| 4 Views

Hardiknas Hanya Seremonial Dunia Pendidikan Masih Memprihatinkan

Tujuh tersangka pengeroyokan yang menewaskan Ilham Dwi Saputra (16) di Pandak, Bantul saat digelandang polisi menuju ruang Satreskrim Polres Bantul, Selasa (28/4/2026). Foto: Pradito Rida Pertana/detikJogja.

Oleh: Endang Seruni 
Muslimah Peduli Generasi

Setiap tahunnya pada tanggal 2 Mei diperingati sebagai hari Pendidikan Nasional. Tetapi hari Pendidikan Nasional yang dirayakan kondisi pendidikan kita masih memprihatinkan bahkan semakin buram. Terbukti di berbagai daerah banyak terjadi kekerasan dan pelecehan seksual yang semakin banyak dilakukan oleh pelajar bahkan mahasiswa.

Di kabupaten Bantul, pengeroyokan pelajar Ilham Dwi Saputro (16) hingga meninggal dunia akibat luka yang dideritanya. Ada 10 pelaku pengeroyokan, mereka melakukan pengeroyokan secara brutal yang mengakibatkan kematian (Kumparan.com, 21/4/2026).

Tidak hanya itu terkait suramnya dunia pendidikan kecurangan perjokian dalam Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK-SNBT) tahun 2026 yang terjadi di Surabaya. Yaitu di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dan Universitas Airlangga. Joki yang mencoba mengelabui petugas dengan memasukkan dokumen (detik.com, 22/4/2026).

Mirisnya ada sebagian pelajar pengedar narkoba. Baru- baru ini juga terjadi di Purwakarta pelecehan terhadap guru, dengan mengacungkan jari tengah. Menurut mereka ini adalah bukti protes terhadap guru, yang seharusnya mereka hormati. Karena telah mendidik mereka. Tetapi mereka justru memperlakukan sesuatu yang tidak pantas, bahkan dianggap hal yang biasa.

Melihat fakta yang ada peringatan Hardiknas seharusnya menjadikan alarm untuk semua pihak memperbaiki kembali kondisi buruk yang menimpa dunia pendidikan kita hari ini. Banyaknya belajar ataupun mahasiswa yang krisis kepribadiannya. Menunjukkan kegagalan peta jalan Pendidikan di negeri ini. Para pelajar cenderung berperilaku sekuler dan liberal. Mereka berpikir pragmatis menjadi bukti jauhnya dari predikat intelektual yang beradab dan bermoral.

Sistem pendidikan di negara kita diterapkan sistem pendidikan kapitalisme, sehingga wajar jika output pendidikan menghasilkan orang-orang yang ingin sukses secara instan. Tidak perlu bekerja keras bahkan orang-orang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang yang banyak. Mereka cenderung berpikir pragmatis untuk mendapatkan apa yang dicita-citakan. 

Dari sisi negara, dipandang longgarnya sanksi yang diberikan bagi pelaku terutama remaja yang masih dibawah umur. Secara tidak langsung memberikan toleransi terhadap tindak kriminal yang dilakukan sebagai kenakalan anak semata. Hal ini menjadikan persoalan serupa terus berulang tanpa solusi yang tuntas.

Dalam pendidikan sekuler yang memisahkan aturan agama dari kehidupan, minimnya pendidikan dari nilai-nilai agama. Secara tidak langsung memberikan ruang yang luas untuk kebebasan yang akhirnya mengikis moral dan kepribadian. Menjadikan para generasi muda mudah terseret kepada kemaksiatan dan tindak kejahatan. Menurut mereka itu adalah hal yang biasa dan wajar. Karena dalam sistem ini memberikan ruang bebas berperilaku kepada siapapun. Menambah deretan panjang persoalan generasi muda saat ini. 

Islam memandang pendidikan adalah pondasi terpenting bagi generasi. Hal ini merupakan kebutuhan mendasar yang wajib dijamin oleh negara. Negara menjamin kebutuhan publik ini dengan mudah, bahkan gratis. Sistem pendidikan dalam Islam menanamkan pola pikir dan pola sikap yang Islami. Menghasilkan generasi yang berkepribadian Islam. Tujuan pendidikan di dalam Islam sama seperti tujuan hidup yaitu menjadikan insan yang beriman dan bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Bukan generasi yang haus akan validasi tapi krisis moral.

Ketika aqidah seorang sudah tertancap kuat maka mereka tidak akan melakukan kecurangan Demi meraih kesuksesan. Sebagaimana mereka tidak menghalalkan segala cara untuk meraih cita-citanya. Di sisi lain negara yang menerapkan sistem Islam akan menerapkan sanksi yang tegas bagi pelaku kejahatan termasuk pelajar. Tidak ada istilah di bawah umur, Islam memandang sikap pelaku sudah balik maka mereka telah dibebani hukum. Negara juga membangun suasana hidup yang penuh ketakwaan dan mendorong masyarakat untuk berlomba dalam kebaikan.

Sistem pendidikan yang diterapkan negara bersinergi dengan peran orang tua dan lingkungan tempat tinggal. Ketakwaan yang ditanamkan dari rumah dan didukung oleh lingkungan dan dikuatkan oleh negara. Dengan demikian akan tercipta individu yang bertakwa, lingkungan yang saling mengontrol dan penerapan aturan oleh negara. Sudah pasti ketentraman, kesejahteraan, dan kemaslahatan umat akan tercipta. 

Begitu indah jika sistem Islam diterapkan di muka bumi. Semata-mata setiap kebijakan penguasa untuk kemaslahatan rakyat. Setiap peringatan hari besar seperti peringatan Hardiknas bertujuan untuk menjadikan masyarakat lebih bermartabat bukan menjadikan suasana semakin memprihatinkan. Karena kondisi generasi mudanya yang jauh dari aturan agama bahkan banyak yang melanggarnya. Sudah saatnya kita kembali kepada sistem Islam yang menerapkan syariat Islam secara Kaffah. Terbukti mampu menciptakan generasi muda yang tangguh dan kuat membangun peradaban yang gemilang.

Wallahu a'lam bishawab.


Share this article via

0 Shares

0 Comment