Wallahualam bissawab.


Share this article via

30 Shares

0 Comment