| 373 Views

Sistem Sekulerisme Kapitalisme Merusak Bangunan Keluarga

Oleh : I Raudhatul Jannah

Keluarga merupakan unit sosial terkecil dalam masyarakat. Peran keluarga dalam Islam sangat sentral dan vital. Di dalam keluarga, terdapat tempat bersemainya kasih sayang, saling melindungi, memberikan perhatian, serta menciptakan rasa aman dan nyaman antar anggota keluarga.

Keluarga juga merupakan institusi pendidikan utama dalam kehidupan sehari-hari seorang anak.

Namun, karena kita hidup dalam sistem kapitalis sekuler, fungsi keluarga menjadi rusak. Banyak keluarga yang jauh dari kata harmonis, sehingga untuk mencapai sakinah mawaddah wa rahmah rasanya menjadi mustahil. Ikatan antar anggota keluarga menjadi retak karena saling menzalimi satu sama lain.

Baru-baru ini terjadi kasus di Desa Kasugengan Kidul, Kecamatan Depok, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, pada Jumat (23/8/2024) sore. Kusnadi (29), warga setempat, tega menikam bapak kandungnya sendiri, Jana (79), hingga tewas. Pekerja serabutan ini juga melukai kepala adiknya, Aam (24) (https://www.metrotvnews.com/read/kj2CnXmP-sadis-anak-bunuh-bapak-dan-lukai-adik-di-cirebon).

Pada hari yang sama, di bagian lain Indonesia juga terjadi kasus pembunuhan. Iftahurrahmah (24) menghabisi nyawa anak sambungnya sendiri, Ahmad Nizam Alfahri (6), di Kota Pontianak, Kalimantan Barat. Kasus ini sempat viral di media sosial setelah Nizam dilaporkan hilang oleh keluarganya. Iftahurrahmah, ibu tiri Nizam, dibawa keluar rumahnya di Kota Pontianak, Kalimantan Barat, setelah prarekonstruksi, pada Sabtu (24/8/2024). Bahkan, beredar kabar bahwa korban diculik oleh ibu kandungnya. Namun, kenyataannya jauh lebih tragis, Nizam ditemukan meringkuk dalam karung di belakang rumahnya. Belakangan terungkap pelakunya adalah ibu tirinya, Iftahurrahmah. Saat itu, ayah korban berada di luar kota. Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Kalbar Ajun Komisaris Besar Hary Siregar menyatakan bahwa pelaku cemburu kepada korban. Saat pelaku mengandung hingga melahirkan, suaminya lebih sayang kepada anak sambungnya ketimbang anak pelaku (https://daerah.sindonews.com/read/1442271/174/terungkap-sebelum-dibunuh-dan-dimasukkan-karung-bocah-6-tahun-sering-disiksa-ibu-tiri-1724504890).

Sekularisme telah melahirkan manusia-manusia miskin iman yang tidak mampu mengontrol emosinya, bahkan rapuh dan kosong jiwanya. Sekularisme juga gagal membentuk karakter manusia yang mulia.

Pendidikan sekuler telah mencetak pribadi yang hanya berfokus pada materi, sibuk mengejar dunia, dan lupa pada akhirat. Hal ini menyebabkan banyak anak yang abai pada kewajiban birrul walidain dan menjadikan orangtua tidak memahami fungsi dan tugasnya, serta menghilangkan rasa kasih sayangnya.

Negara memiliki peran penting dalam merusak hubungan antar anggota keluarga. Ini adalah bukti kegagalan sistem pendidikan ala sekuler, serta kegagalan sistem ekonomi dan politik ala kapitalis.

Dalam Islam, negara adalah raa’in, yaitu pengurus (pemelihara) yang bertanggung jawab atas siapa pun yang dipimpinnya berdasarkan Islam, dan akan menjaga fungsi serta peran keluarga.

Islam juga memiliki sistem pendidikan berkualitas yang berasas aqidah, sehingga menjaga hubungan keluarga tetap harmonis. Negara yang menerapkan Islam secara kafah akan mewujudkan sistem kehidupan yang baik, dan keluarga pun akan baik serta terjaga. Negara mewujudkan maqashid syariah sehingga kebaikan terwujud di dalam keluarga, masyarakat, serta negara.


Share this article via

148 Shares

0 Comment