| 21 Views

Hari Pendidikan Nasional: dari Seremoni ke Solusi, Saatnya Kembali ke Sistem Pendidikan Islam

Oleh : Nindy Dwi Pianka

Setiap tahun, Hari Pendidikan Nasional diperingati dengan berbagai upacara, lomba, dan seremoni di seluruh Indonesia. Momentum ini seharusnya menjadi ajang refleksi terhadap kondisi pendidikan nasional. Namun, di balik kemeriahan tersebut, realitas dunia pendidikan justru menunjukkan berbagai persoalan yang semakin mengkhawatirkan.

Berbagai kasus kekerasan dan pelecehan seksual di lingkungan sekolah maupun kampus terus meningkat, menandakan bahwa ruang pendidikan belum sepenuhnya aman. Selain itu, praktik kecurangan seperti mencontek, joki ujian, hingga plagiarisme semakin marak terjadi. Fenomena ini menunjukkan adanya krisis integritas di kalangan pelajar dan mahasiswa.

Tidak hanya itu, hubungan antara siswa dan guru pun mengalami perubahan yang mengkhawatirkan. Rasa hormat terhadap guru semakin memudar. Kasus siswa yang berani melawan, menghina, bahkan melaporkan guru karena teguran menjadi bukti nyata adanya pergeseran nilai dalam dunia pendidikan.

Kondisi ini seharusnya menjadi alarm keras bahwa ada yang perlu dibenahi secara mendasar. Masalah pendidikan tidak bisa diselesaikan hanya dengan kebijakan teknis atau perubahan kurikulum semata. Akar persoalannya terletak pada paradigma pendidikan yang digunakan saat ini.

Sistem pendidikan sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan dinilai berkontribusi pada lahirnya generasi yang cerdas secara akademik, tetapi lemah secara moral. Nilai-nilai spiritual tidak menjadi landasan utama dalam proses pembentukan karakter peserta didik.

Dalam sistem sekuler kapitalistik, keberhasilan sering kali diukur dari pencapaian materi dan prestasi akademik semata. Akibatnya, pelajar terdorong untuk meraih hasil instan tanpa memperhatikan proses dan kejujuran, sehingga kecurangan menjadi hal yang dianggap biasa.

Dalam kondisi seperti ini, diperlukan solusi yang tidak hanya memperbaiki gejala, tetapi juga menyentuh akar masalah. Sistem pendidikan Islam menawarkan pendekatan yang menyeluruh dalam membentuk manusia seutuhnya.

Dalam Islam, pendidikan tidak hanya berfokus pada transfer ilmu, tetapi juga pembentukan kepribadian. Akidah Islam dijadikan sebagai landasan utama, sehingga lahir generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga bertakwa dan berakhlak mulia.

Selain itu, negara dalam sistem Islam bertanggung jawab penuh dalam menjamin pendidikan bagi seluruh rakyat. Lingkungan yang dibangun pun mendukung terbentuknya karakter yang baik melalui sinergi antara keluarga, masyarakat, dan negara.

Islam juga menetapkan aturan yang jelas terkait perilaku dan sanksi terhadap pelanggaran. Sanksi yang tegas dan adil akan memberikan efek jera serta menjaga lingkungan pendidikan tetap kondusif, sehingga berbagai penyimpangan dapat diminimalisir.

Dengan demikian, peringatan Hari Pendidikan Nasional seharusnya tidak berhenti pada seremoni. Momentum ini harus menjadi titik awal perubahan menuju sistem pendidikan yang lebih baik, sehingga mampu melahirkan generasi yang berilmu, bermoral, dan bermanfaat.

Sudah saatnya semua pihak menyadari bahwa pendidikan bukan hanya soal akademik, tetapi juga pembentukan karakter. Dengan kembali pada sistem pendidikan yang berlandaskan nilai-nilai Islam, diharapkan lahir generasi unggul yang mampu membawa perubahan positif bagi masa depan bangsa.

Wallahu a’lam bisshawab.


Share this article via

5 Shares

0 Comment