| 326 Views
Sengkarut Ibadah Haji: Mau Ibadah, Kok Dibuat Susah?
Oleh : Bella Lutfiyya
Aktivis Muslimah
Bulan Dzulhijjah, dikenal dengan Bulan Haji. Salah satu ibadah dalam Rukun Islam yang sangat diinginkan oleh para Muslim. Bagaimana tidak? Siapa yang tidak ingin menjadi tamu Allah di tanah suci? Oleh karenanya, banyak orang Muslim yang berupaya keras untuk melaksanakan ibadah ini. Dari segi finansial, kesehatan, serta kemampuan dipersiapkan dengan matang. Tidak sedikit pula yang telah berjuang bertahun-tahun lamanya untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah agar bisa terkumpul dana untuk ibadah haji. Memang ibadah haji itu bukan hal yang murah.
Tentunya, banyak harapan dan ekspektasi dari para calon jemaah haji saat melaksanakan ibadah. Kenyamanan adalah salah satu aspeknya. Namun, sudah berapa tahun ada saja keluhan yang terkabarkan oleh media. Sampai saat ini, ibadah haji masih menyisakan banyak permasalahan dalam berbagai aspek, mulai dari kesehatan, imigrasi, hingga pelayanan Jemaah. Penyelenggaraan ibadah haji 2024 menuai kritik tajam yang berbuntut keluhan dari banyak jemaah Indonesia atas pelayanan yang cenderung memperihatinkan.
Ketua Timwas Haji, Muhaimin Iskandar atau Cak Imin menyayangkan pemakaian tenda sempit yang membuat ruang gerak jemaah menjadi terbatas. Kondisi ini mengakibatkan banyak jemaah yang tidak kebagian tempat tidur di dalam tenda. Tak cuma masalah tenda, kondisi toilet juga menjadi keluhan jemaah Indonesia lantaran banyaknya antrean. Pengamat haji dari UIN Syarif Hidayatullah, Ade Marfuddin menyoroti fasilitas layanan haji yang disediakan oleh pemerintah tidak sebanding dengan biaya besar yang sudah dikeluarkan Jemaah (cnnindonesia.com, Juni 2024).
Pertanyaannya, mengapa hal ini terus berulang? Padahal Indonesia adalah salah satu negara dengan jumlah jemaah haji terbanyak. Namun, mengapa selalu saja ada persoalan dalam pelaksanaan haji setiap tahunnya? Inilah buah komersialisasi pengurusan sebagai akibat sistem kapitalisme yang diterapkan saat ini. Penyelenggaraan ibadah tak luput dari ajang bisnis kelompok tertentu yang kemudian berdampak pada ketidaknyamanan jamaah dalam beribadah di tanah suci.
Menyikapi hal ini, Ketua MPR RI, Bambang Soesatyo atau Bamsoet menegaskan, MPR meminta Kemenag dan PPIH agar dapat memperbaiki persoalan yang terjadi di Mina dengan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap penyelenggaraan Ibadah Haji 2024. Harapannya, persoalan atau masalah yang terjadi di Tanah Suci tidak berulang pada penyelenggaraan ibadah haji tahun berikutnya sehingga jemaah dapat beribadah secara nyaman dan aman (kabar24.bisnis.com, Juni 2024).
Sejatinya tanggapan ini pun sudah sering kita dengar setiap tahunnya. Namun hanya berujung evauasi saja, tanpa ada tindakan untuk memberikan solusi. Lantas apa akar masalah dari ibadah haji ini?
Akar permasalahan ibadah haji adalah ketidakmampuan pemerintah dan pengelola dalam mempertanggungjawabkan apa yang diamanahkan. Negara harusnya berperan sebagai ra’in, pelayan rakyat. Para jemaah adalah tamu-tamu Allah, tamu istimewa. Orang-orang ini telah bertarung dengan keringat dan air mata untuk bisa melaksanakan ibadah ini. Jangan jadikan ibadah mereka sia-sia. Modal berjuta-juta, tapi fasilitas yang didapat tak terduga. Apakah masuk akal dengan memberikan tenda 1 meter saja?
Dari sini, dapat dibuktikan bahwa banyak orang di pemerintahan tidak amanah dalam mengemban tugas. Amanah adalah ciri pemimpin dalam Islam, karena dibangun atas kesadaran akan adanya hari penghisaban kelak. Selain itu, Islam juga memiliki mekanisme/birokrasi yang sederhana dan praktis serta professional, sehingga memberi kenyamanan pada rakyat.
Pemerintah harus berkaca kembali. Meneladani setiap perilaku dan keimanan pemimpin di masa lalu, masa kejayaan Islam. Para pemimpin saat itu, sangat takut apabila tidak bisa memberikan pelayanan terbaik untuk rakyat. Para pemimpin saat itu, percaya dengan hari saat setiap perilaku dihisab. Para pemimpin saat itu, sangat takut kepada Allah, sangat takut Allah murka, sehingga mereka berlomba-lomba mencari ridha Allah, berbuat baik sebanyak-banyaknya, mengemban tugas dengan optimal. Mari kita ubah pemikiran kita. Jadikan pemimpin terdahulu sebagai teladan.
Ibadah haji bukanlah ibadah yang main-main. Mari sama-sama melaksanakan tugas masing-masing dengan baik. Pemerintah memberikan pelayanan terbaik dan para jamaah melaksanakan haji dengan taat pada aturan, sehingga keduanya sama-sama dalam kebaikan, terkhusus di mata Allah SWT.[]