| 49 Views
Solusi Hakiki Palestina Hanya dengan Jihad Di bawah Kepemimpinan Islam
Oleh : Anne
Pemerhati Sosial
Sebelum mengadakan lawatan kebeberapa negara timur tengah pada 9 April 2024, Presiden Prabowo mengungkapkan gagasan bahwasanya beliau akan mengevakuasi warga Palestina sebagai korban perang. Menurutnya, Indonesia siap menampung ribuan warga Gaza Palestina, yang menjadi korban kekejaman militer Israel. Bahkan, Prabowo akan mengirim pesawat untuk menjemput mereka, dengan jumlah 1000 pesawat untuk gelombang pertama.
"Saya lakukan ini karena banyak permintaan terhadap Indonesia untuk lebih aktif berperan mendukung penyelesaian konflik di Gaza," ujar Prabowo di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur menjelang terbang ke Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. (www.beritasatu.com)
Ada dua syarat agar evakuasi bisa terealisasi yaitu pertama, mendapat dukungan penuh negara-negara tetangga di Timur Tengah. Kedua, kewajiban mengembalikan setelah kondisi aman dan proses pengobatan korban sudah dianggap cukup. Tentunya, untuk syarat pertama saja rencana evakuasi Presiden Prabowo tidak akan terlaksana, karena bertolak belakang dengan konteks maupun sikap Liga Arab sendiri, yang menolak pengosongan tanah Palestina dari pemiliknya.
Statement presiden ini tentu akan menimbulkan pro-kontra dalam dan luar negeri, karena disampaikan di tengah suasana ketar ketir pemerintah akibat pemberlakuan tarif import 32% oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk berbagai negara di dunia termasuk Indonesia. Sehingga, disinyalir pernyataan Prabowo tersebut merupakan upaya peredaan demi membujuk Trump agar mau mengurangi besaran tarif yang diperkirakan bisa mengguncang perekonomian dalam negeri. (www.republika.co.id)
Ditambah adanya wacana Presiden Amerika yang melontarkan narasi soal pentingnya mengosongkan Gaza yang dikenal sebagai The Trump Peace Plan. Atas nama rekonstruksi, Trump berdalih wilayah tersebut sudah tidak layak lagi menjadi hunian bagi warganya. Sehingga, untuk memuluskan ambisinya Trump berupaya melobi negara-negara Arab sekutunya, dan menekan negara-negara yang memiliki hubungan dagang dengan Amerika Serikat dengan menaikkan tarif import 32%, agar mau menjadi tempat relokasi warga Gaza. Jika sinyal ini benar, tentu sangat disayangkan karena hal tersebut dikhawatirkan justru akan mendukung ambisi Trump beserta pihak Zionis Israel yang ingin menguasai Gaza secara penuh dan mengusir warganya dari sana.
Namun, terlepas dari benar tidaknya kabar tersebut, pernyataan Presiden Prabowo menunjukkan bahwa meski pemerintah Indonesia selalu menggembar-gemborkan sikap anti penjajahan dan pro terhadap perjuangan kemerdekaan Palestina, tetapi posisi Indonesia sudah nyaris sejalan dengan apa yang Amerika rencanakan. Disamping itu, pernyataan ini justru kontra produktif dengan seruan jihad yang disuarakan oleh banyak pihak hari ini, bahkan para ulama dunia telah memberikan fatwa jihad untuk Palestina, mereka menyadari bahwa tidak ada solusi hakiki selain jihad melihat berbagai upaya yang dilakukan nyatanya tidak menghentikan penjajahan dan genosida. Evakuasi rakyat Gaza jelas bukanlah solusi hakiki, karena sejatinya Zionis lah yang melakukan pendudukan bahkan perampasan wilayah. Sudah seharusnya Zionis yang diusir dari tanah Palestina dan bukannya warga Gaza yang dievakuasi.
Sungguh, inilah dampak nyata sistem sekuler kapitalisme nasionalisme. Paham batil yang telah lama bercokol di negeri-negeri Islam, yang telah berhasil menghapus ikatan persaudaraan hakiki atas dasar iman. Alih-alih bisa mengomando dan memimpin jihad melawan musuh-musuh aktifnya, para penguasa muslim, justru rela menjadi penjaga sistem yang dibuat para penjajah untuk melemahkan kekuatan umat sekaligus melanggengkan sistem batil ini.
Negeri muslim harusnya menjadi negara adidaya yang memimpin dunia. Dengan kelimpahan Sumber Daya Alam yang dimiliki negeri- negeri muslim, dan Sumber Daya Manusianya, seharusnya bisa menjadi salah satu sumber kekuatan untuk melindungi saudara muslim lainnya yang terdzalimi. Para pemimpin negeri- negeri muslim seharusnya menyambut seruan jihad. Namun, apa yang terjadi hari ini, nasionalisme telah menjadi penghalang dalam menyambut seruan jihad.
Akan berbeda jika Islam memimpin dunia, Khilafah sebagai negara adidaya akan menerapkan syariat Islam sehingga menjadi rahmat bagi seluruh alam dan membela setiap muslim. Semestinya umat paham, merekalah pemilik hakiki kekuasaan. Tanpa sokongan umat, para penguasa di negeri-negeri Islam tidak akan pernah memiliki legitimasi atas jabatan kekuasaannya. Maka tampak dihadapan, mereka hanya mencari jalan pintas dengan mencari dukungan dari kekuatan negara adidaya, bahkan rela menjadi penjaga setia bagi kepentingan tuannya, meski pada saat yang sama mereka rela mengkhianati saudara muslimnya.
Oleh sebab itu, umat harus terus didorong untuk menolak evakuasi warga Palestina. Menyeru kepada penguasa untuk mengirimkan tentara demi membela saudaranya muslim Palestina. Pada saat bersamaan, Umat juga harus makin kuat berjuang untuk menegakkah Khilafah. Karena hanya jihad dan tegaknya Khilafah solusi hakiki membebaskan Palestina dari cengkeraman penjajah.
Yakinlah, Islam satu-satunya sistem hidup yang layak menggantikan sistem sekuler kapitalisme. Sistem yang telah terbukti memberikan rahmat bagi seluruh umat dan meniscayakan kezaliman. Tentunya perubahan ini, membutuhkan kepemimpinan partai islam ideologis agar tetap berada di jalur perjuangan yang benar sehingga memberikan pengaruh besar dalam mendorong penguasa negeri muslim untuk mengirimkan tentara untuk berjihad dan tegaknya Khilafah.
Wallahu a'lam bish shawwab