| 83 Views

Wibawa Guru Direndahkan, Buah Sistem Pendidikan Sekuler Kapitalistik

Oleh : Yeni Ummu Alvin 
Aktivis Muslimah

Dunia pendidikan kembali tercoreng dengan adanya peristiwa yang viral di media sosial, memperlihatkan adanya sejumlah siswa yang melakukan perbuatan yang tidak pantas terhadap gurunya di dalam ruangan kelas. Peristiwa itu terjadi di SMAN 1 Purwakarta, dalam video terlihat para siswa Tengah mengejek gurunya hingga melakukan gestur acungan jari tengah yang dinilai melecehkan sosok yang seharusnya dihormati. 

Pihak sekolah sudah memberikan sanksi berupa skorsing selama 19 hari dan mendapat bimbingan di rumah, namun menurut Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, sanksi tersebut belum tentu menjadi solusi terbaik dalam membentuk karakter siswa. Iya justru mengusulkan bentuk hukuman yang lebih edukatif dan berdampak langsung pada perubahan perilaku. Menurut Dedi, hukuman berbasis aktivitas sosial dan tanggung jawab justru lebih efektif dalam menanamkan nilai disiplin dan rasa hormat. (www.detik.com)

Di sisi lain guru yang dilecehkan dan diolok siswanya, ibu guru Syamsiah, telah menegaskan bahwa tidak akan membawa kasus pelecehan etika ini karena hukum, dan memilih untuk memaafkan bahkan mendoakan Mereka agar menjadi generasi yang berakhlak. ( Kompas.id).

Sungguh miris melihat perilaku siswa saat ini, generasi kehilangan adab terhadap gurunya bahkan perilaku buruknya dianggap sesuatu yang dapat dijadikan konten sehingga merekamnya dan menjadikannya viral, saat ini generasi lebih mementingkan viralitas dan keren-kerenan di mata teman sebaya daripada menjaga martabat gurunya. 

Pelecehan terhadap guru merupakan cermin krisis moral yang terjadi akibat sistem pendidikan sekuler liberal. Dari kejadian ini juga dapat dilihat bahwa saat ini guru tidak memiliki wibawa alias lemah, karena siswa berani dan dengan terang-terangan melakukannya di hadapan siswa siswi lainnya. Mengapa siswa berani melakukan hal ini? Apakah karena sanksi sekolah yang terlalu lembek atau guru tidak berdaya pada siswa yang berbuat salah karena takut dituntut jika menegurnya?

Sekolah harusnya tempat lahirnya generasi generasi generasi yang akan menjadi pemimpin di masa depan, namun yang terjadi justru sebaliknya, generasi yang lahir dari sistem saat ini merupakan generasi yang rusak, meskipun pemerintah sering menggaungkan "Profil Pelajar Pancasila" , namun kasus tentang kerusakan moral dan adab generasi terus bertambah, kasus ini menjadi tamparan keras bahwa program-program tersebut baru sebatas formalitas administratif di atas kertas.

Sistem pendidikan sekuler telah menjauhkan Allah dari proses belajar, ilmu dipisahkan dari iman hingga lahirlah generasi yang cerdas tapi tidak beradab, tujuan pendidikan hanyalah demi mendapatkan nilai, ijazah dan pekerjaan, ditambah lagi biaya pendidikan dalam sistem kapitalis sekuler juga mahal, sehingga menjadikan orientasi hanyalah kerja dan gaji bukan keimanan dan kemuliaan akhlak. Sistem saat ini juga telah gagal dalam melindungi guru, karena guru yang menegur murid bisa dilaporkan ke polisi, akhirnya guru pun membiarkan saja kesalahan yang dilakukan murid. Sistem sekuler telah menghapus ruh pendidikan, guru kehilangan wibawa sementara murid kehilangan rasa hormat.

Berbeda dengan sistem Islam yang menjadikan pendidikan diberikan bukan hanya sekedar untuk menambah pengetahuan tapi juga untuk membentuk kepribadian mulia berlandaskan akidah, pendidikan sejati bukan mencetak manusia pintar melainkan manusia beradab yang tahu tujuan hidupnya untuk meraih ridho Allah. Pendidikan dalam Islam juga merupakan amanah dan tidak dijadikan bisnis. Kurikulum dalam pendidikan Islam dibangun berlandaskan akidah Islam tidak berubah-ubah seperti dalam sistem saat ini yang berubah sesuai dengan kepentingan yang membuat kebijakan. Dengan kurikulum Islam maka akan lahirlah generasi yang berpola pikir dan pola sikap sesuai syariat Islam, dan juga berkepribadian Islam. 

Islam juga telah memposisikan guru sebagai sosok yang sangat mulia dan mereka mendapatkan penghargaan yang tinggi dan kehidupan yang layak dari negara, sehingga wibawa mereka terjaga di mata murid dan masyarakat.

Negara Islam juga memiliki kedaulatan digital, yang mana dengan kedaulatan tersebut maka negara akan menyaring konten-konten digital yang merusak moral seperti tayangan yang mencontohkan pembangkangan, pelecehan atau kekerasan. Hanya konten-konten yang mendidik dan membangun yang sesuai syariat Islam yang boleh tayang di ruang digital.

Islam juga memiliki sistem sanksi yang tegas yang memberikan efek jera yang nyata namun tetap adil sesuai syariat Islam, penerapan sistem sanksi dalam Islam berfungsi sebagai penebus (jawabir) dosa bagi pelaku dan pencegah (zawajir) bagi orang lain agar tidak melakukan hal yang serupa. 

Hanya dengan penerapan sistem Islam secara Kaffah, yang mampu melahirkan generasi berilmu, beradab dan bertakwa. Generasi Islam merupakan generasi terbaik yang membawa cahaya bagi dunia. Hanya sistem pendidikan Islam yang menyatukan ilmu, iman dan akhlak. Sejarah mencatat di masa Khilafah Islam, ilmu dan iman berjalan seiring, Baitul hikmah di Baghdad menjadi pusat peradaban dunia, yang melahirkan ilmuwan berilmu tinggi dan bertakwa. 

Wallahu a'lam bishowab.


Share this article via

15 Shares

0 Comment