| 248 Views
Tanpa Junnah Umat Islam Bersimbah Darah
Oleh : Wakini
Aktivis Muslimah
Krisis kemanusiaan yang melanda umat Islam di berbagai belahan dunia terus berlanjut tanpa henti. Baru-baru ini, tragedi kemanusiaan kembali menimpa saudara-saudara kita, muslim Rohingya, yang hidup dalam ketakutan dan penderitaan yang tak terbayangkan.
Serangan drone yang dilancarkan terhadap para pengungsi Rohingya di Myanmar telah menewaskan puluhan orang yang tak bersalah. Mereka hanya ingin melarikan diri dari penindasan yang tak berkesudahan. (voaindonesia.com, 12 Agustus 2024).
Umat Islam didzalimi dimana-mana. Di India baru-baru ini kita menyaksikan puluhan umat Islam dibantai dan dibunuh karena keagamaan mereka. Demikian pula yang terjadi di Suriah, sebanyak 300.000 umat Islam dibunuh oleh penguasanya sendiri yang merupakan boneka AS. Umat Islam banyak tinggal di negeri-negeri yang kaya tapi kekayaannya dirampok oleh para imperialis. Inilah gambaran umat Islam.
Permasalahan-permasalahan yang dialami oleh umat Islam saat ini tentu tidak terlepas dari realita penerapan sistem hidup yang tidak berasal dari Islam. Kaum muslim mengalami penindasan, penjajahan, pembunuhan, dan lain sebagainya karena memang tidak memiliki junnah (perisai) untuk melindungi kaum muslim dari ancaman. Semenjak runtuhnya khilafah pada tahun 1924, sistem hidup umat Islam digantikan dengan sistem hidup buatan manusia, sekulerisme. Sistem sekulerisme ini adalah sistem yang memisahkan aturan agama dari kehidupan. Di sistem ini, manusia memiliki kuasa dan wewenang untuk membuat dan mengatur hidupnya sendiri.
Saat runtuhnya khilafah, umat Islam mengalami penderitaan yang bertubi-tubi. Walaupun jumlahnya banyak tapi tidak ada perisai yang dapat melindunginya, sehingga kaum muslim tidak memiliki kekuatan politik apapun. Semisal kasus pengelolaan SDA di suatu negeri. Karena sistem yang diberlakukan adalah sekulerisme, maka pengelolaan SDA pun merujuk pada aturan sekulerisme ini. Dimana siapapun berhak untuk menguasai SDA baik itu swasta atau segelintir orang yang memiliki kekuasaan. Lahirlah penjarahan-penjarahan SDA di negeri-negeri kaum muslim saat ini. Emas, batu bara, tambang mineral lainnya tidak lagi dikuasai oleh kaum muslim tapi sudah beralih tangan kepada orang-orang kafir yang terus berusaha untuk menguasai kaum muslim dari berbagai sisi. Tengoklah kasus Freeport di Papua. Hal itu bisa menjadi bahan pelajaran dan renungan bagi kaum muslim saat ini. Dimana SDA milik sendiri nyatanya tidak bisa lagi dinikmati oleh tuan rumah di negeri sendiri.
Keadaan di atas itu sebenarnya karena Islam tidak lagi menjadi asas bagi kehidupannya. Hakikatnya umat Islam diatur dan diurus oleh musuhnya di berbagai bidang kehidupan. Inilah akibat ketika umat islam jauh dari Islam.
Di bawah naungan sistem sekuler, kehidupan anak dan kaum perempuan juga jauh dari kemuliaan. Hak-hak dasar mereka sebagai manusia dan makhluk yang harus dijaga juga telah dirampas.
Berbeda jauh dengan saat khilafah tegak, semuanya terjamin hingga tumbuh kembang anak dan fungsi politis-strategis kaum perempuan sebagai pencetak generasi cemerlang bisa berjalan dengan sempurna. Tak heran jika peradaban emas Islam mampu tegak selama belasan abad.
Pemimpin adalah sebagai induk ayam dan negara muslim lainnya berstatus anak ayam. Jika induknya ada, mereka akan mudah diarahkan, tidak akan tersesat, dan akan senantiasa terlindungi. Oleh karenanya, sosok pemimpin ini akan berperan sebagai junnah (perisai) yang bertugas melindungi, mengayomi, dan mengarahkan seluruh negara muslim.
Gambaran persatuan itu bisa kita contoh dari Rasulullah saw. dan para sahabat yang berhasil menyatukan jazirah arab dan wilayah lainnya menjadi satu negara adidaya (negara Islam). Di bawah kepemimpinan beliau saw. dan khulafa setelahnya, Islam menjadi agama yang diperhitungkan keberadaannya. Negara Islam menjadi menjadi singa di tengah peradaban Persia dan Romawi.
Penerapan sistem sekuler kapitalisme neoliberal memang terbukti membawa kemudaratan luar biasa. Kemiskinan, ketidakadilan, gap sosial, kekerasan, perbudakan, kezaliman, dan sejenisnya menjadi potret buram mayoritas masyarakat, termasuk kaum perempuan dan anak-anak di berbagai belahan dunia.
Wahai kaum muslim, ketahuilah bahwa sistem Islam (Khilafah) yang terbukti menjadi perisai atau pelindung bagi kita. Sebagaimana Rasulullah SAW pernah bersabda:
“Sesungguhnya Imam atau Khilafah itu laksana perisai, tempat orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya.” (HR. Muslim).
Wallahu a'lam bishowwab