| 5 Views
Selain Penerbangan, Sektor Apa Lagi di Indonesia yang “Melemah” akibat Perang AS–Iran?
CendekiaPos - JAKARTA — Dampak perang AS–Iran ke Indonesia tidak berhenti di pembatalan dan pengalihan rute penerbangan. Begitu konflik memanas dan risiko di jalur energi global meningkat (terutama jika Selat Hormuz terganggu), efeknya merembet ke banyak lini bisnis: dari BBM dan logistik sampai manufaktur, ekspor, pasar modal, dan pariwisata.
Berikut sektor-sektor yang paling cepat terasa terdampak (di luar penerbangan), berdasarkan pernyataan pemerintah, pemantauan lembaga, dan laporan media ekonomi terkini.
1) Energi: BBM, biaya subsidi, dan tekanan harga domestik
Sektor pertama yang paling sensitif adalah energi. Pemerintah mengakui ketegangan Timur Tengah bisa mendorong kenaikan harga BBM di dalam negeri. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut ketegangan bisa berdampak pada naiknya harga BBM.
Di sisi korporasi, Pertamina juga mengingatkan potensi dampak konflik terhadap pasokan/harga, terutama bila jalur perdagangan strategis terganggu.
Efek bisnisnya:
-
biaya operasional perusahaan berbasis transportasi naik (logistik, kurir, travel darat),
-
margin usaha tertekan (karena biaya energi naik lebih dulu daripada harga jual),
-
beban fiskal berpotensi meningkat jika pemerintah menambah subsidi/kompensasi.
2) Logistik & rantai pasok: ongkos impor–ekspor naik, lead time memanjang
Jika Selat Hormuz terganggu, dampaknya bukan cuma minyak. Kontan menulis penutupan/terganggunya jalur ini menghambat arus kapal dagang dan bisa mengganggu distribusi barang impor–ekspor serta menaikkan biaya logistik.
Mendag juga menyatakan pemerintah mengantisipasi dampak konflik terhadap ekspor karena kenaikan biaya logistik internasional, dan mendorong diversifikasi pasar ekspor.
BPS pun menyampaikan sedang mengkaji potensi dampak terhadap perdagangan Indonesia bila jalur Hormuz terganggu.
Efek bisnisnya:
-
biaya freight & asuransi naik → harga impor bahan baku ikut naik,
-
keterlambatan pengiriman → produksi industri bisa tersendat,
-
eksportir menghadapi biaya logistik lebih mahal → daya saing turun.
3) Manufaktur: paling rentan karena energi & biaya produksi
Salah satu sektor yang paling rentan disebut langsung adalah manufaktur. Koran Jakarta mengutip Mendag bahwa manufaktur rentan karena pengolahan masih bergantung pada energi (sebagian dipenuhi impor), sehingga kenaikan ongkos produksi berisiko menekan margin atau mendorong kenaikan harga barang, dan akhirnya menurunkan daya saing.
Efek bisnisnya:
-
industri intensif energi (kimia, kaca, baja, semen) paling cepat tertekan,
-
produksi yang mengandalkan bahan baku impor kena “double hit”: biaya energi + biaya logistik.
4) Pasar keuangan: rupiah tertekan, IHSG volatil
Ketika konflik memanas, investor cenderung mengurangi aset berisiko. Antara melaporkan IHSG melemah dan sorotan pasar tertuju pada durasi konflik, stabilitas Hormuz, dan arah harga minyak.
Bank Indonesia juga menyatakan menjaga stabilitas rupiah di tengah konflik, dan Tempo mencatat rupiah berada di sekitar Rp16.820 per dolar AS pada 2 Maret 2026 (pagi).
Efek bisnisnya:
-
biaya impor naik karena kurs melemah (bahan baku, mesin, komponen),
-
perusahaan dengan utang valas lebih rentan,
-
investasi portofolio bisa keluar-masuk cepat → pasar saham lebih liar.
5) Pariwisata & perjalanan: permintaan melemah karena “fear factor”
Kontan menulis pariwisata Indonesia berpotensi terdampak bila eskalasi meluas dan memicu kekhawatiran global.
Dampaknya tidak hanya wisata mancanegara, tetapi juga MICE (meeting/incentive/conference/exhibition) dan perjalanan bisnis, karena perusahaan cenderung menahan biaya perjalanan ketika ketidakpastian naik.
6) Harga pangan: tekanan inflasi dari ongkos distribusi
Kenaikan BBM dan ongkos logistik biasanya cepat merembet ke harga pangan—bukan karena barangnya langka, tetapi karena biaya distribusi dan cold chain naik. Celios (dikutip media) menilai perang berisiko mendorong kenaikan BBM dan harga bahan pangan, sekaligus menekan rupiah.