| 5 Views

Buka-Tutup Jurusan Demi Melayani Industri

Oleh: Dara Dhaafiyah

Pendidikan tinggi Indonesia bersiap menghadapi perubahan besar. Melalui Kemdiktisaintek pemerintah berencana mengkaji penghapusan sejumlah program studi, menyesuaikan dengan kebutuhan dunia di masa depan (kebutuhan industri). Wacana ini memicu reaksi publik, terlebih jurusan pendidikan dan kedokteran disebut ikut masuk dalam daftar sektor yang berpotensi terdampak. (Jawa Pos) 

Berbagai reaksi datang dari perguruan tinggi. Rektor UMM dan Unisma menolak Penutupan Prodi Tak Sesuai Pasar. Sedangkan wakil Rektor UMY lebih memilih melakukan penyesuaian kurikulum dibanding menutup Prodi. 

Dunia pendidikan tinggi kita yang mengadopsi Liberalisme-Sekuler menjadikannya fokus pada kebutuhan pasar saja. Perguruan tinggi dituntut harus menyesuaikan dengan kebutuhan dunia industri.

Belum lagi sistem kapitalisme menjadikan negara abai dalam menciptakan lapangan pekerjaan. Melalui konsep investasi, kapitalisasi, dan privatisasi, negara seperti telah menyerahkan segala sesuatu di negeri ini pada mekanisme pasar ala swasta. Membuka kran investasi seluas-luasnya, memfasilitasi berdirinya perusahaan-perusahaan asing, dan menyediakan tenaga kerja berupah rendah lulusan PT dengan jurusan yang relevan.

Dalam Islam, Negaralah yang memiliki kebutuhan untuk mencetak ahli, sesuai kebutuhan SDM dalam melayani urusan rakyatnya, karena tugas pokok negara dalam Islam Adalah melayani rakyatnya. 

Ini berdasarkan keumuman hadis Rasulullah saw., “Seorang Imam (kepala negara) adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyatnya.” (HR Bukhari, 844).

Dalam riwayat lainnya, “Rasulullah saw. Pernah memberi dua dirham kepada seorang Anshar, lalu, ‘Belilah makanan seharga satu dirham dengan uang itu dan berikanlah kepada keluargamu. Dan sisanya belilah sebuah kapak dengan satu dirham dan bawa kapak itu kepadaku.’ Lalu Rasulullah membelah kayu dengan kapak tersebut, kemudian berkata, ‘Pergilah dan carilah kayu bakar, lalu juallah. Jangan kembali ke hadapanku, kecuali setelah 15 hari.’ Lelaki Anshar itu pun mencari kayu bakar lalu menjualnya. Setelah itu ia datang lagi kepada Rasulullah dengan membawa 10 dirham. Sebagian ia belikan baju dan sebagiannya lagi makanan.” (HR Ibnu Majah, 2189).

Dunia pendidikan (termasuk Pendidikan Tinggi) adalah tanggung jawab langsung negara, negara yang menentukan mulai dari  Visi-Misi, kurikulum dan pembiayaan untuk SDM Pendidikan dan sarana prasarananya. 

Negara harus mandiri dalam mengelola Pendidikan Tinggi, tidak tergantung pada tekanan baik dalam negeri maupun luar negeri karena bersandar kepada Syariat. Pendidikan dalam Islam sejatinya mengarah pada dua kualifikasi penting, yaitu terbentuknya kepribadian Islam yang kuat, sekaligus memiliki keterampilan untuk berkarya. Hal ini yang akan melahirkan generasi tangguh yang kuat secara mental maupun fisik. Bukan hanya melahirkan lulusan yang mengejar materi semata.


Share this article via

0 Shares

0 Comment