| 15 Views

Sukacita Idulfitri Terganjal Genosida

Oleh: Yani Astuti
Ibu Rumah Tangga

Idulfitri merupakan momen di mana kaum Muslim merayakan kemenangan setelah melaksanakan puasa Ramadan selama satu bulan. Kaum Muslim pun menyambutnya dengan gembira. Namun, miris, kegembiraan tersebut tidak dirasakan oleh semua kaum Muslim. Warga Palestina, misalnya, justru merayakan Idulfitri di atas reruntuhan bangunan akibat serangan Zionis Israel.

Telah diketahui bahwa penderitaan warga Palestina dan Gaza pada Idulfitri tahun ini merupakan tahun ke-3 sejak konflik dengan Zionis Israel pada 2023. Di tengah pendudukan Zionis, warga Palestina mengalami berbagai krisis, seperti air bersih, makanan, dan minimnya obat-obatan. Ditambah lagi hancurnya rumah-rumah warga, serta ketatnya penjagaan Israel. Warga Palestina melaksanakan salat Idulfitri di reruntuhan bangunan.

Dilansir MINAnews.Net (20-3-2026), di Kota Hebron terdapat hanya 50 jemaah yang diizinkan masuk masjid untuk melaksanakan salat Idulfitri. Hal ini disebabkan adanya pembatasan oleh kafir Zionis. Sementara itu, didapati bahwa masih terdapat warga salat di luar masjid.

Sulitnya memenuhi kebutuhan hidup di Palestina, Idulfitri tidak lagi dirasakan secara sukacita oleh warga Palestina. Sebab, hari raya bukan tentang hal-hal yang baru dan makanan yang lezat, melainkan hadirnya keluarga yang akan menambah kegembiraan. Akan tetapi, yang terjadi ialah kehilangan keluarga yang dicintainya akibat pembantaian Zionis Israel, menjadikan hari raya makin menambah kedukaan.

Duka Palestina, Duka Umat Muslim

Sejatinya, penderitaan Muslim Gaza dan Palestina belumlah usai. Sejak pembantaian yang dilakukan oleh militer Zionis Israel pada 2023 hingga saat ini, genosida terus dilakukan oleh Zionis. Bahkan, kesepakatan yang telah disepakati untuk gencatan senjata terus dilanggar. Pelanggaran tersebut berupa serangan udara dan darat, serta penembakan secara brutal. Akibatnya, terdapat 677 korban jiwa dan 1.800 mengalami luka.

Mirisnya, penderitaan di Palestina dan Gaza seolah belum menemukan titik terang untuk solusi. Ditambah adanya berita perang Iran dan AS–Zionis, mengakibatkan dunia kini berpaling pada berita tersebut. Akhirnya, penderitaan warga Palestina dan Gaza kini menjadi terabaikan. Ironisnya, negara-negara Muslim justru bersekutu dengan AS, yang mana AS bekerja sama dengan kafir Zionis. Hal ini merupakan pengkhianatan terhadap warga Palestina.

Terabainya penderitaan warga Palestina dan Gaza disebabkan adanya ikatan nasionalisme yang menjauhkan dari ikatan akidah Islam. Ikatan nasionalisme terbentuk dari sebuah sistem bernama demokrasi kapitalisme. Oleh sebab itu, umat Islam hari ini tidak lagi peduli terhadap saudara satu akidah. Padahal, umat Muslim merupakan satu tubuh. Artinya, jika satu bagian terluka, maka bagian yang lain pun merasakan sakit.

Sungguh, sukacita pada saat Idulfitri di Palestina dan Gaza yang sesungguhnya ialah terbebasnya dari genosida yang dilakukan penjajah Israel dan AS. Oleh karena itu, solusinya membutuhkan pengaturan Islam.

Islam Menyelesaikan Urusan Umat

Sesungguhnya, umat Islam harus memahami bahwa terbebasnya warga Palestina dan Gaza ada pada ikatan yang berlandaskan akidah Islam. Dengan begitu, akan muncul perasaan, pemikiran, dan peraturan yang sama terhadap sesama umat Muslim. Alhasil, umat akan merasakan penderitaan warga Palestina karena memahami umat Muslim sebagai bagian dari satu tubuh.

Tidak hanya itu, Islam juga mengajarkan bahwa seorang Muslim harus berlemah lembut kepada sesama Muslim lainnya. Namun, ketegasan tetap berlaku kepada orang kafir, dengan arti tidak bersekutu dan tidak berpihak kepada orang kafir penjajah. Jika tidak, akibatnya Islam diremehkan dan kezaliman terjadi di mana-mana.

Padahal jelas, kafir penjajah merupakan musuh Islam. Allah Swt. berfirman, “Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali (penolong) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti (tuqah) dari mereka. Dan Allah memperingatkan kalian terhadap diri-Nya dan hanya kepada Allah kembalimu.” (QS Ali Imran: 28).

Adapun dalam membebaskan Palestina, umat harus menghadirkan ukhuwah Islamiah. Dengan begitu, akan menghasilkan pemikiran, perasaan, dan peraturan yang sama berasaskan pada Islam. Islam juga menyeru kepada umat Muslim untuk melawan penjajah kafir dengan jalan jihad. Oleh sebab itu, wajib menghadirkan seorang pemimpin, yaitu seorang khalifah di bawah kepemimpinan Islam.

Dengan demikian, kezaliman dan penindasan terhadap kaum Muslim tidak akan terjadi. Warga Palestina dan Gaza pun dapat merayakan Idulfitri dengan sukacita, dan akan dirasakan oleh kaum Muslim lainnya di penjuru dunia.

Wallahu a‘lam bissawab.


Share this article via

34 Shares

0 Comment