| 220 Views

Sistem Kapitalisme Menghasilkan Generasi yang Rapuh

Oleh : Welly Okta Milpia

Lagi dan lagi, permasalahan perundungan dalam sistem pendidikan saat ini menjadi sorotan. Salah satunya adalah kasus bocah berinisial B (12) di Merangin, Jambi, yang menjadi pelaku tindak pidana asusila. Bocah tersebut menyodomi temannya yang masih berusia 9 tahun, berinisial A.

Pelaku telah diamankan oleh pihak kepolisian dan ditetapkan sebagai pelaku anak atas perbuatan menyimpangnya. Namun, ia tidak ditahan karena adanya Undang-Undang Perlindungan Anak. Kapolres Merangin, AKBP Roni Syahendra, menjelaskan bahwa kasus ini bermula dari laporan orang tua korban. Menindaklanjuti laporan tersebut, polisi segera mengamankan pelaku anak tersebut.

"Tim Unit PPA dan Tim Opsnal Satreskrim Polres Merangin telah mengamankan anak yang diduga melakukan sodomi. Karena masih di bawah umur, pada saat diamankan, anak tersebut didampingi oleh orang tuanya," ujar Roni pada Kamis (30/1/2025).

Kasus serupa tidak hanya terjadi di Jambi, tetapi juga di berbagai daerah lainnya. Kapolres menegaskan bahwa orang tua harus lebih waspada dalam menjaga anak-anaknya. Jika terjadi hal serupa, mereka harus segera melaporkannya kepada pihak kepolisian.

Permasalahan ini tidak bisa dilepaskan dari sistem pendidikan yang diterapkan. Kurikulum yang digunakan bukan kurikulum Islam, melainkan kurikulum kapitalisme, yang mengikis pemahaman tentang kewajiban negara, masyarakat, dan keluarga dalam membentuk generasi yang berakhlak. Ditambah lagi, tidak adanya aturan baku di tengah masyarakat semakin memperparah keadaan.

Fenomena Sistematis dari Peradaban Barat

Fenomena ini terjadi secara sistematis di tengah kekaguman masyarakat terhadap peraturan ala Barat. Namun, ironisnya, justru dari sana banyak muncul kasus asusila. Tidak hanya melibatkan masyarakat biasa, tetapi juga pesohor hingga pejabat tinggi. Bahkan, kandidat presiden AS, Donald Trump, pun terseret dalam kasus serupa.

Pada 2017, Rape, Abuse & Incest National Network (RAINN), sebuah organisasi antikekerasan seksual di Washington D.C., mengungkapkan bahwa di Amerika Serikat, kasus kekerasan seksual terjadi setiap 98 detik. Korbannya meliputi 80.600 tahanan, 18.900 personel militer, 60.000 anak-anak, dan 321.500 warga sipil. Jumlah ini terus meningkat dan menjadi fenomena gunung es karena banyak korban yang tidak melaporkan kejadian yang menimpa mereka.

Salah satu kegagalan terbesar dalam menyelesaikan permasalahan ini adalah kesalahan dalam menemukan akar masalahnya. Maraknya kasus asusila pada anak adalah hasil dari penerapan sistem sekuler liberal. Bagaimana mungkin kita berharap pada sistem hukum seperti ini? Berulangnya kasus serupa seharusnya menjadi pelajaran bahwa sistem ini keliru. Kapitalisme dengan kejamnya mengikis fondasi paling mendasar dalam kehidupan manusia, yaitu keimanan serta pemberlakuan syariat Islam.

Islam sebagai Solusi Pendidikan

Pendidikan seharusnya menjadi hak rakyat yang wajib dipenuhi oleh negara. Dalam Islam, menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap individu Muslim. Rasulullah bersabda:

"Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim."
(Shahih, HR. Baihaqi dan lainnya dari Anas. Dishahihkan oleh Al-Albani, lihat Shahihul Jami’ no. 3913).

Dalam sistem Islam, negara bahkan memberikan penghargaan luar biasa kepada anak-anak yang berkarya dalam ilmu pengetahuan. Pada masa kejayaan Islam, seorang anak yang menulis buku diberi hadiah emas setebal bukunya. MasyaAllah! Selain itu, negara juga menyediakan berbagai fasilitas pendidikan, seperti laboratorium, gedung sekolah, perpustakaan, dan fasilitas penunjang lainnya.

Fokus utama dalam pendidikan Islam adalah aspek keimanan dan ketakwaan. Dengan demikian, anak didik dan masyarakat akan selalu mengaitkan setiap peristiwa dalam kehidupan mereka dengan iman dan takwa. Tujuan pendidikan dalam Islam adalah membentuk individu yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, memiliki karakter kuat, serta menguasai ilmu pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan dalam kehidupan.

Sudah saatnya kita kembali menengok kejayaan Islam dan masa kegemilangan dunia pendidikan di bawah kekhilafahan selama kurang lebih 14 abad. Pada masa Khalifah Harun Al-Rasyid, misalnya, dunia Islam melahirkan banyak ilmuwan besar dalam berbagai bidang:
Filsafat: Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Bajah, Ibnu Tufail, Ibnu Sina, Al-Ghazali, Ibnu Rusyd. 
Kedokteran: Jabir Ibnu Hayyan, Hunain bin Ishaq, Tabib bin Qurra, Ar-Razi. 
Matematika: Al-Khawarizmi. 
Astronomi: Al-Fazari, Al-Battani.

Menjadikan Islam sebagai Dasar Kehidupan

Islam menjadikan akidah sebagai asas kehidupan dalam segala aspek, termasuk dalam membina generasi. Pendidikan Islam membangun ketakwaan individu sehingga mereka senantiasa taat terhadap aturan Allah.

Dalam Islam, naluri seksual adalah potensi alami dalam diri manusia, tetapi harus diatur dengan hukum yang jelas. Negara berkewajiban melindungi rakyat dari berbagai informasi atau konten yang dapat merusak moral masyarakat. Oleh karena itu, negara harus mengontrol sirkulasi informasi di media serta membersihkannya dari konten yang dapat menyesatkan pikiran dan perasaan masyarakat.

Sudah cukup kita menyaksikan dampak buruk sistem kapitalisme yang terus menciptakan generasi rapuh. Saatnya kembali kepada Islam sebagai satu-satunya solusi hakiki bagi pendidikan dan kehidupan umat manusia.


Share this article via

124 Shares

0 Comment