| 275 Views

Sistem Pendidikan Sekuler Merusak Moral Generasi

Oleh : Rifdatul Anam

Kondisi generasi muda saat ini  sungguh butuh perhatian lebih. Minimnya etika (moral) yang dimiliki generasi gen Z, bahkan sampai mengalami kekrisisan akan berpengaruh besar terhadap masa depannya. Banyaknya kekacauan akibat kepribadian yang labil dengan tingkah laku yang rusak, yang tak sedikit juga melakukan tindakan kriminal. Meluasnya berita-berita seputar kehidupan remaja yang tak jauh dari aksi kekerasan, pemerkosaan, tawuran, narkoba, dan lainnya.

Seperti kasus yang terjadi baru-baru ini, pelajar SMP berusia 15 tahun berinial N di Kabupaten Lampung Utara diperkosa 10 pria. Korban ditemukan dalam kondisi mengenaskan di sebuah gubuk di wilayah Lampung Utara. Polisi yang turun tangan mengamankan enam pelaku yakni AD, DA, R, AL alias IR, A dan MI. Sementara empat pelaku lainnya masih buron. Mirisnya, 3 dari 6 orang pelaku yang sudah ditangkap polisi atas kasus pemerkosaan siswi SMP di Lampung ini masih memiliki usia di bawah umur. (TVonenews,17/3/2024).

Sementara itu, di wilayah yang berbeda, terjadi aksi tawuran perang sarung antara remaja di Pangkalpinang. Dalam semalam, terdapat 3 lokasi perang sarung secara bersamaan. Lokasi perang sarung pertama terjadi di Jalan Gandaria 2, Kelurahan Kacangpedang, Pangkalpinang. Kemudian lokasi kedua perang sarung terjadi di Kelurahan Bukit Besar, sedangkan yang ketiga terjadi di Jembatan Jerambah Gantung. Total remaja yang diamankan oleh jajaran Polres Pangkalpinang dan Polda Kep. Bangka Belitung sebanyak 22 orang pelaku.

Semakin maraknya kasus kriminal yang menyangkut generasi, sebenarnya apa yang terjadi? Semakin kesini kerusakan generasi makin tidak terkendali. Bukankah semua yang terjadi ini akan sangat mengkhawatirkan aset masa depan bangsa, yang seharusnya bisa menjadi pendobrak peradaban yang gemilang, kini malah berpotensi sebagai "sampah" masyarakat yang akan merugikan semua pihak.

Kerusakan generasi mencerminkan gagalnya sistem pendidikan yang ada saat ini. Model kurikulum sekuler tak dapat mencetak generasi yang berkualitas. Faktor internal dan eksternal yang menyertainya semakin menambah dukungan rusaknya generasi. 

Faktor internal, para pemuda tidak tahu bahwa jati dirinya adalah sebagai seorang hamba. Sistem sekuler telah membuat krisisnya identitas mereka. Kebanyakan dari mereka tidak mengenal agamanya sendiri. Mereka memandang hidup hanya untuk bersenang-senang, apalagi budaya-budaya asing telah masuk kedalam pemikiran mereka, dengan gaya hidup yang hedonis dan liberal. Keinginan untuk menunjukkan eksistensi diri agar diakui ditengah masyarakat, tanpa arahan yang benar, membuat mereka mengambil jalan yang praktis dan mudah, tak peduli melanggar hukum atau tidak.

Sedangkan faktor eksternal berasal dari keluarga, lingkungan dan negara. Minimnya perhatian dan pengawasan orang tua yang tersibukkan dengan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan. Kebanyakan orang tua hanya berpikir agar bisa membiayai pendidikan sekolah anaknya sampai selesai, tanpa tahu perilaku anak seperti apa. Ditambah lingkungan masyarakat yang tidak peduli dengan kehidupan pribadi orang lain. Serta negara yang gagal melindungi generasi dari arus budaya asing, dan sistem pendidikan yang berbasis sekuler kapitalisme. 

Jika kondisi ini terus dibiarkan, apa jadinya bangsa ini? Tak sadar juga kah kita bahwa tidak ada sedikitpun kebaikan dalam sistem sekuler kapitalisme, yang solusinya tak menyelesaikan masalah sampai ke akarnya. Untuk menyelesaikan permasalahan ini, sistem kurikulum pendidikan yang berbasis sekuler kapitalis harus diganti dengan sistem pendidikan Islam. Dalam pandangan Islam, seorang anak harus di didik sejak dini, diberikan pemahaman bahwa jika sudah mencapai usia baligh, mereka akan menanggung akibat dari perbuatan mereka.

Sistem pendidikan Islam, semua kurikulumnya berbasis akidah Islam. Dengan metode pengajaran talkiyan fikriyan akan mampu mencetak generasi yang beriman bertakwa. Islam menjadikan generasi hebat yang mampu menggali potensinya. Peran keluarga, masyarakat dan negara bersatu dalam mewujudkannya. Menciptakan kepribadian Islam yang membangun konsep anak tentang penciptanya, yang membuat anak sadar dan melaksanakan semua perintah Allah Swt.

Bukti sistem pendidikan Islam yang telah berhasil mengukir kegemilangan generasi hebat sudah nyata adanya. Seperti Muhammad AlFatih yang mampu memimpin pasukan menaklukkan konstatinopel di usia 21 tahun, Mush'ab bin Umair yang menjadi duta pertama mengenalkan Islam kepada suku Aus dan Khajrat, Usamah bin Zaid yang menjadi panglima perang sepanjang masa, dan masih banyak contoh pemuda-pemuda dalam Islam yang telah menjadi penopang tegaknya  peradaban.

Oleh karena itu, untuk mewujudkannya, semua aspek kehidupan wajib diatur dengan aturan yang berasal dari sang pencipta. Yaitu aturan Islam, yang hanya bisa berjalan jika negara menerapkan sistem Islam dalam pemerintahannya. 
Wallahu'alam bishawab.


Share this article via

89 Shares

0 Comment