| 165 Views
Sudan: Jeritan yang Ditelan Dunia dan Seruan untuk Umat yang Terlupa
Seorang pengungsi Sudan, Mekka (30), bersama anak-anaknya di lokasi penampungan darurat dekat perbatasan Sudan dan Chad, di Koufroun, Chad (11/5/2023). (Foto: ANTARA/REUTERS/Zohra Bensemra)
Oleh: Haifa Manar
Penulis, Aktivis Dakwah
Sudan merupakan negara yang pernah disebut sebagai permata Afrika—berpenduduk mayoritas Muslim, memiliki sejarah panjang peradaban sungai Nil yang megah, piramida yang lebih banyak dari Mesir, serta kekayaan sumber daya alam yang melimpah: dari emas, minyak, hingga tanah yang subur. Namun, keberlimpahan itu justru menjadi awal dari nestapa panjang yang tak kunjung padam.
Krisis di Sudan kembali membara. Kota demi kota menjadi saksi teriakan pilu warganya—pembunuhan massal terjadi semakin brutal hingga warna merah akibat darah korban mampu ditangkap oleh satelit, pemerkosaan dipakai sebagai senjata perang, dan lebih dari itu, martabat manusia dirampas tanpa ada sedikitpun rasa iba. Kemudian ribuan orang meninggalkan rumah mereka yang telah menjelma reruntuhan, mereka berharap menemukan keselamatan, tetapi yang menunggu mereka adalah kelaparan, ketakutan, dan bayang-bayang kematian lainnya.
Negeri Muslim terbesar ketiga di Afrika itu kini seperti api yang terus disulut oleh kekuatan yang tak terlihat, konflik yang tidak lagi sekadar gesekan internal, tetapi percaturan kepentingan yang dibungkus manipulasi geopolitik. Sudan menjadi kisah tragedi panjang—tentang bangsa yang dipaksa bertekuk lutut di atas kekayaannya sendiri, tentang umat yang terus terjerumus ke dalam jurang luka yang dibuat oleh tangan-tangan rakus adidaya dunia. Realitas pahit kemudian menuntut dunia untuk menyaksikan lebih saksama, sehingga muncul sebuah pertanyaan: mengapa negeri dengan sumber daya alam yang berlimpah, justru tenggelam dalam krisis berkepanjangan?
Kepentingan Global di Balik Bara Sudan
Pada dasarnya, konflik Sudan bukan cerita baru. Ia tumbuh dari akar panjang kolonialisme, intervensi politik global, dan perebutan pengaruh yang diperebutkan oleh negara-negara adidaya. Amerika Serikat dan Inggris—dua negara dengan kuasa besar yang sejarahnya penuh jejak eksploitasi di negeri-negeri Muslim—diduga memainkan peran dalam mengatur dinamika krisis di Sudan. Melalui sekutu bonekanya: Zionis dan Uni Emirat Arab (UEA), perebutan kekuasaan dijalankan dalam bingkai proyek geopolitik yang lebih luas, yang berkaitan dengan “Middle East New Project,” sebuah agenda untuk mengatur ulang struktur kekuatan di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara.
Artinya, Sudan tidak hanya penting secara geografis, tetapi juga secara ideologis dan sumber daya. Dari emas—di mana Sudan menjadi produsen emas Arab terbesar—hingga kontrol jalur perdagangan strategis dan kekayaan mineral, semuanya menjadi incaran. Di mata adidaya, Sudan bukanlah rumah bagi jutaan jiwa yang berhak atas keamanan dan martabat, melainkan aset berharga yang harus dikendalikan. Maka tidak mengherankan bila konflik terus dijaga tetap menyala—agar Sudan tetap sibuk dengan luka internal, sementara kekayaannya mengalir diam-diam ke luar negeri.
Institusi Global dan Aturan yang Tak Pernah Netral
Dalam hal ini, dunia sering meneriakkan slogan kemanusiaan, hukum internasional, dan perlindungan hak asasi. Namun, dalam realitas pahit, Sudan adalah bukti bahwa semua slogan itu mudah sekali dilucuti maknanya. Sebab organisasi internasional seakan-akan hadir hanya untuk menjadi saksi bisu. Tatkala pembantaian terjadi di masjid dan rumah sakit, ketika anak-anak dibunuh atau dipaksa mengungsi tanpa kepastian akan dibiarkan hidup, dan tidak ada tindakan tegas yang benar-benar berpihak pada rakyat Sudan.
Inilah sebabnya lembaga dan aturan dunia tidak lahir dalam ruang hampa, tetapi dalam sistem yang dibangun untuk melanggengkan hegemoni adidaya. Selama negara-negara Muslim tidak tunduk kepada kepentingan Barat, selama mereka ingin menentukan arah peradabannya sendiri, mereka akan dihadang oleh berbagai tekanan: embargo, perpecahan politik, dan dukungan pada kelompok-kelompok yang diciptakan untuk mempertahankan instabilitas.
Dengan kata lain, Sudan adalah gambaran tentang bagaimana negara yang kaya sumber daya bisa jatuh miskin karena aturan dunia dibuat untuk mereka yang berkuasa, bukan mereka yang dizalimi.
Perang Peradaban: Saat Umat Harus Membaca dengan Kacamata Ideologi
Sesungguhnya, tragedi Sudan seharusnya menjadi cermin bagi umat Islam di seluruh dunia. Bahwa penderitaan saudara-saudara seiman kita bukanlah kecelakaan sejarah, bukan pula hasil dari konflik lokal semata. Sebab ada kepentingan global yang menargetkan negeri-negeri Muslim agar selalu terpecah, selalu disibukkan dengan bara internal, sehingga umat tak sempat bangkit menjadi kekuatan global.
Maka dari itu, umat Islam harus menanggalkan kacamata parsial yang hanya melihat realitas dari permukaan semata. Kita harus naik kelas dalam membaca dunia, memahami bahwa ini adalah bagian dari perang peradaban—perang ideologi antara Islam dan ideologi sekuler-kapitalisme yang kemudian berusaha menguasai dunia. Sebab selama umat Islam terus menjadi penonton yang terpecah belah, maka negeri-negeri Muslim akan terus menjadi papan catur kekuasaan, dan warga sipilnya menjadi bidak yang dikorbankan tanpa belas kasihan.
Oleh sebab itu, kesadaran ideologis adalah harga mati agar umat tidak terus menerus dibohongi narasi-narasi yang diciptakan oleh pihak berkepentingan. Kesadaran itu pula yang akan mendorong umat untuk tidak hanya bersimpati, tetapi berjuang untuk menegakkan sistem hidup yang berasal dari Allah, bukan dari kepentingan manusia yang penuh kedustaan.
Khilafah sebagai Solusi Peradaban
Untuk itu, bukan rahasia lagi bahwa sistem kapitalisme global tidak pernah benar-benar berniat menyelesaikan krisis di dunia. Sebab ia hidup dari konflik, tumbuh dari penderitaan, dan berkuasa dengan membiarkan segala instabilitas terjadi. Oleh karena itu, setiap solusi yang lahir dari sistem ini tidak pernah menyentuh akar permasalahan. Dan apa yang terjadi di Sudan adalah contoh nyata: bahwa, puluhan tahun international summit, perjanjian damai, intervensi komunitas global—nyatanya semua hanya menghasilkan siklus tragedi yang sama berulang-ulang. Di mana negeri-negeri muslim yang kaya sumber daya justru terjebak dalam lingkaran keterpurukan. Mereka kaya secara alam, tetapi miskin dalam kedaulatan. Mereka memiliki emas, tetapi tak bisa membeli keadilan. Mereka memegang kunci air yang menjadi sumber kehidupan, tetapi justru kehausan di tengah gurun ketidakamanan.
Dalam konteks ini, kebutuhan akan sebuah persatuan dan sistem Islam yang menegakkan kemuliaan manusia menjadi sesuatu yang mendesak. Umat Islam harus menatap pada satu-satunya sistem yang terbukti pernah menyatukan bangsa-bangsa, menciptakan keadilan bagi yang lemah, dan menghentikan ketamakan para penguasa: yaitu sistem Islam, Khilafah, yang kemudian ditegakkan berdasarkan syariat Allah. Khilafah bukan sekadar utopia, melainkan realitas sejarah yang pernah menaungi tiga benua selama berabad-abad, serta membawa kemuliaan bagi umat Muslim dan keamanan bagi non-Muslim.
Pada prinsipnya, Khilafah adalah jawaban atas pertanyaan besar ini: bagaimana umat bisa melawan dominasi negara-negara kafir Barat yang terus menjajah negeri-negeri Islam dalam bentuk modern? Karena hanya dengan persatuan politik yang kokoh, kekayaan Sudan—dan negeri-negeri Muslim lain—tidak lagi menjadi rampasan asing, melainkan menjadi sumber kesejahteraan rakyatnya sendiri. Hanya dengan kepemimpinan yang lahir dari iman dan tanggung jawab syar’i, nyawa-nyawa kaum Muslim tidak akan menjadi angka statistik yang terlupakan begitu saja.
Pun, kesadaran untuk memperjuangkan Khilafah bukan sekadar ambisi politik, melainkan panggilan iman, kewajiban yang bersumber dari keyakinan—bahwa agama Islam datang untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.
Agar Sudan Tidak Lagi Membara
Ketahuilah, bahwa Sudan bukan sekadar berita duka yang lewat di layar ponsel kita. Sudan adalah seruan yang sedang dibiarkan sendirian. Mereka memanggil kita untuk berhenti menjadi umat yang hanya berdoa tanpa bertindak, berhenti meratap tanpa perjuangan. Apa yang terjadi pada Sudan menuntut kita untuk memahami bahwa kedamaian tak akan pernah datang selama kekuasaan dunia masih di tangan mereka yang memandang manusia sebagai komoditas, dan negeri Muslim sebagai ladang eksploitasi.
Lantas, sampai kapan kita membiarkan kekayaan alam menjadi dalih pembantaian? Sampai kapan kita membiarkan aturan global melindungi kepentingan segelintir kekuatan? Sampai kapan kita hanya mengirim doa, tetapi tidak melakukan apa pun untuk mengubah keadaan?
Maka dari itu, inilah saatnya umat Islam menyadari bahwa persatuan politik bukan lagi pilihan, tetapi keniscayaan sejarah. Sudan harus menjadi pengingat bahwa selama negeri-negeri Muslim berdiri terpisah dan tunduk pada sistem asing, maka kita akan terus menyaksikan tragedi yang sama di Palestina, Suriah, Yaman, Rohingya, dan kini Sudan.
Sebagai kesimpulan, Sudan merupakan luka yang harus kita tanggung bersama. Sudan sedang menangis saat ini, dan kita punya kewajiban untuk memastikan mereka kembali tersenyum esok hari. Semoga kesadaran ini menyalakan kembali semangat kita untuk memperjuangkan perubahan besar. Semoga doa-doa untuk Sudan tidak hanya menjadi lantunan sedih yang hilang ditelan angin, tetapi menjadi energi yang menggerakkan hati dan langkah untuk menegakkan kembali kemuliaan umat—di bawah sistem Islam yang menjamin keadilan, kesejahteraan, dan kehormatan bagi seluruh manusia.
Wallahua’lam bish-showab.