| 188 Views

Sudan Objek Kepentingan Barat Mengeksploitasi SDA di Negeri Muslim

Oleh : Yeni Ummu Alvin 
Aktivis Muslimah

Konflik bersenjata yang terjadi di Sudan semakin parah, bahkan situasi saat ini bukan hanya sekedar konflik militer semata melainkan juga bencana kemanusiaan yang semakin hari semakin mengkhawatirkan. Pembantaian terus terjadi tragedi kemanusiaan tak terhentikan. Kondisi kemanusiaan di El Fasher, ibukota negara bagian Darfur utara semakin mengkhawatirkan setelah lebih dari 62.000 warga mengungsi hanya dalam waktu 4 hari terakhir, yaitu antara 26 hingga 29 Oktober. 

Laporan dari International Organization for Migration (IOM), menyebutkan setidaknya 62.263 orang telah meninggalkan El Fasher dan wilayah sekitarnya setelah kota itu direbut oleh Rapid Support Forces (RSF).Aljazirah melaporkan RSF yang berperang melawan militer Sudan untuk menguasai negara itu, telah menewaskan sedikitnya 1500 orang selama 3 hari terakhir ketika warga sipil mencoba melarikan diri dari kota yang terkepung. Menurut kelompok medis dan peneliti, yang memantau perang saudara di negara tersebut, situasi di sana menggambarkan sebagai "genosida yang nyata". "Pembantaian yang disaksikan dunia saat ini merupakan perpanjangan dari apa yang terjadi di el-Fasher lebih dari satu setengah tahun lalu, ketika lebih dari 14.000 warga sipil terbunuh akibat pemboman, kelaparan dan eksekusi di luar hukum,"kata kelompok tersebut. (Republika.co.id) 

Penangkapan di el-Fasher oleh kelompok RSF menimbulkan kekhawatiran bahwa negara terbesar ketiga di Afrika itu akan terpecah lagi, hampir 15 tahun setelah Sudan Selatan yang kaya minyak memperoleh kemerdekaan setelah bertahun-tahun dilanda perang saudara. Sudan merupakan negara dengan penduduk mayoritas muslim (90%), memiliki lebih dari 200 piramida dan memiliki sungai yang lebih panjang dari sungai Nil di Mesir, Sudan juga merupakan produsen emas terbesar di wilayah Arab, kekayaan sumber daya alamnya melimpah tapi mengalami krisis kemanusiaan yang sangat panjang. 

Krisis Sudan sebetulnya sudah berlangsung lama dan bukan murni konflik etnis akan tetapi ada keterlibatan dari negara adidaya yaitu Amerika Serikat dan Inggris yang melibatkan negara-negara bonekanya, zionis dan Uni Emirat Arab ( UEA), sesama anak negeri dibentuk, dilatih dan diarahkan oleh tangan-tangan asing, Amerika di satu sisi sementara Inggris di sisi lainnya, dua kekuatan yang menjadikan negeri-negeri Islam sebagai santapan, dengan mengangkat agen-agen yang memuluskan kepentingan mereka agar tetap aman dan terjaga. Amerika menanamkan pengaruh di militer, antara Inggris di ranah politik, keduanya bentrok makanya rakyatlah yang menjadi tumbal kekuasaan mereka.

Setelah sebelumnya berhasil memisahkan Sudan Selatan dari Sudan, kini mereka ingin menyempurnakan daerah jajahannya, dengan melakukan rekayasa seolah-olah terjadi konflik internal di dalam negeri Sudan, padahal semua itu sudah direkayasa, agar umat islam terus disibukkan dengan urusan nation state sementara penjajah memuluskan misinya untuk merampok SDA yang melimpah ruah dari negeri-negeri muslim.

Sudan negeri yang kaya sumber daya alam, hanya menjadi objek permainan dan perebutan dari negara-negara adidaya, lembaga-lembaga dan aturan internasional juga dibuat dalam prinsip kepentingan yang melanggangkan hegemoni negara-negara adidaya terhadap negeri-negeri muslim. Tiap kali darah kaum muslim tertumpah, dunia hanya bisa melihat tanpa mampu memberikan solusi nyata, mereka hanya berdebat dan berunding tentang gencatan senjata dan buta akan fakta, semua itu sama sekali tidak berguna, sejatinya umat saat ini membutuhkan perisai, Karena tanpa perisai negeri Islam ibarat tubuh tanpa kepala, selayaknya hidangan yang diperebutkan oleh kaum kafir yang amat dan rakus, umat Islam terombang-ambing bagaikan buih di lautan.

Sungguh hanya Khilafah lah yang menjadi solusi satu-satunya bagi semua penderitaan yang dialami umat Islam saat ini, karena hanya Khilafah yang dapat menyatukan potensi umat yaitu dengan meletakkan politik di bawah syariat Islam, bukan syariat di bawah politik. Hanya Khilafah yang memiliki kekuatan untuk menolong negeri-negeri muslim yang dijajah, bukan kekuatan kecaman melainkan kekuatan yang nyata yaitu dengan jihad fisabilillah. 

Saat ini umat Islam di seluruh penjuru dunia sedang dibantai, dihabisi dan dibungkam, dijajah dan dihina kehormatannya, dan itu terjadi bukan karena musuh yang kuat akan tetapi karena umat Islam terpecah belah karena kehilangan perisai atau junnah. Negeri-negeri muslim terkenal memiliki tentara-tentara yang kuat, sumber daya alam yang melimpah, namun sayangnya tidak ada pemimpin yang mampu Untuk memanfaatkan segala potensi itu untuk kemaslahatan kaum muslim.

Umat Islam harus dinaikkan level berpikirnya sehingga mampu membaca seluruh problem dunia saat ini dalam kacamata ideologis dan keniscayaan perang peradaban antara Islam dan ideologi non Islam, umat Islam juga harus disadarkan bahwa hanya sistem Islam yang bisa diharapkan untuk memberikan solusi yang tuntas atas berbagai krisis hari ini baik bidang politik, ekonomi dan lain-lain agar kerahmatan bisa tercipta di dunia. Kesadaran ini harus memotivasi umat untuk turut berjuang menegakkan Khilafah karena dorongan iman.

Persatuan negeri-negeri muslim di bawah naungan Khilafah merupakan sebuah keniscayaan untuk melawan hegemoni negara-negara kafir barat yang terus membuat umat Islam terjajah, terpecah dan menderita.Hanya dengan melanjutkan kembali kehidupan Islam di bawah naungan syariat Islam maka darah kaum muslimin akan terjaga, kekayaan terpelihara serta kehormatan tidak dihinakan dan pembantaian pun akan terhentikan, maka sungguh tidak ada solusi lain untuk darah kaum muslim Sudan, Palestina, Rohingya, Kashmir dan negeri-negeri Muslim lainnya, selain dengan tegaknya Daulah Khilafah,

Wallahu a'lam bishawab.


Share this article via

27 Shares

0 Comment