| 41 Views
Aksi Freestyle Berujung Maut: Terinspirasi Game Online
Oleh: Susi Ummu Musa
Dunia anak kembali memakan korban. Dikira keren dan berbakat, namun berujung maut. Siapa sangka, aksi freestyle yang tengah digandrungi anak-anak TK hingga SD membawa duka bagi dua orang anak.
Dikutip Radarsampit.jawapos.com, fenomena konten digital berbahaya kembali memakan korban jiwa. Tren freestyle yang ramai di media sosial diduga menyebabkan dua anak di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), meninggal dunia akibat cedera leher setelah meniru aksi berbahaya tersebut.
Korban pertama berinisial F, seorang siswa taman kanak-kanak (TK), meninggal dunia setelah mengalami cedera fatal pada tulang leher. Korban diduga meniru aksi salto atau freestyle yang sering muncul di media sosial.
Peristiwa serupa juga menimpa Hamad Izan Wadi (8), siswa kelas 1 SDN 3 Lenek, Lombok Timur. Bocah tersebut meninggal dunia setelah mengalami patah leher usai melakukan aksi freestyle yang diduga terinspirasi dari game online Garena Free Fire.
Kasi Humas Polres Lombok Timur, Iptu Lalu Rusmaladi, membenarkan kejadian tersebut. Ia mengatakan, aksi freestyle itu sebenarnya terjadi beberapa waktu lalu di rumah korban.
“Peristiwa freestyle-nya sudah lama. Korban sempat dirawat di RS Selong, selanjutnya dibawa ke RSUD Mataram dan meninggal dunia,” ujarnya, Selasa (5/5).
Pengaruh Medsos dan Kegagalannya
Penggunaan medsos di Indonesia terbilang besar. Mengenai dampak positif dan negatif, hal itu juga tergantung bagaimana kita menggunakannya. Namun, saat ini penggunaan gadget telah memengaruhi dunia anak-anak dengan adanya game online yang mudah diakses, termasuk tren freestyle yang viral dan diikuti anak-anak hingga memakan korban jiwa.
Kembali mengingatkan kita saat tren konten menghadang truk di jalan dan memakan korban, kemudian ada tren ice bucket challenge 2014 silam, aksi freestyle sepeda motor berujung maut di Lombok Timur, dan beragam tren yang semua terjadi karena pengaruh sosmed atau game online seperti Free Fire, PUBG Mobile, Berzerk, Blue Whale Challenge, dan lain-lain.
Dunia digital memang memberikan kemajuan dalam bidang informasi, hiburan, dan apa saja karena secepat kilat kita akan mendapatkannya. Tapi, di sisi lain, informasi dan kesemuanya tersebut juga tidak selalu valid. Maka, kita harus pintar dan lebih bijak dalam menanggapinya.
Anak Butuh Perhatian
Nalar anak usia dini, mulai dari TK, SD, bahkan hingga jenjang selanjutnya, tidak boleh luput dari perhatian besar orang tua untuk selalu mengingatkan anak-anak agar jangan mudah meniru apa yang dilihatnya. Terutama anak usia TK yang masih polos, mereka sangat mudah sekali terpengaruh, seperti mengikuti freestyle sujud yang viral saat ini.
Namun, peran orang tua saja masih belum cukup. Harus ada peran di lingkungan sekitar yang bisa membantu dalam mengingatkan anak-anak dan mengawasinya. Sayangnya, saat ini kita tidak mendapatkan itu. Kondisi para orang tua yang bekerja di luar serta lemahnya perhatian lingkungan sekitar menambah sulitnya kita selama masa pendampingan anak-anak.
Lantas, bagaimana dengan hadirnya negara?
Justru saat ini negaralah sebagai fasilitator yang menyediakan layanan game online. Meski saat ini ada batasan dalam mengunduh aplikasi untuk anak di bawah umur, hal itu tidak menutup kemungkinan masih dengan mudah diakses lagi dengan cara anak-anak sendiri sehingga belum efektif.
Maka, peran antara orang tua, lingkungan, dan negara itu sangat penting bagi anak-anak kita saat ini jika semua bisa saling mendukung.
Sinergi Kokoh Itu Melalui Islam Kaffah
Perwujudan yang hakiki tentu tidak sembarangan penerapannya. Butuh sistem atau aturan yang bisa mewujudkan keamanan dan kedisiplinan dalam menjaga dan melindungi anak-anak dari bahaya dunia luar. Hal-hal yang tidak bermanfaat yang mengacu kepada tindakan sia-sia tentu bisa dihilangkan jika negara mampu mewujudkannya.
Sistem pendidikan yang berbasis Islam diterapkan di sekolah, ditambah dengan pembinaan orang tua yang cukup. Semua itu akan dengan mudah jika kita mau tunduk dan patuh terhadap aturan Islam.
Peran negaralah yang bisa mewujudkan itu semua dengan membatasi konten-konten yang tidak bermanfaat yang dapat memengaruhi anak-anak, dengan diganti konten-konten edukasi, bukan hanya konten hiburan yang mengejar jam tayang saja.
Jika Islam kaffah diterapkan, maka keberhasilan mewujudkan generasi yang beradab dan berakhlak akan mudah diraih karena semua saling mendominasi.
Wallahu a’lam bissawab.