| 53 Views

Urbanisasi, Trend Yang Masih Banyak Diminati Hingga Saat Ini

Oleh: Haryani, S.Pd.I
Pendidik di Kota Bogor

Libur Lebaran telah usai, saatnya kembali ke perantauan untuk melanjutkan aktivitas sehari-hari. Kerja...kerja....kerja! Itulah slogan yang viral sesaat setelah warga Indonesia pulang kampung dan menikmati kebersamaan dengan handai taulan di kampung halaman tercinta.

Namun seperti biasanya, pada momen Mudik Lebaran disetiap tahunnya, angka arus balik mengalami peningkatan lebih besar dari arus mudik. Begitupun tahun 2026 ini, diprediksi akan mengalami pelonjakan pada saat arus balik. Ini menunjukkan bahwa urbanisasi masih diminati banyak masyarakat pedesaan.

Hal ini disampaikan oleh Deputi Bidang Pengendalian Penduduk Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN, Bonivasius Prasetya Ichtiarto, mengatakan, "fenomena arus balik yang semakin ramai dari tahun ke tahun telah menjadi salah satu aspek penting dalam dinamika migrasi penduduk Indonesia. Tidak lagi hanya sekadar tradisi mudik saat libur lebaran, arus balik kini mengambil bentuk yang lebih kompleks".

"Masyarakat tidak hanya kembali ke kota setelah berlibur di desa, tetapi juga membawa serta saudara, teman, bahkan keluarga besarnya untuk mencari peluang pekerjaan dan kehidupan yang lebih baik di kawasan aglomerasi perkotaan," ujar Bonivasius, dalam keterangan resminya, (Metro TV, Jumat, 27 Maret 2026).

Urbanisasi Menjadi Beban Demografi

Arus balik yang lebih besar dari arus mudik bukan sekadar sebagai fenomena transportasi, namun juga cermin dari ketimpangan struktural yang ada. Fenomena urbanisasi yang cepat justru semakin memperdalam kesenjangan antara dua wilayah ini.

Bagi masyarakat yang tinggal di pedesaan dan di pedalaman magnet kota besar menjadi daya tarik bagi mereka yang mencari pekerjaan dan kemajuan ekonomi.
Dampaknya desa kehilangan generasi muda yang seharusnya menjadi tulang punggung pembangunan dan keberlanjutan di wilayah mereka. Ketimpangan kesempatan kerja antara kota dan desa mengakibatkan pedesaan menjadi hanya sebagai "lumbung tenaga kerja" bagi kota.

Begitupun juga risiko bonus demografi berubah menjadi beban demografi, di mana kota menjadi terbebani infrastruktur yang padat, sementara desa terjadi penuaan populasi dan angka pengangguran tetap menjadi ancaman yang menghantui.

Kenapa Hal Ini Bisa Terjadi?

Jika kita cermati lebih dalam lagi, permasalahan yang menimpa Negara ini sangatlah kompleks, bukan hanya dari sisi ekonomi, budaya, pendidikan, kesehatan bahkan politikpun mengalami krisis yang menyedihkan. Hal ini tentu saja dipicu oleh Sistem Kapitalis yang diterapakan saat ini.

Kapitalisme menciptakan kesenjangan ekonomi antara desa dan kota. 
Alokasi anggaran bersifat Jakarta sentris dan kota sentris, sedangkan desa terabaikan. Kalaupun ada program ekonomi untuk desa (seperti kopdes, bumdes), sifatnya pencitraan, tidak benar-benar untuk memajukan desa. 
Program ekonomi untuk desa justru menjadi ajang bancakan proyek yang menguntungkan segelintir pihak. 

Islam Sebagai Solusi

Semua masalah hidup yang pelik yang menimpa rakyat tentu tidak akan terjadi jika Negara ini menerapkan Sistem Pemerintahan yang diambil dari Sang Pencipta, yaitu Sistem Islam.

Dalam Islam, aturannya mengatur masalah ekonomi dengan signifikan, Islam mewujudkan pembangunan yang merata di desa maupun di kota. Ini karena adanya jaminan pemenuhan kebutuhan orang per orang. Di mana pun ada orang, akan dilakukan pembangunan ekonomi untuk melayani kebutuhannya. 
Bagitu juga dengan sektor pertaniannya, akan dikelola dengan baik sehingga memajukan masyarakat desa.

Pemerataan pembangunanpun sebuah keniscayaan dalam Sistem Islam. Tidak ada satu wilayahpun yang luput dari riayah khalifah, pendidikan, kesehatan, layanan publik, semua dirasakan oleh rakyat dengan murah bahkan gratis, sehingga tidak akan terjadinya ketimpangan sosial diantara masyarakat.

Sebagaimana dalam hadits ditegaskan:
"Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Imam (pemimpin) adalah pemimpin yang akan diminta pertanggungjawaban atas rakyatnya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Sehingga bonus demografi yang menjadi masalah Ibu Kota Jakarta saat ini akibat urbanisasi tidak akan terjadi. Karena rakyat akan betah berada dikampung halamannya, membangun desanya dan memajukan wilayahnya dengan penuh keikhlasan dan rasa tanggung jawab. 

Wallahu'alam


Share this article via

2 Shares

0 Comment