| 534 Views

Sistem Pendidikan Sekuler, Melahirkan Generasi Pragmatis

Oleh : Wakini
Aktivis Muslimah

Problem generasi muda saat ini makin kusut saja. Kasus perundungan, tawuran, penganiayaan, hingga pembunuhan seolah terus mewarnai pemberitaan media. Miris memang, generasi muda yang digadang-gadang sebagai pemimpin masa depan bangsa justru tak hentinya dijerat berbagai persoalan yang menyesakkan dada. Tidak bisa dipungkiri, kualitas pendidikan saat ini semakin menurun, hal itu ditandai dengan banyaknya fakta-fakta kerusakan generasi. Mulai dari pergaulan bebas, narkoba, bunuh diri dan lain-lain.

Seperti kasus bunuh diri yang terjadi pada Sulthan Nabinghah Royyan. Saat itu, Dia sedang menjalani masa ospek kampus. “Kami melaksanakan koordinasi terhadap Universitas IPB atas kegiatan korban yang masih masa ospek mahasiswa baru di Universitas IPB,” ujar Kapolsek Dramaga AKP Hartanto, kepada (Okezone, Rabu 7 Agustus 2024).

Masalah lain dari dunia pendidikan adalah mahalnya biaya pendidikan di Indonesia. Seperti baru-baru ini yaitu masalah kenaikan Uang Kuliah Tunggal (UKT), yang menjadi polemik bagi mahasiswa dan pihak kampus. Kenaikan UKT saat ekonomi kian sulit tentu membuat mayoritas orang tua semakin merasa berat. Pihak kampus mengklaim kenaikan ini untuk meningkatkan kualitas layanan kampus.(Tempo, 3-5-2024).

Rentatan fakta diatas disebabkan karena gagalnya sistem yang diterapkan saat ini yakni sistem kapitalis, dimana sistem ini mengusung kebebasan yang bahkan dijadikan pedoman dalam pembuatan kurikulum pendidikan. Siswa diberikan hak kebebasan dalam memilih apa yang disukai atau tidak disukai, bukan menjadikan hukum syara' sebagai landasan. Berkali-kali berganti kurikulum tidak menjadikannya sebagai solusi untuk menghasilkan output pendidikan yang berkepribadian mulia, malah sebaliknya krisis justru sedang menjamu para pelajar, perkelahian, perundungan sudah menjadi hal yang wajar yang sudah biasa kita jumpai dalam dunia pendidikan.

Sistem pendidikan yang diterapkan saat ini adalah sistem pendidikan sekuler yang melahirkan perilaku liberal (bebas). Sistem sekuler hanya berorientasi pada kerja dan materi minim dari orientasi pembentukan kepribadian mulia (Islam). Peserta didik sibuk mengejar materi dan segala hal yang mengikuti hawa nafsunya tidak dipahamkan bagaimana bersikap sesuai syariat dalam menyelesaikan persoalan hidupnya. Seperti kasus pembunuhan mahasiwa yang dilatarbelakangi masalah investasi kripto dan pinjaman online bernilai puluhan juta rupiah. Dari kasus ini tampak generasi mendambakan hidup mewah dengan cara instan. Mereka rela melakukan berbagai cara termasuk berutang riba demi mengikuti bisnis investasi digital yang transaksinya banyak mengandung keharaman. Di sisi lain, negara abai terhadap kerusakan generasi. Generasi hanya dipandang sebagai objek eksploitasi yang diarahkan untuk menghasilkan pundi-pundi uang bagi negara. Inilah dampak penerapan sistem pendidikan sekuler-kapitalis di negeri ini.

Akan tetapi mengganti kurikulum tidak memberikan pengaruh pada generasi. Hal ini menjadi wajar karena Negara kita berasaskan sekuler yang menjauhkan aturan agama dalam kehidupan. Serta aroma liberal yang dihembuskan dari sistem sekuler membuat kasus pembunuhan dan maraknya perundungan di institusi pendidikan mencerminkan rusaknya sistem pendidikan hari ini. Sistem pendidikan hari ini gagal mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Sehingga yang dihasilkanpun jauh dari harapan umat dan berbagai masalah di dunia pendidikan pun semakin marak.

Dalam sistem sekuler aturan agama hanya untuk ibadah ritual semata bukan untuk mengatur kehidupan yang sejatinya hidup butuh aturan dari yang menciptakan manusia bukan dari akal manusia. Berbeda dengan Sistem Pendidikan Islam yang menghasilkan individu berkepribadian Islam terbaik.

Terbentuknya generasi yang mempu menyelesaikan persoalan hidupnya juga didukung oleh sistem pendidikan Islam yang diterapkan khilafah. Tujuan pendidikan yang berasaskan akidah Islam adalah menciptakan generasi berkepribadian Islam yang menguasai tsaqofah Islam dan Iptek. Maka wajar saja khilafah akan mampu melahirkan generasi tangguh bukan generasi yang rapuh dan mudah menyerah. Khilafah akan memfasilitasi generasinya untuk menuntut ilmu, selain memberikan pendidikan gratis dan berkualitas. Khilafah juga menyiapkan orang tua untuk memiliki kemampuan mendidik generasi dengan cara dan tujuan yang benar.

Dalam Islam, negara berkewajiban mengatur segala aspek terkait pendidikan, mulai dari kurikulum hingga hak mendapat pendidikan yang layak bagi setiap warga negaranya.
Sarana dan prasarana sekolah hingga kesejahteraan guru pun di jamin oleh negara.
Oleh karena itu, untuk memecahkan problem pendidikan ini, negara semestinya mengambil islam sebagai solusi yang tepat. Tidak ada sistem pendidikan manapun selain Islam yang mampu mewujudkan peradaban yang cemerlang.

Wallahu a'lam bishowwab


Share this article via

140 Shares

0 Comment