| 32 Views
Sistem Pendidikan Sekuler Melahirkan Generasi Bermental Rapuh
Foto: Huffington Post)
Oleh : N. Istiqomah
Dalam beberapa pekan terakhir, ditemukan dua anak meninggal yang diduga akibat bunuh diri di Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.
Dan diberitakan pula di Kecamatan Barangin, Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, dua orang siswa SMP ditemukan bunuh diri di sekolah selama Oktober 2025 ini. Berdasarkan hasil penyelidikan sementara oleh kepolisian, tidak ada dugaan tindakan bullying dalam kedua kasus ini. Sementara di kampus, kasus bunuh diri mahasiswa juga hampir setiap tahun terjadi.
Fenomena siswa dan mahasiswa bunuh diri ini seolah menjadi ujung tertinggi dari adanya gangguan kesehatan mental pada pelajar/mahasiswa. Berdasarkan data yang diperoleh dari Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono (30/10/2025), bahwa Pada program pemeriksaan jiwa gratis terhadap sekitar 20 juta jiwa yang sudah diperiksa menunjukkan bahwa sekitar dua juta anak mengalami berbagai gangguan mental
Mengapa bunuh diri ?
Perlu diperhatikan bahwa meningkatnya angka bunuh diri di kalangan pelajar ini tidak semua disebabkan bullying. Berbagai fakta ini lebih menggambarkan adanya kepribadian yang rapuh pada remaja yang merupakan faktor pendorong mereka melakukan bunuh diri.
Anak yang tumbuh dengan kepribadian yang rapuh merupakan cerminan dari lemahnya dasar akidah anak. Kerapuhan ini adalah bagian dari diterapkannya pendidikan sekuler yang hanya sekedar memperhatikan prestasi fisik dan mengabaikan pengajaran agama. Agama hanya diajarkan sebatas teori saja tanpa meninggalkan pengaruh yang mampu menyatu pada diri anak.
Hal ini juga bagian dari adanya pengaruh terhadap paradigma batas usia anak, dimana dalam Pendidikan Barat anak usia 18 tahun baru disebut dewasa. Sehingga anak tidak dididik untuk menyempurnakan akalnya meskipun anak tersebut sudah memasuki usia baligh, bahkan seringkali mereka diperlakukan sebagai anak kecil.
Gangguan kesehatan mental mampu menjadikan remaja sanggup untuk mengakhiri hidupnya. Gangguan mental muncul dari berbagai persoalan yang terjadi, mulai dari ekonomi, btoken home, hingga tuntutan gaya hidup, dan sebagainya. Penyebab utama dari semua ini adalah penerapan sistem kapitalisme. Adanya berbagai faktor tersebut termasuk faktor non klinis juga mempengaruhi munculnya gangguan mental.
Faktor lain yang menjadi pemicu maraknya kasus bunuh diri adala paparan media sosial terkait bunuh diri dan komunitas sharing bunuh diri yang semakin banyak yang dapat mendorong remaja dan anak-anak makin rentan melakukan bunuh diri.
Pandangan Islam
Islam mampu membentuk anak kuat dalam bertahan menghadapi segala kesulitan dengan menekankan aqidah sebagai dasar pendidikan dalam keluarga, sekolah dan seluruh jenjang pendidikan. Artinya anak akan mampu mencari solusi terbaik dalam memecahkan setiap permasalahan yang dihadapinya. Sistem pendidikan Islam juga bertujuan untuk membentuk kepribadian Islam yang menyatukan pola pikir dan pola sikap Islam.
Dalam Islam Pendidikan anak sebelum baligh adalah pendidikan yang menyiapkan anak tumbuh dewasa dan matang kepribadiannya sesuai Islam sehingga ketika anak memasuki usia baligh, anak akan diarahkan untuk aqil
Penerapan Islam mencegah terjadinya gangguan mental, sekaligus memberikan solusi terhadap persoalan ini secara tuntas. Islam mampu mewujudkan kebaikan pada aspek non klinis, seperti jaminan kebutuhan pokok, keluarga harmonis, serta mampu memberikan arah hidup yang benar sesuai tujuan penciptaan.
Kurikulum pendidikan yang dijalankan Negara (Khilafah) memadukan penguatan kepribadian Islami (karakter) dengan penguasaan kompetensi ilmu. Sehingga akan terbentuk pelajar/remaja yang mampu menyikapi berbagai persoalan kehidupan dengan cara yang sesuai syariat.