| 92 Views
Sritex, Satu Di Antara Seribu Macam Permasalahan Yang Dihadapkan Untuk Umat
Oleh : Sumarini
Bukan Sistem kapitalisme Dibawah naungan Demokrasi jika tak selalu menghadirkan yang namanya masalah demi masalah baru yang selalu muncul hingga menambah daftar panjang begitu banyaknya jumlah tambahan Macam masalah yang mesti mau tidak mau terpaksa dihadapi umat saat ini.
PT. Sritex contohnya, bagaimana PT. Sritex merupakan perusahaan Tekstil terbesar Seasia Tenggara yang dianggap paling kuat dari pHk, namun nyatanya harus melakukan PHK masal pasca dinyatakan pailit 0leh Pengadilan Niaga Semarang berdasarkan nomor perkara 2/ Pdt. Sus Homologasi/2024/ PN Niaga Semarang. Dan imbas dari semua keputusan yang diambil tentunya pada akhirnya mengorbankan para pekerja yang mesti menghadapi PHK massal, kesekian kalinya umat hari ini disituasi yang sulit dimana harus kehilangan pekerjaan meski pemerintah menjanjikan akan memberikan perhatian terhadap permasalahan ini, namun seperti apa bentuk nya kita lihat saja nanti.
Sritex yang merupakan produsen textil penghasil 24juta ton potong kain pertahun untuk kurang lebih 40 Negara bahkan Sritex juga pernah mengerjakan busana label ternama dan menyuplai seragam militer untuk 27 Negara dan pada akhirnya bisa mengalami kebangkrutan. Bisa dianggap ini sebagai dampak sosial dari kebijakan pemerintah yang memberikan kemudahan terhadap produk luar terutamanya cina untuk masuk ke Indonesia dan inilah yang melatar belakangi terjadinya praktik Dumping. Bagaimana tidak suplai textil cina yang sangat berlebihan mengakibatkan ini semua terjadi, salah satunya juga kalah bersaing dengan produk mereka.
Bagaimana tidak dinyatakan pailit, sementara jumlah utang dengan aset yang dimiliki oleh PT. Sritex sungguh sangat jauh perbandingan nya, dan akibatnya dengan segala akibat hukumnya sebab gagal bayar utang inilah maka PT. Sritex diperkarakan Oleh PT. Indo Bharta Rayon sebagai kreditur yang sejak 2 september 2024 telah menggugat PT. Sritex karena dinilai lalai memenuhi kewajiban bayar utang kepada kreditur.
Adapun berbagai macam cerita terkait PT. Sritex tentunya berawal dari pemerintah yang menerapkan Sistem kapitalisme dengan prinsip Liberalisme ekonomi nya yang telah menjadikan semua permasalahan tak ada jalan keluar, watak otoriter Negara dalam menjalankan perannya hanya sebatas sebagai regulator bagi kepentingan oligarki. Tepatnya populis otoriter, oligarki dinomor satukan dan rakyat hanya sebagai korban dari setiap kebijakan yang diambil pemerintah, meski itu tangisan darahpun penguasa hari ini tak ambil perduli kepada kita rakyatnya sebab utamanya pilihan mereka tetap jatuh lebih memilih oligarki dan justru bekerjasama dengan mereka.
Hanya nama2 permasalahan nya saja yang berbeda beda namun bentuknya sama, apalagi jika bukan kezholiman pada rakyatnya, bagi penguasa hari ini tak masalah pengangguran besar besaran merajalela, sedikit memberikan angin segar dengan janji2 manis sudah terbiasa mereka lakukan. Rakyat juga sudah terbiasa jatuh, sakit,tertatih dan akhirnya nanti bangkit sendiri dari keterpurukan apapun itu, sebab diakui saat ini kita tak punya tempat untuk mengaduh sebab Islam belum datang, sebab tanpa islam jauh sangat yang namanya PERDULI.
Jelas kita sangat butuh Islam hari ini, sebab hanya Islam Yang bisa menjamin suasana yang kondusif bagi para pengusaha dan perusahaan. Dengan sistem islam juga mereka akan bekerjasama dalam penerapan sistem ekonomi islam.
Lapangan pekerjaan akan terbuka, luas dan memadai, bukan seperti hari ini, mau cari kerja sulit ,sudah bekerja sulit dan tanpa pekerjaan apalagi tentu jauh lebih sulit. Sebab hari ini semua memang dipersulit, apa yang enggak sulit hari ini...? Islam benar-benar meski diperjuangkan keberadaan nya, nyata seperti inilah yang dirasakan umat ketika tiada islam.
InsyaAllah kita tidak akan merasakan sudah jatuh tertimpa tangga lagi disaat islam datang, hari ini kita jadikan pelajaran sebagai perbandingan antara ketika hidup dibawah aturan selain daripada Islam dan inilah hidup kita, masalah datang bertubi tubi, tak ada solusi dan pada akhirnya jauh dari sang kholiq sebagai pencipta dan pengatur.
Sebab itu perjuangan mesti dilanjutkan. Sritex hanya bagian dari perjuangan kita dalam mengembalikan semua yang menjadi hak kita sebagai umat, Lebih dari kembali menjadi karyawan Sritex akan kita rasakan jika yang kita perjuangkan itukembalinya Islam. Tentu kita ingin hak kita mutlak secara hakiki dan itu akan kita rasa kan ketika Islam ada.
Wallahu a'lam bishawab.